Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 158
DUA PENJAGA KECIL
Sebuah suara tawa kecil terdengar di dekat telinga Fiona.
“Hi… hi….”
Fiona mengerutkan kening dalam tidurnya.
Suara itu kembali terdengar.
Kali ini lebih dekat.
“Bangun…”
Fiona perlahan membuka matanya.
Cahaya lembut menyentuh wajahnya.
Ia berkedip beberapa kali.
Kemudian—
ia terdiam.
Ia kembali berada di tempat itu.
Di bawah pohon kristal.
Daunnya berkilauan seperti kaca yang terkena cahaya.
Bunga-bunga kristal memenuhi seluruh taman.
Berwarna-warni.
Indah.
Dan jauh di hadapannya—
istana kristal masih terlihat di balik taman.
Namun kali ini—
Fiona tidak sendirian.
Dua makhluk kecil sedang terbang di dekat wajahnya.
Fiona langsung mengenali salah satunya.
Makhluk kecil yang selalu muncul dalam mimpinya.
Namun sekarang—
ia membawa seorang teman.
Keduanya terbang mengelilingi Fiona sambil tertawa kecil.
Fiona bangkit dari bawah pohon.
“Kalian berdua?”
Kedua peri kecil itu tertawa.
Yang satu terbang mengitari kepalanya.
Yang lainnya berputar di depan wajahnya.
Fiona tersenyum.
“Kalian mau apa?”
Tidak ada jawaban.
Sebaliknya—
keduanya terbang turun.
Salah satunya memegang kain di pergelangan tangan Fiona.
Yang satunya lagi melakukan hal yang sama pada tangan lainnya.
Fiona terkejut.
“Eh?”
Kedua peri kecil itu mulai menariknya.
Perlahan.
Seolah meminta Fiona mengikuti mereka.
Fiona melihat ke arah istana kristal.
Kemudian kembali melihat kedua makhluk kecil itu.
“Kalian mau membawaku ke sana?”
Mereka tertawa lagi.
Fiona akhirnya berdiri.
“Baiklah.”
Ia mengikuti.
***
Taman kristal terbentang di sepanjang jalan.
Bunga-bunga berkilauan di kedua sisi.
Setiap langkah Fiona membuat cahaya kecil muncul dari tanah.
Dua peri kecil itu terus menarik kedua tangannya.
Kadang mereka terbang ke depan.
Kemudian kembali untuk memastikan Fiona masih mengikuti.
Fiona tertawa kecil.
“Kalian benar-benar terburu-buru.”
Mereka tidak berhenti.
Semakin dekat—
istana kristal itu terlihat semakin besar.
Menara-menara kristalnya menjulang tinggi.
Cahaya lembut mengalir di sepanjang dinding.
Fiona menatapnya dengan kagum.
Ia sudah melihat istana itu berkali-kali dalam mimpinya.
Namun kali ini—
rasanya berbeda.
Seolah-olah tempat itu benar-benar sedang menunggunya.
Akhirnya mereka tiba di depan pintu utama.
Dua peri kecil itu berhenti.
Mereka melepaskan tangan Fiona.
Kemudian terbang ke depan pintu.
Fiona berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Ia menatap pintu besar yang terbuat dari kristal.
Tangannya perlahan terangkat.
“Jadi…”
Ia melangkah mendekat.
“Kalian ingin aku masuk?”
Kedua peri kecil itu berputar dengan gembira.
Fiona tersenyum.
Kemudian tangannya hampir menyentuh pintu—
***
“Cuit! Cuit!”
Fiona membuka mata.
Ia terdiam.
Suara burung terdengar dari luar jendela kamarnya.
Cahaya pagi masuk melalui celah tirai.
Fiona berkedip.
“…Pagi?”
Ia menatap langit-langit.
Kemudian perlahan mengingat mimpinya.
Pohon kristal.
Taman bunga.
Istana.
Dan—
dua peri kecil.
Fiona duduk di tempat tidur.
“Dua sekarang…”
Ia mengusap wajahnya.
Kemudian tertawa kecil.
“Dan mereka hampir membawaku masuk.”
Fiona memandang ke arah jendela.
Burung-burung masih berkicau.
Ia tersenyum.
Namun rasa penasaran mulai memenuhi pikirannya.
Apa yang sebenarnya ada di balik pintu itu?
Dan mengapa kedua makhluk kecil itu begitu ingin membawanya ke sana?
Fiona tidak tahu.
Ia hanya tahu satu hal.
Jika mimpi itu datang lagi—
ia ingin melihat apa yang ada di balik pintu tersebut.
