Completed
594
BAB 505 — PAGI YANG TIDAK TERDUGA
Malam telah terlalu panjang.
Ruang penyembuhan kerajaan Veyth yang biasanya dipenuhi aktivitas kini terasa hampir tidak bergerak.
Tidak ada lagi suara perintah yang tergesa-gesa.
Tidak ada lagi penyembuh yang berlari mengambil ramuan.
Tidak ada lagi suara halaman buku yang dibalik dengan panik.
Semua yang bisa dilakukan...
telah dilakukan.
Berulang kali.
Selama berhari-hari.
Dua pasangan dari Veyth dan Lunaris yang terdiri dari para penyembuh serta penyihir pendukung duduk tersebar di dalam ruangan.
Beberapa bersandar di dinding.
Beberapa duduk di lantai.
Sebagian hanya menundukkan kepala sambil menatap Fiona.
Edward dan Gloria berada tidak jauh dari ranjang.
Sylvester duduk dengan sebuah buku tua yang sudah tertutup di tangannya.
Elarion dan Elyon berada di sisi meja penelitian.
Namun bahkan mereka tidak sedang membaca.
Tidak ada lagi halaman yang perlu dibuka.
Tidak ada lagi formula yang belum dicoba.
Darrien...
masih berada di tempat yang sama.
Di sisi ranjang Fiona.
Tangannya menggenggam tangan wanita itu.
Seperti yang dilakukannya selama berhari-hari.
Tidak jauh dari mereka, beberapa anggota Veyth lainnya duduk dalam keheningan.
Malam itu...
tidak ada seorang pun yang membicarakan Shadowcresent.
Tidak ada yang membicarakan Raizen.
Tidak ada yang membicarakan perjalanan mereka.
Semua masalah yang sebelumnya terasa begitu besar...
mendadak menjadi tidak berarti.
Karena ada satu hal yang jauh lebih penting.
Fiona masih belum bangun.
Elarion akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Sudah terlalu banyak.”
Elyon menatapnya.
“Apa?”
“Percobaan.”
Elarion menatap Fiona.
“Kita sudah menggunakan terlalu banyak teknik.”
Dia melirik botol-botol kosong di meja.
“Ramuan.”
Kemudian buku-buku.
“Catatan kuno.”
Lalu Sylvester.
“Bantuan Lunaris.”
Sylvester menundukkan pandangan.
“Dan semuanya hanya mempertahankan kondisinya.”
Tidak ada yang menyangkal.
Karena memang begitu.
Luka Fiona telah membaik.
Sedikit demi sedikit.
Perdarahan sudah hampir tidak ada.
Detak jantungnya sudah jauh lebih stabil.
Tubuhnya tidak lagi berada dalam kondisi kritis seperti hari pertama.
Namun...
dia tetap tidur.
Tidak membuka mata.
Tidak memberikan respons.
Tidak mengatakan apa pun.
Darrien menundukkan kepala.
Tangannya masih berada di atas tangan Fiona.
“Setidaknya... dia masih di sini.”
Suaranya sangat pelan.
Elarion memandangnya.
Darrien tersenyum tipis.
“Jadi aku tidak akan pergi.”
Tidak ada yang menyuruhnya pergi.
Tidak ada yang berpikir dia akan pergi.
Semua orang sudah tahu.
Darrien akan tetap duduk di sana selama Fiona belum membuka mata.
Bahkan jika pagi datang.
Bahkan jika malam berikutnya tiba.
Bahkan jika berhari-hari lagi berlalu.
Tidak ada seorang pun yang berniat kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Bukan karena mereka tidak lelah.
Mereka sangat lelah.
Tetapi tidak ada yang sanggup meninggalkan ruangan itu.
Bahkan untuk tidur.
Karena bagaimana jika...
Fiona membuka matanya saat mereka tidak ada?
***
Malam semakin dalam.
Jam terus berjalan.
Darrien menatap wajah Fiona.
“Fiona...”
Tidak ada jawaban.
“Kalau kau masih ingin tidur...”
Dia berhenti sebentar.
“...aku tidak akan memaksamu.”
Matanya terlihat lelah.
Namun suaranya tetap lembut.
“Tapi kalau kau sudah selesai berpikir...”
Jarinya bergerak sedikit.
“...kami semua masih menunggumu.”
Kemudian—
**ting.**
Suara kecil terdengar.
Sangat kecil.
Hampir tidak terdengar.
Darrien mengangkat kepalanya.
“Apa itu?”
Tidak ada yang menjawab.
**Ting.**
Suara kedua.
Kali ini lebih jelas.
Semua mata bergerak menuju lantai.
Di bawah ranjang Fiona...
sebuah cahaya tipis muncul.
Sebuah lingkaran.
Bukan lingkaran sihir penyembuhan yang mereka gunakan sebelumnya.
Bukan milik Veyth.
Bukan milik Lunaris.
Cahayanya berwarna keperakan.
Lembut.
Namun semakin terang.
Sylvester langsung berdiri.
“Apa itu...?”
Elarion ikut bangkit.
“Jangan sentuh.”
Elyon menatap simbol yang mulai muncul di lantai.
Matanya melebar.
“Bukan.”
Elarion menoleh.
“Apa?”
Elyon menunjuk ke tengah lingkaran.
“Lihat simbolnya.”
Semua orang melihat.
Simbol itu mulai terbentuk.
Garis-garis kuno menyusun pola.
Daun-daun kecil.
Lingkaran cahaya.
Dan sebuah lambang yang sangat familiar.
Bukan lambang Veyth.
Bukan lambang Lunaris.
Bukan simbol penyembuhan yang mereka kenal.
Sylvester mendekat satu langkah.
Wajahnya berubah.
“Itu...”
Dia berhenti.
“Simbol Fiona.”
Darrien berdiri.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
Karena cahaya itu tiba-tiba membesar.
**WHOOOM—!**
Seluruh ruangan dipenuhi cahaya keperakan.
Semua orang secara refleks menutup mata.
Rambut dan pakaian mereka bergerak tertiup energi yang keluar dari lingkaran.
Namun tidak ada rasa sakit.
Tidak ada tekanan.
Hanya...
cahaya.
Cahaya yang terasa sangat murni.
Sangat familiar.
Sangat...
Fiona.
Darrien membuka matanya perlahan.
“...Apa?”
Tubuh Fiona masih terbaring.
Namun lingkaran perak itu sekarang telah mengelilinginya.
Simbol-simbol mulai bergerak.
Satu demi satu.
Kemudian cahaya turun ke tubuh Fiona.
Luka yang selama berhari-hari mereka perjuangkan...
mulai berubah.
Satu garis luka menutup.
Kemudian garis berikutnya.
Darah yang tersisa menghilang.
Jaringan yang rusak mulai pulih.
Magicure Fiona yang sebelumnya kacau perlahan menjadi stabil.
Semua orang membeku.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berani berbicara.
Karena apa yang mereka lihat...
seharusnya membutuhkan waktu berhari-hari.
Namun terjadi dalam hitungan menit.
Elarion menatap dengan mata terbuka lebar.
“Tidak mungkin...”
Elyon tidak menjawab.
Sylvester bahkan lupa bernapas sesaat.
Zeith dan Seraphine hanya menatap.
Darrien...
tidak mengatakan apa pun.
Dia hanya melihat Fiona.
Cahaya semakin terang.
Kemudian—
perlahan...
meredup.
Lingkaran perak menghilang.
Ruangan kembali sunyi.
Benar-benar sunyi.
Tidak ada satu pun suara.
Semua orang menatap ranjang.
Fiona masih terbaring diam.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Darrien perlahan mendekat.
“Fiona...?”
Kelopak mata Fiona bergerak.
Semua orang membeku lagi.
Kemudian...
perlahan...
matanya terbuka.
Fiona menarik napas panjang.
Udara memenuhi paru-parunya.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari...
dia bernapas sendiri.
Matanya bergerak perlahan.
Melihat langit-langit.
Kemudian ke kiri.
Ke kanan.
Satu demi satu wajah muncul dalam pandangannya.
Darrien.
Elarion.
Elyon.
Edward.
Gloria.
Zeith.
Seraphine.
Sylvester.
Para penyembuh Veyth.
Para penyembuh Lunaris.
Semua...
menatapnya.
Tidak ada yang berbicara.
Fiona berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Dia menatap mereka dengan ekspresi sedikit bingung.
Kemudian mencoba duduk.
Darrien langsung membantu menopang tubuhnya.
“Pelan—”
“Aku baik-baik saja.”
Suara Fiona terdengar serak.
Semua orang masih diam.
Fiona memandang mereka.
Satu ruangan penuh orang.
Semua dengan wajah lelah.
Semua terlihat seperti baru saja kehilangan beberapa tahun umur mereka dalam sembilan hari terakhir.
Fiona mengerjapkan mata.
Kemudian...
entah mengapa...
dia tersenyum kecil.
“Morning...”
Tidak ada jawaban.
Fiona menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Ekspresinya perlahan berubah canggung.
“...Kenapa semuanya diam?”
Darrien masih membeku.
Tangannya masih berada di bahu Fiona.
Matanya perlahan memerah.
Dia menatap wanita yang selama berhari-hari tidak memberikan satu pun respons.
Kemudian memastikan sekali lagi...
Fiona benar-benar duduk di depannya.
Benar-benar bernapas.
Benar-benar membuka mata.
Darrien mengembuskan napas yang bahkan tidak dia sadari selama ini dia tahan.
“Fiona...”
Suaranya pecah.
Fiona menatapnya.
“Hmm?”
Darrien menundukkan kepala.
Bahu pria itu bergetar sedikit.
Dia tertawa kecil.
Namun bersamaan dengan itu...
air mata jatuh.
Satu.
Kemudian satu lagi.
Fiona menatapnya beberapa saat.
Kemudian ekspresinya melunak.
“Darrien...”
Darrien langsung memeluknya.
Tidak terlalu keras.
Seolah takut tubuh Fiona masih rapuh.
Fiona diam dalam pelukannya.
Lalu perlahan mengangkat tangannya...
dan membalas pelukan itu.
Ruangan tetap sunyi.
Namun kali ini...
bukan karena ketakutan.
Melainkan karena semua orang sedang mencoba mempercayai apa yang baru saja mereka lihat.
Fiona sudah bangun.
Dan yang lebih mengejutkan...
luka yang selama berhari-hari tidak mampu mereka sembuhkan...
telah menghilang.
Namun keheningan itu tidak bertahan lama.
Elarion akhirnya membuka mulut.
“Fiona, ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan.”
Elyon langsung ikut menatap.
“Bukan hanya beberapa.”
Sylvester mengangkat buku tuanya.
“Kami membutuhkan penjelasan tentang ritual tadi.”
Zeith melangkah mendekat.
“Aku juga ingin mengetahui—”
Seraphine menyentuh lengannya.
“Pelan.”
Darrien bahkan belum melepaskan Fiona.
Dia menatap semua orang.
Kemudian berkata dengan tenang,
“Besok.”
Semua terdiam.
Elarion berkedip.
“Besok?”
“Dia baru bangun.”
Darrien menunjuk Fiona.
“Dia belum perlu menjawab apa pun malam ini.”
Elyon membuka mulut.
“Tapi—”
“Besok.”
Kali ini Darrien sedikit lebih tegas.
Fiona sendiri menatap mereka satu per satu.
Kemudian melihat wajah mereka yang kelelahan.
Baru saat itulah dia benar-benar menyadari sesuatu.
“...Kalian belum tidur?”
Tidak ada yang menjawab.
Fiona menatap mereka.
Satu.
Dua.
Tiga detik.
“Serius?”
Elarion mengalihkan pandangan.
Elyon pura-pura melihat bukunya.
Sylvester berdeham.
Edward dan Gloria saling berpandangan.
Zeith menghela napas.
Seraphine hanya tersenyum tipis.
Fiona menghela napas panjang.
“Kalian semua pulang dan tidur.”
“Tapi—”
“Besok.”
Fiona mengulang kata Darrien.
Darrien menatapnya.
Untuk sesaat...
mereka saling pandang.
Kemudian Darrien tersenyum kecil.
“Dia benar.”
Elarion menghela napas.
“Baiklah.”
Elyon menutup bukunya.
“Pertanyaan bisa menunggu.”
Sylvester memasukkan buku kuno itu kembali ke dalam tas.
“Besok.”
Para penyembuh Lunaris mulai berdiri.
Para penyembuh Veyth juga bangkit satu per satu.
Edward dan Gloria akhirnya meninggalkan ruangan bersama Zeith dan Seraphine.
Namun sebelum pergi, Gloria berhenti dan menatap Fiona.
“Selamat datang kembali.”
Fiona tersenyum lembut.
“Terima kasih.”
Pintu perlahan tertutup.
Satu demi satu...
ruangan menjadi kosong.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari...
Fiona tidak lagi dikelilingi puluhan orang yang panik.
Hanya Darrien yang masih berada di sampingnya.
Fiona menatapnya.
“Kau juga.”
Darrien mengangkat alis.
“Apa?”
“Tidur.”
Darrien terdiam.
Fiona menatapnya serius.
“Sekarang.”
Darrien akhirnya tertawa kecil.
“Baik.”
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari...
dia bisa tertawa tanpa rasa takut.
Dan malam itu...
tidak ada pertanyaan.
Tidak ada penelitian.
Tidak ada sihir.
Tidak ada perang.
Tidak ada Shadowcresent.
Hanya satu hal yang penting.
Fiona sudah kembali.
Sisanya...
bisa menunggu sampai besok.
Share this novel