Series
94
BAB 97
CAHAYA YANG KEMBALI
Veyra mulai diselimuti cahaya senja.
Fiona berjalan di samping Darrien dengan senyum yang tidak pernah benar-benar hilang sejak keluar dari toko perhiasan.
Tangannya sesekali menyentuh daun perak yang kini tergantung di lehernya.
“Masih melihatnya?”
Darrien tersenyum.
“Sepertinya kau menyukainya.”
“Tentu saja.”
Fiona mengangkat daun itu sedikit.
“Sekarang aku tidak perlu menyimpannya di dalam tas lagi.”
Darrien memperhatikannya.
“Cocok denganmu.”
Fiona tersenyum puas.
“Kalau begitu aku tidak akan melepasnya.”
Ia tidak tahu—
keputusan sederhana itu baru saja mengubah sesuatu yang jauh dari Veyra.
***
Jauh di sebelah wilayah Lunareth—
berdiri sebuah kerajaan yang telah lama dikenal sebagai rumah bangsa Light Elf.
**Kerajaan Lunaris.**
Kerajaan itu berbeda dari banyak wilayah lain di Lunareth.
Hutan-hutan putih mengelilingi kota kerajaan.
Menara-menara kristal menjulang di antara pepohonan.
Dan jauh di dalam istana—
terdapat sebuah tempat yang bahkan sebagian besar bangsawan tidak diperbolehkan memasukinya.
Ruang Kristal Kerajaan.
Di sanalah sebuah kristal besar berdiri.
Kristal itu telah berada di sana selama ratusan tahun.
Namun selama bertahun-tahun terakhir—
cahayanya telah meredup.
Hampir padam.
Tidak ada seorang pun yang tahu mengapa.
Hanya satu hal yang diketahui.
Kristal tersebut merupakan peninggalan garis keturunan kerajaan.
Dan selama pewarisnya tidak ditemukan—
cahayanya tidak pernah kembali.
***
Sylvester sedang melakukan pemeriksaan seperti biasa.
Ia adalah penjaga yang telah dipercaya untuk menjaga Ruang Kristal Kerajaan.
Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa melihat kristal itu dalam keadaan suram.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada reaksi.
Hanya permukaan kristal yang dingin dan pucat.
Namun sore itu—
Sylvester berhenti berjalan.
Ia menatap kristal.
Sebuah cahaya kecil muncul di dalamnya.
Sangat samar.
Hampir tidak terlihat.
Sylvester membeku.
“…Apa?”
Ia mendekat.
Cahaya itu menghilang.
Sylvester mengerutkan kening.
Mungkin hanya pantulan.
Ia berbalik.
Kemudian—
**berkedip.**
Cahaya itu muncul lagi.
Kali ini lebih jelas.
Sylvester langsung kembali ke depan kristal.
Tangannya gemetar.
“Tidak mungkin…”
Ia sudah menjaga tempat ini selama bertahun-tahun.
Ia tahu bagaimana kristal itu seharusnya terlihat.
Dan cahaya ini—
tidak mungkin salah.
Sylvester berlari keluar dari ruang kristal.
Ia bahkan tidak sempat merapikan jubahnya.
Para penjaga yang melihatnya langsung terkejut.
“Tuan Sylvester?”
“Buka jalan!”
“Apa yang terjadi?”
Sylvester tidak menjawab.
Ia terus berlari menuju aula kerajaan.
***
Pintu aula kerajaan terbuka dengan keras.
Raja dan Ratu yang sedang berbicara langsung menoleh.
Raja Zeith mengangkat alis.
“Sylvester?”
Ratu Seraphine berdiri.
“Ada apa?”
Sylvester berlutut.
Napasnya masih berat.
“Yang Mulia…”
Zeith mengerutkan kening.
“Tenangkan dirimu.”
Sylvester mengangkat kepala.
Matanya dipenuhi sesuatu yang sudah lama tidak terlihat dalam dirinya.
Harapan.
“Kristal kerajaan…”
Seraphine langsung menegang.
“Ada apa dengan kristal?”
Sylvester menarik napas.
“Kristal itu menyala.”
Ruangan langsung sunyi.
Zeith berdiri.
“Apa?”
“Cahayanya kembali.”
Seraphine melangkah mendekat.
“Berapa lama?”
“Beberapa saat lalu.”
“Terang?”
Sylvester menggeleng.
“Belum.”
Ia menatap mereka.
“Tapi…”
Suaranya bergetar.
“Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kristal itu tidak lagi sepenuhnya gelap.”
Zeith dan Seraphine saling berpandangan.
Mereka tahu apa artinya.
Kristal itu tidak pernah bereaksi tanpa alasan.
Zeith bertanya,
“Apakah kau yakin?”
Sylvester mengangguk.
“Aku melihatnya sendiri.”
Seraphine menutup mulutnya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Apakah…”
Ia berhenti.
Zeith melanjutkan untuknya.
“Apakah itu berarti pewaris kita…”
Sylvester menundukkan kepala.
“Aku belum berani memastikan.”
Zeith mengangguk.
“Benar.”
Mereka sudah menunggu terlalu lama untuk membuat kesimpulan hanya karena satu cahaya kecil.
Namun—
harapan yang selama bertahun-tahun terkubur…
baru saja membuka matanya.
Seraphine berbalik.
“Bawa aku ke sana.”
“Yang Mulia…”
“Sekarang.”
Sylvester mengangguk.
***
Ketiganya berjalan menuju Ruang Kristal.
Ketika pintu dibuka—
cahaya samar masih terlihat di dalam kristal.
Zeith berdiri diam.
Seraphine menatapnya tanpa berkedip.
Sylvester berdiri di belakang mereka.
“Sudah bertahun-tahun…”
Seraphine berbisik.
Zeith tidak menjawab.
Ia hanya menatap cahaya kecil itu.
Kemudian berkata,
“Cari sumber reaksinya.”
Sylvester terkejut.
“Yang Mulia?”
“Jangan umumkan apa pun.”
Zeith menatap kristal.
“Kita belum tahu apakah ini benar-benar tanda bahwa pewaris telah ditemukan.”
Seraphine mengangguk.
“Tapi jika memang…”
Ia menyentuh dadanya.
“…maka dia mungkin masih hidup.”
Zeith menatap istrinya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—
keduanya tersenyum.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa harapan belum benar-benar mati.
***
Jauh di Veyra—
Fiona sedang tertawa karena Darrien menggodanya tentang betapa seringnya ia menyentuh kalung barunya.
Daun perak itu berada tepat di dekat jantungnya.
Hangat.
Tenang.
Dan tanpa disadari Fiona—
cahaya yang sama telah mulai berdenyut di sebuah kristal kerajaan yang berada sangat jauh darinya.
Dua benda.
Dua tempat.
Satu hubungan lama yang baru saja terbangun kembali.
Share this novel