Series
94
BAB 79
DENYUT YANG TERSISA
Elarion berlutut di samping Fiona.
“Kevin, bantu aku.”
Kevin langsung bergerak.
“Ace, perimeter.”
Ace mengangguk.
Ia berdiri di depan mereka, menghadapi sisa pasukan Ardika dan Varian.
Darrien masih berlutut.
Tangannya menggenggam tangan Fiona.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Hanya menatap wajahnya.
“Darrien.”
Kevin menoleh kepadanya.
“Kau harus mundur sedikit.”
Darrien tidak menjawab.
“Darrien.”
Kali ini Kevin menggunakan suara gurunya.
Darrien perlahan melepaskan tangan Fiona.
Ia mundur.
Namun matanya tidak pernah meninggalkan gadis itu.
Elarion memeriksa lukanya.
“Bilahnya tidak mengenai jantung.”
Darrien menarik napas.
“Tapi lukanya dalam.”
“Aku tahu.”
Elarion mulai mengalirkan sihir penyembuhan.
Cahaya memenuhi luka Fiona.
Namun wajah Elarion tetap tegang.
“Darahnya terlalu banyak.”
Darrien mengepalkan tangan.
“Berapa lama?”
“Jangan tanyakan itu.”
“Elarion.”
“Aku sedang menyelamatkannya.”
Darrien terdiam.
***
Di seberang lembah—
Surya masih berdiri.
Wajahnya pucat.
Ia melihat Fiona.
Kemudian melihat Darrien.
Ia baru saja menyaksikan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan.
Seorang anak laki-laki hampir menghancurkan seluruh pasukan mereka sendirian.
Dan semuanya karena Fiona.
Keith Varian juga tidak berbicara.
Clark menatap Fiona.
Wajahnya berubah.
Ia akhirnya menyadari bahwa gadis yang selama ini dianggap sebagai calon istrinya…
hampir mati karena keputusan kedua keluarga.
“Cukup.”
Clark melangkah maju.
Keith menoleh.
“Clark.”
“Aku tidak akan melanjutkan pernikahan ini.”
Semua orang terdiam.
Keith menatap putranya.
“Apa?”
Clark menatap Fiona.
“Dia tidak pernah menginginkannya.”
Ia kemudian melihat Surya.
“Dan kalian hampir membunuhnya.”
Surya tidak menjawab.
Clark menarik napas.
“Aku tidak akan menikahi seseorang yang harus dipaksa.”
Keith mengepalkan tangan.
“Ini bukan keputusanmu.”
“Kalau begitu…”
Clark menatap ayahnya.
“…aku menolaknya sebagai keputusanmu.”
***
Darrien mendengar semuanya.
Namun ia tidak peduli.
Satu-satunya hal yang penting adalah suara Elarion.
“Denyutnya stabil.”
Darrien langsung menoleh.
“Benarkah?”
“Sedikit.”
Darrien menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai…
ia bisa bernapas.
Namun kemudian Elarion berkata,
“Kita harus membawanya pergi.”
Darrien mengangguk.
“Ke mana?”
“Tempat yang aman.”
Kevin melihat sekeliling.
“Lembah ini sudah tidak aman.”
Ace kembali.
“Ada jalan keluar di sebelah barat.”
Darrien berdiri.
“Aku akan membawanya.”
Elarion mengangguk.
“Pelan-pelan.”
Darrien mengangkat Fiona dengan hati-hati.
Tubuhnya terasa begitu ringan.
Terlalu ringan.
Ia menatap wajah Fiona.
“Jangan pergi.”
Tidak ada jawaban.
Darrien menunduk.
“Aku sudah menemukanmu.”
Ia menggenggamnya lebih erat.
“Jadi jangan pergi sekarang.”
***
Mereka mulai meninggalkan lembah.
Namun sebelum pergi—
Darrien berhenti.
Ia menoleh kepada Surya.
Tidak ada sihir.
Tidak ada ancaman.
Hanya tatapan dingin.
“Kalau dia selamat…”
Surya menatapnya.
Darrien melanjutkan,
“…jangan pernah datang mencarinya lagi.”
Surya tidak menjawab.
Darrien kemudian menatap Keith.
“Dan kau.”
Keith mengangkat kepala.
“Pernikahan itu selesai.”
Darrien berbalik.
Ia tidak menunggu jawaban.
Kevin, Ace, dan Elarion mengikuti.
Fiona masih berada di dalam pelukannya.
Masih bernapas.
Sangat lemah.
Namun hidup.
Dan untuk saat ini…
itu sudah cukup.
Share this novel