Series
94
BAB 14
RUMAH SANG PENGEMBARA
Darrien dan Fiona berjalan mengikuti Elarion melewati hutan.
Mereka tidak banyak berbicara.
Darrien masih belum sepenuhnya mempercayai Elf itu, sementara Fiona sesekali melirik tas besar yang dibawa Elarion dengan rasa penasaran.
Setelah berjalan cukup lama, pepohonan mulai semakin rapat.
Kemudian mereka melihat sebuah rumah kayu kecil di antara pepohonan.
Rumah itu tidak terlihat seperti tempat tinggal seorang penyihir hebat.
Tidak ada menara.
Tidak ada gerbang besar.
Hanya sebuah rumah sederhana dengan beberapa tanaman tumbuh di sekelilingnya.
Di belakang rumah terdapat rak-rak kayu penuh botol.
Ada yang berisi cairan biru, hijau, merah, bahkan bening seperti air.
Fiona langsung terpaku.
“Wow…”
Elarion menoleh.
“Jangan sentuh apa pun.”
Fiona segera menarik tangannya.
“Aku belum menyentuh.”
“Aku tahu.”
Elarion tersenyum tipis.
“Tapi biasanya orang yang mengatakan itu justru akan menyentuh lima detik kemudian.”
Fiona tertawa kecil.
Darrien hampir tersenyum.
Mereka masuk ke dalam rumah.
Aroma rempah dan tumbuhan memenuhi udara. Di salah satu sudut terdapat meja panjang dengan berbagai alat untuk mencampur cairan.
Elarion mengambil dua mangkuk makanan.
“Duduk.”
Fiona dan Darrien menurut.
Ia meletakkan makanan hangat di depan mereka.
Fiona menatap mangkuk itu.
“Kami tidak punya uang.”
Elarion berhenti.
“Aku tidak meminta uang.”
“Tapi…”
“Makan saja.”
Fiona akhirnya mulai makan.
Darrien masih diam.
Elarion memperhatikannya.
“Kau juga.”
Darrien mengambil sendok.
Mereka makan dalam keheningan.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Akasia, mereka mendapatkan makanan hangat tanpa harus takut seseorang akan datang mengambilnya.
Setelah selesai, Elarion duduk di hadapan mereka.
“Sekarang, ceritakan.”
Darrien menatapnya.
“Tidak perlu semuanya.”
Elarion menyandarkan punggungnya.
"Siapa nama kalian?"
“Aku Fiona.”
“Dan dia Darrien.”
“Aku bisa memperkenalkan diriku sendiri,” Darrien berbisik sendiri.
Fiona senyum. “Tapi kau terlalu serius.”
“Dari mana kalian berasal?”
“Akasia.”
“Orang tua?”
Darrien terdiam.
“Kami tidak tahu.”
Elarion tidak bertanya lebih jauh.
“Dan kenapa orang-orang tadi mengejar kalian?”
Darrien menggenggam tangannya di bawah meja.
“Karena kami melarikan diri dari panti.”
“Kenapa?”
Darrien ragu.
Namun akhirnya ia menceritakan tentang Maria.
Tentang perubahan sikapnya setelah Margaret pergi.
Tentang percakapan yang ia dengar melalui batu kristal.
Dan tentang rencana menjual mereka.
Elarion mendengarkan tanpa menyela.
Ekspresinya perlahan menjadi serius.
“Jadi kalian hanya berdua yang tersisa di panti?”
Darrien mengangguk.
“Dan kalian memutuskan melarikan diri?”
“Ya.”
Elarion menatap mereka cukup lama.
Kemudian ia menghela napas.
“Kalian beruntung bisa keluar hidup-hidup.”
Fiona menundukkan kepala.
Darrien tetap diam.
Elarion kemudian memperhatikan mereka dengan lebih saksama.
Tatapannya berhenti pada Darrien.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Sejak tadi aku merasakan sesuatu dari tubuhmu.”
Darrien langsung menegang.
Fiona ikut menatapnya.
“Rasa dingin itu.”
Darrien tidak menjawab.
Elarion mengangkat tangannya.
“Tenang. Aku tidak akan menyentuhmu.”
Ia hanya memejamkan mata sejenak.
Udara di ruangan berubah.
Sangat samar.
Namun Elarion bisa merasakan sesuatu yang dingin dan dalam dari arah Darrien.
Bukan sekadar hawa malam.
Bukan pula sihir biasa yang pernah ia rasakan.
Elarion membuka mata.
“Menarik…”
Darrien mengerutkan kening.
“Apa yang salah denganku?”
“Belum tentu ada yang salah.”
Elarion tersenyum tipis.
“Mungkin kau hanya belum tahu bagaimana memahami dirimu sendiri.”
Darrien terdiam.
Elarion kemudian menoleh kepada Fiona.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Hangat.
Lembut.
Seperti cahaya kecil yang tersembunyi jauh di dalam dirinya.
Elarion mengangkat alis.
“Kalian berdua…”
Fiona menatapnya.
“Apa?”
Elarion tidak langsung menjawab.
Ia hanya tersenyum kecil.
“Sepertinya perjalanan kalian akan menjadi jauh lebih menarik daripada yang kukira.”
Darrien tetap waspada.
“Kami tidak ingin masalah.”
Elarion tertawa.
“Percayalah. Masalah biasanya datang tanpa diundang.”
Ia berdiri dan mengambil dua selimut.
“Untuk malam ini, kalian boleh tinggal.”
Fiona tersenyum lega.
“Terima kasih.”
Darrien menatap Elarion beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk.
“Terima kasih.”
Elarion hanya mengibaskan tangannya.
“Tidurlah.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah melarikan diri dari Akasia, Darrien dan Fiona tidur di tempat yang aman.
Namun di ruangan lain, Elarion berdiri di depan jendela sambil memandangi langit malam.
Pikirannya masih tertuju pada dua anak itu.
Terutama pada hawa dingin samar yang ia rasakan dari Darrien.
Ia pernah merasakan banyak jenis sihir selama perjalanan panjangnya.
Tetapi sesuatu dalam diri anak itu terasa… berbeda.
Dan Elarion belum tahu apa artinya.
Share this novel