Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 108
SEBELUM TIDUR
Malam semakin sunyi di kediaman Rowan.
Setelah penelitian dihentikan untuk malam itu, semua orang mulai kembali ke kamar masing-masing.
Elarion masih berada di ruang penelitian.
Kevin, Ace, dan Rowan sibuk mempersiapkan permohonan izin untuk memasuki Perpustakaan Kerajaan.
Sementara itu—
Darrien dan Fiona berjalan perlahan menuju kamar mereka.
Fiona masih memikirkan percakapan sebelumnya.
“Darrien.”
“Hm?”
“Kau baik-baik saja?”
Darrien terdiam sejenak.
“Kurasa.”
Fiona menatapnya.
“Kurasa?”
Darrien tersenyum kecil.
“Aku hanya belum terbiasa dengan pikiran bahwa mungkin ada dua orang di luar sana yang…”
Ia berhenti.
“Yang mungkin adalah orang tuamu?”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
Fiona berjalan lebih dekat.
“Kau ingin bertemu mereka?”
Darrien berpikir cukup lama.
“Aku tidak tahu.”
“Takut?”
“Bukan.”
Ia menatap lantai.
“Hanya…”
Darrien menghela napas.
“Bagaimana kalau ternyata mereka memang orang tuaku?”
Fiona tidak langsung menjawab.
“Bukankah itu hal yang baik?”
“Mungkin.”
Darrien menatapnya.
“Tapi aku sudah menjalani hidupku tanpa mereka.”
Fiona mengangguk perlahan.
“Aku mengerti.”
Darrien tersenyum.
“Dan sekarang ada kemungkinan aku adalah pewaris kerajaan.”
Fiona tertawa kecil.
“Kalau begitu kau akan menjadi pangeran.”
Darrien langsung mengerutkan kening.
“Jangan katakan itu.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka.”
Fiona menahan tawa.
“Baiklah, Yang Mulia.”
“Fiona.”
Ia tertawa.
“Maaf.”
Mereka berhenti di depan pintu kamar Fiona.
Fiona memegang daun perak di lehernya.
“Setidaknya satu hal tetap sama.”
“Apa?”
“Kita masih di sini.”
Darrien tersenyum.
“Benar.”
Fiona menatapnya.
“Tidak peduli kau ternyata siapa…”
Ia menyentuh kalungnya.
“…kau tetap Darrien.”
Darrien terdiam.
Kemudian tersenyum lembut.
“Dan kau tetap Fiona.”
Fiona mengangguk.
“Bagus.”
Ia membuka pintu.
Namun sebelum masuk, ia menoleh kembali.
“Darrien?”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti kau bertemu mereka…”
Ia tersenyum.
“Jangan takut.”
Darrien mengangguk.
“Aku akan mencoba.”
“Bagus.”
Fiona masuk ke kamarnya.
“Selamat malam.”
“Selamat malam, Fiona.”
Pintu tertutup perlahan.
Darrien berdiri beberapa saat di lorong.
Ia kemudian menyentuh wajahnya.
Retakan tipis yang sempat muncul tadi sudah menghilang.
Namun pikirannya masih penuh dengan pertanyaan.
Tentang wajahnya.
Tentang segelnya.
Tentang Raja Edward dan Ratu Gloria.
Tentang siapa dirinya sebenarnya.
Namun untuk malam ini—
ia tidak ingin memikirkan semuanya.
Ia hanya ingin tidur.
***
Di kamar Fiona—
Fiona berbaring di tempat tidur.
Tangannya kembali menyentuh daun perak di lehernya.
Cahaya kecil berkilau di bawah cahaya bulan.
Ia tersenyum.
“Selamat malam…”
Entah kepada siapa ia mengatakannya.
Mungkin kepada dirinya sendiri.
Mungkin kepada seseorang yang jauh.
Atau mungkin kepada dunia yang masih belum ia kenal.
Beberapa saat kemudian—
matanya tertutup.
Malam kembali tenang.
Dan untuk pertama kalinya setelah begitu banyak kekacauan—
tidak ada seorang pun yang mengejar mereka.
Tidak ada pertempuran.
Tidak ada kabar buruk.
Hanya dua anak muda yang tidur dengan pikiran penuh pertanyaan…
dan hari baru yang menunggu mereka di pagi berikutnya.
