340. Kembali Ke Lunaris

Romance Series 390

BAB 340 — KEMBALI KE LUNARIS

DI VEYTH

Percakapan antara Fiona, Edward, dan Gloria akhirnya mulai mendekati akhir.

Namun meskipun semua yang ingin mereka bicarakan telah disampaikan—

masih ada satu keputusan yang belum dibuat.

Edward duduk diam.

Gloria berada di sampingnya.

Keduanya saling memandang.

Mereka masih memikirkan perjalanan menuju Lunaris.

Bukan karena mereka tidak ingin pergi.

Justru sebaliknya.

Mereka tahu bahwa mereka harus kembali ke sana.

Namun setelah mengetahui seluruh kebenaran—

mereka juga tahu bahwa pertemuan berikutnya tidak akan sederhana.

Edward menghela napas.

“Menurutmu…”

Ia menatap Gloria.

“Haruskah kita pergi sekarang?”

Gloria tidak langsung menjawab.

Ia menatap Fiona.

“Kita memang harus berbicara dengan mereka.”

Fiona mengangguk.

“Terutama karena ada beberapa hal yang berkaitan dengan sejarah kedua kerajaan.”

Edward terdiam.

Gloria juga.

Fiona memperhatikan ekspresi keduanya.

Kemudian—

ia menyadari sesuatu.

Bukan hanya dari wajah mereka.

Melainkan dari pikiran yang tidak sengaja tertangkap oleh sensing miliknya.

Mereka masih ragu.

Fiona tersenyum kecil.

“Kalian tidak perlu bingung.”

Edward dan Gloria menatapnya.

Fiona berkata,

“Kalau kalian sudah siap…”

Ia mengangkat tangannya.

“…aku bisa membawa kita ke Lunaris.”

Keduanya langsung terdiam.

Edward berkedip.

“Sekarang?”

“Ya.”

Gloria melihat Edward.

Edward melihat Gloria.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Gloria tersenyum.

“Baiklah.”

Edward mengangguk.

“Kita pergi.”

Fiona mengangguk.

“Baik.”

Ia berdiri.

Cahaya Silver Leaf mulai muncul di sekeliling tubuhnya.

Tidak ada chanting.

Tidak ada persiapan panjang.

Hanya satu gerakan tangannya—

dan sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka.

Edward langsung menghela napas.

“Masih sulit dipercaya.”

Gloria tersenyum.

“Aku mulai terbiasa.”

Fiona tertawa kecil.

“Jangan terlalu terbiasa.”

Ia menatap keduanya.

“Teleportasi seperti ini bisa membuat orang lain kehilangan keseimbangan.”

Edward mengangkat alis.

“Pengalaman?”

Fiona terdiam.

“…Sedikit.”

Gloria tertawa.

Kemudian—

cahaya memenuhi ruangan.

**WHOOSH!**

Ketiganya menghilang.

***

DI LUNARIS

Sementara itu—

di ruang diskusi kerajaan—

Zeith dan Seraphine sedang berbicara serius.

Beberapa dokumen kuno berada di atas meja.

Namun sebagian besar hanya berisi potongan informasi yang tidak lengkap.

Seraphine menyentuh salah satu lembaran.

“Semakin banyak kita mencari…”

Ia menghela napas.

“…semakin jelas bahwa sejarah Saintess telah dihapus.”

Zeith mengangguk.

“Bahkan catatan tentang Light Elf kuno hampir tidak tersisa.”

“Dan semuanya berkaitan dengan era sebelum Lunaris.”

Zeith menatap dokumen tersebut.

“Fiona harus menjelaskan lebih banyak.”

Seraphine mengangguk.

“Bukan hanya tentang dirinya.”

“Melainkan tentang hubungan Light Elf dan Dark Elf.”

Zeith terdiam.

“Dan tentang alasan sejarah itu dihapus.”

Seraphine memandangnya.

“Jika apa yang kita lihat di Crystal Hall benar…”

Ia berhenti.

“…maka sejarah kerajaan kita mungkin dibangun di atas sesuatu yang sengaja dilupakan.”

Zeith menghela napas.

“Karena itu aku ingin berbicara dengannya.”

“Dengan Fiona.”

“Ya.”

Keduanya kembali melihat dokumen.

Namun sebelum mereka sempat melanjutkan—

**TING!**

Cahaya Silver Leaf muncul di tengah ruangan.

Zeith dan Seraphine langsung berdiri.

Sebuah lingkaran sihir terbentuk.

Cahaya semakin terang.

Kemudian—

**WHOOSH!**

Tiga sosok muncul.

Fiona.

Edward.

Gloria.

Zeith membeku.

Seraphine juga.

Edward melihat sekeliling.

“Kita sudah sampai?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Zeith menatap Edward dan Gloria.

“Yang Mulia Edward.”

Edward mengangguk.

“Yang Mulia Zeith.”

Seraphine tersenyum.

“Selamat datang kembali di Lunaris.”

Gloria membalas senyumannya.

“Terima kasih.”

Namun perhatian Zeith kemudian beralih kepada Fiona.

“Kau membawa mereka sendiri?”

Fiona mengangguk.

“Mereka ingin berbicara.”

Seraphine melihat Fiona.

Kemudian tersenyum kecil.

“Sepertinya kita memang memikirkan hal yang sama.”

Fiona mengangkat alis.

“Maksudnya?”

Zeith menunjuk dokumen di atas meja.

“Kami sedang membicarakan sejarah Saintess.”

Fiona terdiam.

Wajahnya langsung berubah sedikit.

“Begitu…”

Seraphine memperhatikan perubahan kecil itu.

“Kau tidak keberatan?”

Fiona menggeleng.

“Tidak.”

Ia menarik napas.

“Aku memang sudah berjanji akan menjelaskan.”

Zeith mengangguk.

“Kalau begitu…”

Ia menunjuk kursi.

“Duduklah.”

Fiona berjalan ke salah satu kursi.

Edward dan Gloria juga duduk.

Seraphine mengambil tempat di sisi Zeith.

Ruangan kembali menjadi tenang.

Namun kali ini—

ada sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya Lunaris yang ingin mengetahui kebenaran.

Veyth juga sudah berada di sana.

Dua kerajaan.

Satu sejarah.

Dan seorang Saintess yang menjadi satu-satunya saksi dari era yang telah lama dihapus.

***

Sementara itu—

jauh dari ruang kerajaan…

**BOOM!**

Darrien terlempar beberapa meter di area latihan.

Ia berguling dan segera berdiri.

Kevin berdiri di tempatnya.

“Bangun.”

Darrien mengusap sudut bibirnya.

“Aku sudah bangun.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien mengambil posisi lagi.

Ace yang menonton dari sisi lapangan langsung menghela napas.

“Dia belum tahu kalau Fiona sudah kembali.”

Rowan mengangguk.

“Dan mungkin lebih baik begitu.”

Elarion tersenyum tipis.

Elyon menatap Darrien.

“Kalau dia tahu sekarang…”

Ia berhenti.

“…latihannya mungkin langsung berubah menjadi pengejaran.”

Kevin mendengar itu.

Ia menoleh.

“Kalau begitu jangan beri tahu dia.”

Darrien langsung menatap mereka.

“Apa yang kalian bicarakan?”

Semua langsung diam.

Kevin tersenyum tipis.

“Tidak ada.”

Darrien menyipitkan mata.

“….”

Ia jelas tidak percaya.

Namun Kevin kembali mengambil posisi.

“Fokus.”

Darrien menghela napas.

“Baik.”

Kemudian—

**WHOOSH!**

Latihan kembali dimulai.

Sementara di ruang kerajaan—

Fiona akhirnya bersiap untuk membuka kembali kisah lama yang selama ini terkubur.

Dan kali ini—

dua kerajaan akan mendengarnya bersama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience