Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 425 — PENELITIAN DAN SANTAI
VEYTH.
Hari berikutnya—
perpustakaan kerajaan kembali dipenuhi buku.
Dan kali ini jumlahnya bahkan lebih banyak.
Buku-buku tua ditumpuk di atas meja.
Manuskrip dibuka.
Peta kuno dibentangkan.
Beberapa gulungan yang telah disimpan selama ratusan tahun bahkan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dapat dibaca.
Elyon berdiri di tengah semua itu dengan ekspresi serius.
“Kita cari semua yang berhubungan dengan magicure ruang.”
Elarion mengangguk.
“Termasuk teleportasi.”
“Jangkar ruang.”
“Batas wilayah.”
“Dan magicure yang dapat mengembalikan seseorang ke lokasi tertentu.”
Rowan menambahkan,
“Kalau ada catatan tentang cara menembusnya, ambil juga.”
Ace mengangkat tangan.
“Dan kalau ada catatan tentang cara menghindari gunung?”
Semua menoleh.
Ace tersenyum.
“Prioritas pribadi.”
Kevin mengambil sebuah buku dan meletakkannya di hadapan Ace.
“Baca.”
Ace melihat ketebalannya.
“…Aku lebih suka gunung.”
Rowan langsung mengambil buku itu dari tangannya.
“Tidak.”
Ace menghela napas.
“Baiklah.”
Ia membuka halaman pertama.
Beberapa detik kemudian—
“Bahasa apa ini?”
Elyon menjawab tanpa melihatnya.
“Bahasa kuno.”
Ace menatapnya.
“Tentu saja.”
***
Penelitian terus berlanjut.
Mereka mulai menemukan beberapa informasi.
Teleportasi biasa membutuhkan pengguna.
Portal membutuhkan titik masuk dan keluar.
Namun magicure yang digunakan Shadowcresent tampaknya berbeda.
Sistemnya tidak hanya memindahkan tubuh.
Ia memanfaatkan—
**ruang yang telah ditandai sebelumnya.**
Elarion membuat beberapa catatan.
“Jika teori ini benar, maka wilayah Shadowcresent memiliki jaringan jangkar ruang.”
Elyon mengangguk.
“Dan kemungkinan besar jaringan itu sudah ada sejak kerajaan tersebut berdiri.”
Kevin membaca catatan lain.
“Berarti kita tidak bisa menghancurkan satu titik saja.”
“Benar.”
Elyon menunjuk peta.
“Kalau mereka menggunakan beberapa jangkar, menghancurkan satu tidak akan cukup.”
Darrien yang sejak tadi membaca dalam diam akhirnya berkata,
“Kalau begitu kita cari pusatnya.”
Semua menoleh.
Darrien melanjutkan,
“Setiap jaringan pasti memiliki sumber.”
Elyon tersenyum tipis.
“Itulah yang sedang kita cari.”
***
Beberapa jam kemudian—
Ace menutup bukunya.
“Tidak ada.”
Rowan menatapnya.
“Kau baru membaca dua halaman.”
“Dua halaman yang sangat melelahkan.”
Kevin mendengus.
“Kembali membaca.”
Ace membuka bukunya lagi.
“Baik.”
Ia menatap tulisan kuno tersebut.
Kemudian bergumam,
“Fiona pasti sedang makan makanan enak sekarang.”
Darrien langsung menoleh.
Ace membeku.
“…Aku hanya mengatakan.”
Darrien kembali membaca.
Kevin tersenyum kecil.
“Fokus.”
***
Sementara itu—
jauh dari Veyth…
Shadowcresent.
Hari itu matahari bersinar cukup terang.
Tentu saja—
sebagian besar cahaya terhalang oleh kabut tipis yang selalu menyelimuti wilayah tersebut.
Namun di taman favorit Raizen
cahaya matahari terasa jauh lebih hangat.
Fiona sedang berbaring santai di sebuah kursi panjang.
Matanya terpejam.
Wajahnya menghadap cahaya.
Ia terlihat sangat nyaman.
“…”
Rai berada di kursi panjang lain di dekatnya.
Ia tidak melakukan apa pun.
Hanya membaca sebuah buku.
Sesekali—
ia melirik Fiona.
Fiona tidak menyadarinya.
Ia hanya menikmati kehangatan matahari.
“Ini enak.”
Raizen menurunkan bukunya sedikit.
“Apa?”
“Mataharinya.”
Fiona membuka satu mata.
“Tidak terlalu panas.”
Raizen mengangguk.
“Karena taman ini dilindungi.”
Fiona kembali memejamkan mata.
“Bagus.”
Beberapa saat berlalu.
Hening.
Kemudian—
Fiona berkata,
“Raizen.”
“Ya?”
“Aku suka tempat ini.”
Raizen menatapnya.
“Aku tahu.”
Fiona membuka matanya.
“Kau tahu?”
“Kau sudah mengatakannya beberapa kali.”
Fiona terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
“Benarkah?”
“Ya.”
Fiona kembali berbaring.
“Kalau begitu jangan bosan mendengarnya.”
Raizen tersenyum tipis.
“Aku tidak akan.”
***
Fiona menggerakkan kakinya sedikit.
Angin lembut melewati rambutnya.
Beberapa kelopak mawar hitam jatuh di dekat kursinya.
Fiona mengambil salah satunya.
Ia memutar kelopak tersebut di antara jarinya.
“Raizen.”
“Hmm?”
“Apakah kau selalu datang ke sini sendirian?”
“Ya.”
“Selama ini?”
“Sebagian besar waktu.”
Fiona memandangnya.
“Tidak membosankan?”
Raizen menutup bukunya.
“Dulu tidak.”
“Sekarang?”
Raizen melihat Fiona.
“Sekarang juga tidak.”
Fiona tersenyum.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Kemudian kembali memejamkan mata.
Raizen kembali membuka bukunya.
Namun kali ini—
ia tidak membaca satu kata pun.
Tatapannya hanya tertuju pada halaman yang sama.
Karena pikirannya justru berada pada perempuan di sebelahnya.
***
Fiona perlahan tertidur.
Raizen memperhatikan.
Ia tidak membangunkannya.
Ia hanya mengambil selimut tipis dan meletakkannya di atas tubuh Fiona.
Kemudian kembali duduk.
Taman kembali sunyi.
Burung-burung kecil terdengar dari pepohonan.
Air mancur mengalir perlahan.
Mawar hitam bergoyang tertiup angin.
Dan Raja Shadowcresent—
yang selama ribuan tahun terbiasa dengan kesendirian—
kini duduk diam di taman favoritnya.
Tidak sendirian.
***
VEYTH.
“AKU MENEMUKAN SESUATU!”
Suara Elyon terdengar dari perpustakaan.
Semua langsung menoleh.
Elarion berdiri.
“Apa?”
Elyon mengangkat sebuah manuskrip tua.
“Catatan tentang jangkar ruang.”
Kevin segera mendekat.
Darrien juga berdiri.
Ace menutup bukunya.
“Jangan bilang kita akhirnya menemukan sesuatu.”
Elyon tersenyum.
“Belum.”
Ace kembali duduk.
“Ah.”
Elyon membuka manuskrip.
“Tapi setidaknya…”
Ia menunjuk sebuah diagram kuno.
“…kita sekarang tahu bagaimana magicure seperti itu bisa bekerja.”
Darrien menatap diagram tersebut.
Untuk pertama kalinya—
mereka benar-benar memiliki sesuatu yang dapat dipelajari.
Bukan lokasi.
Bukan pintu masuk.
Namun—
**sebuah cara untuk memahami pertahanan Shadowcresent.**
Dan itu cukup.
Untuk sekarang.
***
Sementara itu—
di taman Shadowcresent…
Fiona masih tidur.
Raizen melihatnya.
Kemudian tersenyum kecil.
“Tidurlah.”
Ia kembali menyandarkan tubuhnya.
Di satu sisi—
Veyth sedang membongkar sejarah magicure kuno.
Di sisi lain—
Shadowcresent menikmati hari yang damai.
Dua dunia sedang bergerak menuju satu titik yang sama.
Namun untuk sementara—
mereka masih terpisah.
Dan keduanya belum tahu…
berapa banyak hal yang harus mereka lewati sebelum akhirnya bertemu kembali.
