Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 178
CAHAYA YANG TIDAK DIKENAL
Fiona masih memeluk Darrien.
Tubuh pemuda itu terbaring lemas di dalam pelukannya.
Air mata masih mengalir di pipi Fiona.
“Darrien…”
Tidak ada jawaban.
Napasnya masih ada.
Namun sangat lemah.
Fiona menggenggamnya lebih erat.
Kemudian—
sesuatu bergerak di dalam tubuhnya.
Bukan kesadaran.
Bukan keputusan.
Tubuhnya bergerak lebih dahulu daripada pikirannya.
Cahaya mulai muncul dari telapak tangannya.
Lembut.
Putih.
Murni.
Fiona bahkan tidak menyadarinya.
Cahaya itu perlahan mengalir menuju tubuh Darrien.
Luka-luka di tubuhnya mulai tertutup.
Napasnya yang sebelumnya lemah perlahan menjadi lebih teratur.
Elarion membeku.
“Apa…”
Elyon menatap Fiona tanpa berkedip.
Ia belum pernah merasakan Light Magic seperti ini.
Tidak pernah.
Bahkan sepanjang hidupnya sebagai Light Elf—
ia belum pernah merasakan kekuatan yang begitu murni.
“Ini bukan Light Magic biasa…”
Suara Elyon hampir berbisik.
Elarion tidak menjawab.
Ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.
***
Fiona masih menunduk.
Air mata terakhir jatuh dari wajahnya.
Kemudian—
ia perlahan mengangkat kepala.
Matanya terbuka.
Namun tidak ada kesadaran di dalamnya.
Wajahnya kosong.
Tenang.
Hampir tanpa emosi.
Elarion merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
Fiona menoleh.
Tatapannya berhenti pada Musaka.
Kemudian—
berpindah kepada Koga.
Keduanya langsung merasakan perubahan tekanan udara.
Koga menyipitkan mata.
“Apa…”
Musaka mundur satu langkah.
“Apa yang terjadi padanya?”
Fiona perlahan berdiri.
Tubuhnya masih dikelilingi cahaya.
Tangannya terangkat.
Tidak ada mantra.
Tidak ada lingkaran sihir.
Tidak ada gerakan rumit.
Hanya satu kata.
“Binasalah.”
Suaranya datar.
Kemudian—
**BOOOOOOOOOOM!**
Cahaya putih meledak dari tubuh Fiona.
Puluhan.
Ratusan.
Gelombang Light Magic melesat ke segala arah.
Musaka bahkan tidak sempat bergerak.
Koga mengangkat penghalang.
Namun cahaya itu menembusnya.
Penghalangnya hancur dalam sekejap.
“Tidak mungkin—!”
Cahaya terus bergerak.
Menelan seluruh area.
Para vampire yang sebelumnya masih bertarung tidak sempat melakukan apa pun.
Satu demi satu—
tubuh mereka menghilang ditelan cahaya.
Musaka mencoba bertahan.
Namun kekuatan itu terlalu besar.
Koga juga tidak mampu menahannya.
Untuk sesaat—
seluruh lembah berubah menjadi putih.
***
Di luar penghalang—
Edward langsung mengangkat lengannya untuk menutupi matanya.
Gloria melakukan hal yang sama.
Para penjaga berbalik.
Kevin memejamkan mata.
Rowan dan Ace juga menundukkan kepala.
Cahaya itu bahkan menembus penghalang yang sebelumnya tidak dapat mereka hancurkan.
Kevin berteriak,
“Ini apa?!”
Tidak ada yang mampu menjawab.
***
Di dalam lembah—
cahaya akhirnya mulai mereda.
Suara pertempuran menghilang.
Tidak ada vampire.
Tidak ada Musaka.
Tidak ada Koga.
Tidak ada seorang pun dari kelompok mereka yang masih terlihat.
Hanya tanah yang telah berubah.
Dan keheningan.
Fiona masih berdiri.
Kemudian—
tubuhnya kehilangan kekuatan.
Ia terhuyung.
Cahaya di sekelilingnya menghilang.
Tubuhnya jatuh.
Namun sebelum menyentuh tanah—
ia sempat kembali berlutut di samping Darrien.
Kemudian—
pingsan.
***
Darrien menarik napas.
Matanya perlahan terbuka.
Tubuhnya yang sebelumnya dipenuhi luka kini jauh lebih baik.
Serangan Koga yang hampir membuatnya tidak sadarkan diri—
telah dipulihkan.
Ia mencoba bergerak.
“Fiona…”
Namun Fiona tidak menjawab.
Darrien melihat gadis itu terbaring di sampingnya.
Ia mengulurkan tangan.
Kemudian berhenti.
Ada sesuatu yang berbeda.
Wajah Fiona—
bukan lagi wajah yang selama ini ia kenal.
Garis wajahnya terlihat lebih halus.
Telinganya sedikit lebih panjang.
Rambutnya tampak berbeda di bawah sisa cahaya.
Dan keseluruhan wajahnya—
memiliki sesuatu yang jelas bukan ciri manusia biasa.
Darrien membeku.
Elarion juga tidak bergerak.
Elyon menatap Fiona dengan mata melebar.
“…”
Tidak ada yang langsung mengatakan apa pun.
Namun satu hal terlihat jelas.
Gadis yang terbaring di tanah itu—
tidak terlihat seperti manusia biasa lagi.
Dan Fiona sendiri—
tidak mengetahui apa pun.
Ia masih tidak sadarkan diri.
Tidak tahu bahwa kekuatan yang selama ini tertidur di dalam tubuhnya baru saja menghancurkan seluruh pertempuran.
Tidak tahu bahwa penampilannya telah berubah.
Dan tidak tahu—
bahwa untuk pertama kalinya,
sesuatu dari dirinya yang sebenarnya…
telah muncul ke permukaan.
