342. Istana Yang Pernah Menjadi Miliknya

Romance Completed 594

BAB 342 — ISTANA YANG PERNAH MENJADI MILIKNYA

Keheningan masih memenuhi ruang diskusi.

Setelah mendengar kisah tentang Light Elf dan Dark Elf—

tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.

Namun masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

Zeith akhirnya membuka suara.

“Fiona.”

Fiona menoleh.

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

Zeith menatapnya.

“Crystal.”

Fiona langsung terdiam.

Seraphine ikut memperhatikan.

Elyon menunggu.

Edward dan Gloria juga menatap Fiona.

Fiona tidak menjawab selama beberapa saat.

Ia menatap ke arah jendela.

Pemandangan Istana Lunaris terlihat dari sana.

Bibirnya sedikit digigit.

Sepertinya—

pertanyaan ini justru lebih sulit daripada yang sebelumnya.

Fiona menghela napas.

“Yang itu…”

Ia berhenti.

“…aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.”

Zeith tidak memaksanya.

Fiona akhirnya berkata,

“Crystal itu…”

Ia menarik napas.

“…aku yang menempatkannya di sana.”

Semua terdiam.

Seraphine berkedip.

“Kau?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Elyon perlahan mengangkat alis.

“Jadi Crystal itu memang milikmu?”

“Dulu.”

Fiona menatap ke luar jendela.

“Namun bukan hanya Crystal-nya.”

Ia tersenyum tipis.

“Istana Lunaris juga.”

Zeith membeku.

Seraphine menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Fiona berjalan perlahan menuju jendela.

“Istana ini…”

Ia mengangkat tangannya, menunjuk bangunan di luar.

“…pernah menjadi bagian dari wilayahku.”

Zeith masih diam.

Fiona melanjutkan.

“Bahkan istana ini…”

Ia berhenti sebentar.

“…aku yang menciptakannya.”

Ruangan langsung sunyi.

Seraphine melihat sekeliling.

Dinding.

Pilar.

Jendela.

Semua yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari warisan kerajaan—

ternyata memiliki sejarah jauh lebih tua.

Elyon akhirnya bertanya,

“Kenapa kau menciptakan tempat ini?”

Fiona tersenyum.

“Untuk kami.”

Ia menatap jauh.

“Setelah semua yang terjadi…”

“Darrien ingin melarikan diri dari masa lalu.”

“Dari perang.”

“Dari gelar.”

“Dari dunia yang terus melihat kami sebagai Saintess dan Grandmaster.”

Fiona menyentuh kaca jendela.

“Jadi aku menciptakan tempat di mana kami bisa hidup tanpa semua gelar itu.”

“Tidak sebagai Saintess.”

“Tidak sebagai Grandmaster.”

“Hanya…”

Ia tersenyum kecil.

“…Fiona dan Darrien.”

Gloria menatapnya dengan mata lembut.

“Jadi Lunaris…”

“Dulu adalah tempat kalian.”

Fiona mengangguk.

“Bisa dibilang begitu.”

***

Zeith masih terlihat sulit percaya.

“Lalu Crystal itu?”

Fiona menoleh.

“Crystal itu adalah bagian dari tempat ini.”

“Dan aku meninggalkannya di sini karena memiliki tujuan.”

Elyon bertanya,

“Tujuan apa?”

Fiona terdiam.

Tatapannya berubah sedikit.

Namun kali ini ia tidak menjawab.

“Nanti.”

Elyon menghela napas.

Ia sudah tahu bahwa Fiona tidak akan menjelaskan sesuatu sebelum waktunya.

Zeith kemudian bertanya,

“Kalau Crystal itu sudah kembali kepadamu…”

Ia berhenti.

“…apakah kau akan mengambil kembali istana ini juga?”

Fiona langsung menggeleng.

“Tidak.”

Seraphine terlihat sedikit terkejut.

Fiona tersenyum.

“Istana ini tetap milik kalian.”

“Sekarang…”

Ia melihat Zeith dan Seraphine.

“…tempat ini adalah rumah kalian.”

Zeith terdiam.

“Padahal kau yang menciptakannya.”

“Ya.”

Fiona tersenyum.

“Tapi aku tidak ingin mengambilnya kembali.”

Ia kembali melihat pemandangan istana.

“Anggap saja aku memberikan rumah lamaku kepada orang yang sekarang menjaganya.”

Seraphine tersenyum.

“Kami akan menjaganya.”

“Aku tahu.”

Fiona mengangguk.

***

Namun ada satu hal yang tidak Fiona katakan.

Ia dulu menciptakan istana itu sebagai tempat perlindungan.

Tempat untuk meninggalkan perang.

Tempat untuk menunggu.

Tempat yang suatu hari diharapkannya menjadi rumah bagi dirinya dan Darrien.

Namun sekarang—

setelah ribuan tahun—

ia tidak lagi membutuhkan tempat itu sebagai kenangan.

Karena Darrien sudah kembali.

Bukan sebagai Grandmaster.

Bukan sebagai lelaki dari masa lalu.

Tetapi sebagai Darrien yang sekarang.

Dan untuk pertama kalinya—

Fiona tidak ingin mengambil masa lalunya kembali.

Ia hanya ingin menjalani masa kini.

***

DI AREA LATIHAN

Sementara itu—

Darrien masih menjalani latihan.

**WHOOSH!**

Kevin bergerak ke kiri.

Darrien mengikuti.

Kevin berubah arah.

Darrien langsung mengimbanginya.

Ace memperhatikan dari pinggir lapangan.

“Dia semakin cepat.”

Rowan mengangguk.

“Dan semakin stabil.”

Elarion tersenyum.

“Kevin benar-benar serius.”

Kevin yang berada di tengah lapangan langsung berkata,

“Tentu saja.”

Ace terdiam.

“…Aku tidak mengatakan apa-apa.”

Kevin menoleh.

“Aku tahu.”

Rowan tertawa.

Elarion menggeleng.

Darrien kembali mengambil posisi.

“Sekali lagi.”

Kevin tersenyum.

“Baik.”

Dan latihan kembali dimulai.

Tidak seorang pun dari mereka mengetahui apa yang sedang dibicarakan Fiona di ruang kerajaan.

Tidak ada yang mendengar percakapan itu.

Tidak ada yang tahu bahwa di saat Darrien sedang berlatih untuk mengejar Fiona—

Fiona sedang menceritakan bahwa Istana Lunaris dulunya adalah rumahnya.

Dan bahwa Crystal yang selama ini menjadi misteri—

pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Dua sisi cerita terus berjalan.

Satu di ruang kerajaan.

Satu lagi di area latihan.

Dan untuk sementara—

keduanya belum bertemu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience