372. Cara Grandmaster Berlatih

Romance Completed 594

BAB 372 — CARA GRANDMASTER BERLATIH

Malam kembali membawa Darrien menuju mimpi.

Namun kali ini—

tidak ada danau.

Tidak ada Fiona.

Tidak ada istana.

Ketika ia membuka matanya—

hanya hutan yang terbentang di hadapannya.

Pohon-pohon tinggi menjulang.

Kabut tipis bergerak di antara akar.

Suara burung terdengar dari kejauhan.

Dan di tengah hutan—

Grandmaster Darrien berdiri.

Sendirian.

Darrien mengerutkan kening.

“…”

Ia melihat sekeliling.

*Di mana ini?*

Tidak lama kemudian—

Grandmaster Darrien mulai bergerak.

Tidak ada persiapan panjang.

Tidak ada chanting.

Ia hanya berjalan menuju sebuah area terbuka.

Di sana—

beberapa magic dummy telah berdiri.

Bentuknya menyerupai humanoid.

Namun tubuh mereka terbuat dari batu dan magicure yang dipadatkan.

Grandmaster Darrien berdiri di depan mereka.

Kemudian—

ia menghilang.

**WHOOSH!**

Satu magic dummy langsung hancur.

Bukan karena ledakan besar.

Hanya satu pukulan.

Darrien terdiam.

“…”

Grandmaster Darrien berpindah lagi.

Satu langkah.

Satu serangan.

Satu target.

Hancur.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Tidak ada kekuatan yang terbuang.

Darrien memperhatikan dengan serius.

*Dia bahkan tidak menggunakan banyak magicure.*

Ia mulai memperhatikan sesuatu.

Grandmaster Darrien tidak menyerang berdasarkan posisi tubuh dummy.

Ia seperti—

menyerang berdasarkan aliran magicure di dalamnya.

Sebelum dummy bergerak—

ia sudah tahu.

Sebelum titik lemahnya terlihat—

ia sudah menemukannya.

Darrien menatap lebih dalam.

“Jadi…”

Ia perlahan memahami.

“Magic sense.”

***

Grandmaster Darrien melanjutkan latihan.

Kali ini—

ia menutup matanya.

Beberapa magic dummy bergerak bersamaan.

Cepat.

Dari berbagai arah.

Namun Grandmaster Darrien tetap berdiri diam.

Darrien memperhatikan.

Satu dummy bergerak dari kiri.

Satu dari kanan.

Dua dari belakang.

Grandmaster Darrien tidak membuka mata.

Kemudian—

**WHOOSH!**

Ia bergerak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Semua serangan dihindari.

Tidak ada satu pun yang menyentuhnya.

Darrien membeku.

*Dia merasakan mereka.*

Bukan melihat.

Bukan mendengar.

Merasa.

Magicure di sekitar tubuh Grandmaster Darrien bergerak begitu halus sehingga seolah-olah seluruh hutan adalah bagian dari indranya.

Darrien mencoba memahami sensasi itu.

Dan perlahan—

ia juga mulai merasakan sesuatu.

Udara.

Tanah.

Pepohonan.

Aliran magicure.

Semuanya seperti memiliki denyut sendiri.

Darrien mengangkat tangannya.

“…”

Ia bisa merasakan perbedaan magicure di antara pepohonan.

Yang satu lebih kuat.

Yang lain lebih tipis.

Ada makhluk kecil di balik semak.

Ada burung di atas pohon.

Bahkan air yang mengalir jauh di dalam hutan memiliki aliran magicure tersendiri.

Darrien terdiam.

*Selama ini… aku hanya menggunakan magicure.*

*Dia merasakannya.*

Itu perbedaannya.

***

Pemandangan berubah.

Grandmaster Darrien sekarang berdiri di depan sebuah air terjun.

Air jatuh dari tebing tinggi.

Suara air memenuhi seluruh tempat.

Darrien berdiri di belakangnya.

Ia tahu ini latihan berikutnya.

Grandmaster Darrien melangkah masuk ke bawah air terjun.

Air menghantam tubuhnya.

Tidak ada perlindungan.

Tidak ada barrier.

Ia hanya berdiri.

Darrien mengerutkan kening.

“Dia latihan apa?”

Kemudian—

ia melihatnya.

Magicure.

Air terjun memiliki aliran yang terus menerus.

Tekanan air.

Angin.

Batu.

Semua memiliki gerakan berbeda.

Grandmaster Darrien menutup mata.

Ia tidak mencoba melawan air.

Ia merasakan alirannya.

Menyesuaikan tubuhnya.

Magicure di tubuhnya bergerak mengikuti ritme air.

Bukan melawan.

Menyatu.

Darrien memperhatikan.

Beberapa saat kemudian—

ia menyadari bahwa tubuh Grandmaster Darrien hampir tidak bergerak.

Namun keseimbangannya sempurna.

Tidak ada magicure berlebihan.

Tidak ada barrier.

Hanya kontrol.

Darrien menarik napas.

*Jadi ini bukan latihan kekuatan.*

*Ini latihan kendali.*

***

Pemandangan kembali berubah.

Kali ini—

Grandmaster Darrien berada di sebuah padang terbuka.

Angin bertiup.

Tidak ada target.

Tidak ada musuh.

Ia berdiri diam.

Darrien menunggu.

Tidak terjadi apa-apa.

Kemudian—

Grandmaster Darrien menghilang.

Bukan teleportasi.

Gerakan biasa.

Namun begitu cepat—

Darrien bahkan hampir tidak bisa melihatnya.

Ia muncul kembali beberapa puluh meter jauhnya.

Kemudian kembali.

Kemudian menghilang lagi.

Darrien mengerutkan kening.

Ia mulai memperhatikan pola.

Langkahnya tidak sembarangan.

Setiap perpindahan dilakukan berdasarkan aliran magicure di sekelilingnya.

Ia menggunakan lingkungan.

Bukan melawannya.

Darrien tersenyum kecil.

“Jadi begitu…”

Ia mulai mengerti.

***

Pemandangan berubah sekali lagi.

Grandmaster Darrien sekarang duduk di atas sebuah batu.

Diam.

Tidak melakukan apa-apa.

Darrien hampir mengira latihan sudah selesai.

Namun kemudian—

ia merasakan sesuatu.

Magicure.

Sangat tipis.

Grandmaster Darrien sedang memperluas magic sense-nya.

Perlahan.

Semakin jauh.

Hutan.

Gunung.

Sungai.

Makhluk hidup.

Bahkan magicure yang bergerak jauh di bawah tanah.

Semua masuk ke dalam jangkauan indranya.

Darrien terdiam.

*Seberapa luas…?*

Ia tidak tahu.

Ia hanya tahu—

Grandmaster Darrien bisa merasakan dunia jauh lebih dalam daripada dirinya sekarang.

Dan saat itulah—

sesuatu berubah di dalam Darrien.

Ia mulai merasakan magicure miliknya sendiri.

Bukan sebagai energi.

Bukan sebagai sesuatu yang hanya digunakan untuk menyerang.

Melainkan—

sebagai bagian dari tubuh.

Bagian dari napas.

Bagian dari keberadaannya.

Darrien menutup matanya.

Untuk sesaat—

ia merasa berada di dalam tubuh Grandmaster Darrien.

Ia merasakan dark magic mengalir.

Tenang.

Dalam.

Tidak liar.

Tidak memaksa.

Magicure bergerak mengikuti kehendaknya.

Bukan sebaliknya.

Darrien membuka matanya.

“…”

Ia menatap Grandmaster Darrien.

Untuk pertama kalinya—

ia tidak hanya melihat kekuatan.

Ia melihat cara hidup seseorang yang benar-benar memahami sihirnya.

***

Grandmaster Darrien akhirnya membuka mata.

Ia berdiri.

Kemudian berjalan meninggalkan hutan.

Darrien mengikutinya.

Namun semakin jauh mereka berjalan—

semakin samar pemandangan itu.

Darrien mencoba mempertahankan mimpi.

Tidak bisa.

Hutan mulai menghilang.

Air terjun menghilang.

Magic dummy menghilang.

Dan Grandmaster Darrien juga perlahan memudar.

Namun sebelum semuanya menghilang—

Darrien masih bisa merasakan satu hal.

Magicure.

Bukan kekuatan yang besar.

Bukan ledakan.

Melainkan—

kedalaman.

Kontrol.

Dan kesadaran terhadap dunia di sekitarnya.

***

Darrien membuka mata.

Ia berada di kamar Veyth.

Malam masih belum berakhir.

Ia duduk perlahan.

Menatap telapak tangannya.

Ia tidak mencoba menggunakan sihir.

Hanya merasakan.

Dan untuk pertama kalinya—

ia bisa merasakan magicure di dalam ruangan dengan cara yang sedikit berbeda.

Lebih jelas.

Lebih dalam.

Ada aliran tipis di sekitar dinding.

Ada magicure di udara.

Ada jejak energi kehidupan dari makhluk-makhluk di luar.

Darrien terdiam.

Kemudian tersenyum kecil.

“Jadi…”

Ia memahami satu hal.

Grandmaster Darrien bukan kuat karena memiliki magicure yang besar.

Ia kuat karena—

**ia memahami magicure-nya.**

Darrien kembali berbaring.

Namun pikirannya tidak langsung tenang.

Besok—

ia ingin mencoba.

Sedikit saja.

Tidak untuk menjadi Grandmaster.

Tidak untuk memaksa ingatan kembali.

Hanya untuk melihat—

seberapa jauh tubuhnya bisa belajar dari apa yang telah ia lihat.

Dan malam kembali menjadi sunyi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience