Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 485 — PERMAINAN DI DALAM DIMENSI II
Dimensi itu berubah lagi.
Tidak ada peringatan.
Tidak ada suara.
Hanya—
DUARRR!
Tanah di bawah kaki Darrien tiba-tiba terlipat.
Tubuhnya meluncur ke bawah seperti dunia baru saja kehilangan gravitasi.
"WOAAAAAH!"
Ace terlempar bersamanya.
"KENAPA LAGI?!"
Elyon berhasil melompat ke sebuah batu yang melayang di udara.
Rowan menarik Kevin sebelum pria itu jatuh ke celah yang terbuka.
Elarion langsung mengangkat tangannya.
"Jangan bergerak sembarangan!"
Terlambat.
Batu tempat Ace berdiri tiba-tiba berputar.
"AH!"
Ace jatuh.
Namun tangannya berhasil mencengkeram ujung batu.
"AKU BENCI GUNUNG INI!"
Kevin menunduk melihat ke bawah.
"Menarik."
Ace menatapnya dari bawah.
"JANGAN BILANG MENARIK!"
Kevin justru tersenyum.
"Dimensinya kembali berubah."
"AKU TAHU!"
Ace berusaha menarik tubuhnya ke atas.
"Tapi aku tidak butuh penjelasan ilmiah sekarang!"
Darrien yang berdiri beberapa meter di depan mereka tidak ikut bercanda.
Matanya menyapu seluruh ruang.
Tempat itu telah berubah total.
Tidak ada lagi hutan.
Tidak ada lagi jalan batu.
Kini mereka berada di sebuah ruang luas berwarna kelabu gelap.
Puluhan batu besar melayang tanpa pola.
Beberapa lingkaran sihir kuno berputar perlahan di udara.
Dan di antara semuanya—
bayangan hitam bergerak.
Darrien mempersempit matanya.
"...Mereka datang lagi."
GRRRRRR—
Suara geraman terdengar dari segala arah.
Satu.
Dua.
Lalu puluhan.
Makhluk-makhluk hitam muncul dari balik batu-batu melayang.
Bentuknya seperti serigala, tetapi tubuh mereka terbuat dari bayangan dan energi sihir.
Mata mereka menyala merah.
Ace akhirnya berhasil naik.
Ia langsung berdiri di samping Darrien.
"...Berapa banyak?"
Rowan menghitung cepat.
"Setidaknya tiga puluh."
Ace menelan ludah.
"Kenapa semakin lama semakin banyak?"
Elarion menjawab tenang.
"Karena dimensi ini sedang mempelajari kita."
Semua terdiam.
Kevin justru terlihat semakin tertarik.
"Benar."
Ia mengangkat tangannya.
"Setiap kali kita menunjukkan pola serangan tertentu, dimensinya menyesuaikan bentuk pertahanan."
Darrien mengepalkan tangan.
"Jadi semakin lama kita berada di sini..."
Elyon menyelesaikan kalimatnya.
"...semakin banyak informasi yang mereka miliki tentang kita."
Darrien menatap makhluk-makhluk di depan.
Senyumnya muncul tipis.
"Kalau begitu..."
Magicure hitam mulai mengalir dari tubuhnya.
"...kita berhenti memberi mereka pola."
WHOOOM!
Aura Darrien meledak.
Makhluk-makhluk bayangan langsung menerjang.
"FORMASI!"
Elyon mengangkat tangan.
Cahaya menyambar.
Rowan bergerak ke sisi kiri.
Elarion menutup sisi kanan.
Kevin menciptakan lapisan penghalang.
Dan Ace—
"AKU DI DEPAN!"
Darrien menoleh.
"Kenapa?"
Ace tersenyum kaku.
"Karena kalau aku di belakang kalian, aku tetap akan diserang."
"...Masuk akal."
"KAN?!"
DUARR!
Seekor makhluk bayangan menghantam Ace.
"AH!"
Ace terpental.
Darrien menangkap kerah bajunya.
"Fokus."
"Aku fokus!"
Ace menunjuk makhluk yang baru saja menghantamnya.
"Dia yang tidak fokus!"
Darrien melemparkannya kembali ke medan.
"Berhenti mengeluh."
"Aku sedang bertahan hidup!"
Darrien langsung melesat.
BOOM!
Satu pukulan menghantam kepala makhluk bayangan.
Tubuhnya pecah menjadi kabut hitam.
Namun—
kabut itu tidak menghilang.
Ia berkumpul kembali.
Darrien berhenti.
"...Regenerasi?"
Elyon segera menyadarinya.
"Bukan."
Ia menatap kabut yang menyatu kembali.
"Dimensinya mengembalikannya ke bentuk sebelumnya."
Kevin tersenyum lebar.
"Lebih menarik."
Ace menoleh.
"Kevin."
"Hm?"
"Kalau kau bilang menarik sekali lagi..."
Ace mengangkat pedangnya.
"...aku yang akan membuatmu menarik."
Kevin tertawa kecil.
"Baik."
Darrien tidak ikut tertawa.
Ia menatap makhluk yang baru saja bangkit.
Kemudian melihat lingkaran sihir yang berputar di atas mereka.
"Jangan hancurkan makhluknya."
Semua menoleh.
Darrien melanjutkan.
"Serang sumbernya."
Elarion mengangkat alis.
"Jadi kau sudah menemukannya?"
"Belum."
Darrien menarik napas.
"Tapi kalau mereka terus kembali..."
Tatapannya tajam.
"...berarti ada sesuatu yang memanggil mereka kembali."
Kevin langsung memahami.
"Jangan hancurkan tubuh."
Ia menunjuk lingkaran sihir.
"Paksa dimensi menunjukkan sumbernya."
Elyon tersenyum.
"Bagus."
Darrien menurunkan tubuhnya.
Magicure semakin padat.
"Kalau begitu..."
WHOOOSH!
Ia melesat.
Kali ini bukan menuju makhluk.
Ia menuju ruang kosong di antara mereka.
Tangannya menghantam udara.
DUARRRR!
Retakan muncul.
Dimensi bergetar.
Makhluk-makhluk bayangan mendadak berhenti.
Lingkaran sihir di atas mereka berputar lebih cepat.
Elarion langsung berteriak.
"Itu dia!"
Darrien menyeringai.
"Ketemu."
Namun pada detik berikutnya—
seluruh dimensi menjadi gelap.
Ace membeku.
"...Aku punya firasat buruk."
Rowan menatap sekeliling.
"Firasatmu selalu buruk."
"Karena biasanya benar!"
GRRRRRRR—
Suara geraman terdengar.
Bukan dari tiga puluh makhluk.
Bukan dari lima puluh.
Kali ini—
ratusan mata merah terbuka di dalam kegelapan.
Ace perlahan menurunkan pedangnya.
"...Oke."
Ia menelan ludah.
"Survival mode."
Darrien tersenyum.
"Survival mode."
Dan seluruh pasukan bayangan menyerbu sekaligus.
***
Di luar dimensi—
Mufasa berdiri di sebuah ruang pengawasan kuno di dalam gunung.
Di depannya terdapat sebuah kristal besar.
Permukaannya menampilkan gambaran samar dari dimensi tempat Veyth bertarung.
Darrien.
Elyon.
Elarion.
Kevin.
Rowan.
Ace.
Semuanya terlihat jelas.
Mufasa menyilangkan kedua tangannya.
Beberapa penyihir vampir berdiri di belakangnya.
Para magic-vampire lainnya menunggu perintah di sepanjang ruangan.
Seorang penyihir menundukkan kepala.
"Yang Mulia Mufasa."
Mufasa tidak mengalihkan pandangan.
"Mereka sudah memasuki lapisan kedua."
Penyihir itu mengangguk.
"Perintah selanjutnya?"
Mufasa terdiam sejenak.
Tatapannya tetap pada Darrien.
Magicure pria itu berbeda.
Jauh lebih padat daripada sebelumnya.
Lebih stabil.
Dan jauh lebih berbahaya.
Mufasa menarik napas panjang.
"Jangan serang mereka secara langsung."
Para penyihir saling memandang.
"Gunakan dimensi."
Mufasa menunjuk kristal.
"Biarkan mereka bertarung."
"Biarkan mereka berpikir mereka menemukan jalan."
"Biarkan mereka memecahkan beberapa lapisan."
Ia berhenti.
Kemudian suaranya menjadi lebih tegas.
"Namun jangan biarkan mereka mencapai jalur utama menuju istana."
Salah satu magic-vampire maju.
"Bagaimana dengan lapisan berikutnya?"
Mufasa menatapnya.
"Gunakan pola berbeda."
"Jangan ulangi jebakan yang sama."
"Dimensi harus terus berubah."
"Jika mereka mulai memahami satu mekanisme..."
Mufasa mengangkat tangannya.
"...ubah mekanismenya."
Para penyihir segera bergerak.
Lingkaran sihir di seluruh ruang mulai menyala.
Energi mengalir menuju gunung.
Jalur-jalur kuno bergerak.
Ruang terlipat.
Beberapa lorong tertutup.
Lorong lain terbuka.
Perangkap baru mulai terbentuk.
Mufasa kembali melihat kristal.
Darrien baru saja menghancurkan salah satu makhluk bayangan.
Namun jumlah musuh justru semakin banyak.
Mufasa menghela napas.
"Jangan remehkan mereka."
Ia terdiam sesaat.
Lalu berkata dengan suara rendah—
"Perang dengan Veyth telah dimulai."
Para penyihir langsung berhenti.
Mufasa menatap seluruh pasukannya.
"Kita tidak sedang bermain lagi."
Tatapannya tajam.
"Kita perlu menarik mereka ke perangkap kita."
"Dan sebelum mereka menyadarinya..."
Ia mengepalkan tangan.
"...kita harus menendang mereka keluar."
Jeda.
"Jauh dari istana."
Mufasa kembali menatap kristal.
Di dalamnya, Darrien dan kelompoknya masih bertarung.
Ratusan makhluk bayangan mulai mengepung mereka.
Namun Darrien justru tersenyum.
Mufasa menghela napas panjang.
"...Mereka memang keras kepala."
Kemudian wajahnya kembali serius.
"Mereka..."
Ia memberi perintah terakhir.
"...tidak boleh melewati gunung."
Seluruh penyihir menjawab bersamaan.
"Ya, Tuan Mufasa."
Dan seluruh jaringan pertahanan Shadowcresent—
mulai bergerak.
