154. Pesan Dari Istana

Romance Series 382

BAB 154
PESAN DARI ISTANA

Latihan akhirnya berhenti.

Fiona mengambil napas panjang.

Darrien berdiri di sampingnya.

Elarion berjalan mendekati Rowan, Kevin, dan Ace.

“Kalian membuat kami menunggu cukup lama.”

Kevin langsung menghela napas.

“Jangan ingatkan aku.”

Ace menjatuhkan dirinya ke kursi terdekat.

“Aku masih merasa sedang duduk di ruang pertemuan.”

Fiona tertawa kecil.

“Sebegitu lamanya?”

“Lebih lama.”

Rowan menggeleng.

“Kami membawa pesan dari istana.”

Elarion menjadi serius.

“Pesan apa?”

Rowan mengeluarkan sebuah dokumen.

“Yang Mulia meminta kita melanjutkan penelitian mengenai kejadian di hutan.”

Elarion menerima dokumen tersebut.

“Masih mengenai para vampir?”

“Bukan hanya itu.”

Rowan menatap Darrien.

“Juga mengenai kekuatan yang muncul ketika segelnya pecah.”

Darrien terdiam.

Fiona meliriknya.

Elarion membuka dokumen itu.

Beberapa catatan lama tertulis di dalamnya.

“Yang Mulia ingin kita mencari hubungan antara sihir ini dengan catatan kuno kerajaan.”

Kevin mengangguk.

“Termasuk catatan mengenai segel.”

Ace menambahkan,

“Dan catatan lama mengenai seseorang yang pernah menghilang dari kerajaan.”

Darrien mengerutkan kening.

“Seseorang?”

Rowan mengangguk.

“Belum ada kepastian.”

Elarion menutup dokumen itu.

“Jadi mereka masih mencari petunjuk.”

“Benar.”

Darrien tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menatap dokumen tersebut.

Fiona berdiri di sampingnya.

Kemudian menggenggam tangannya.

Darrien menoleh.

Fiona tersenyum kecil.

Tidak perlu berkata apa-apa.

***

Elyon masih berdiri cukup jauh.

Ia mendengar percakapan mereka dari kejauhan.

Namun perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada dokumen kerajaan.

Matanya sesekali kembali kepada Fiona.

Light Magic.

Crystal Hall.

Mimpi-mimpi aneh.

Dan sekarang—

penelitian mengenai Darrien.

Elyon mengerutkan kening.

Dua orang.

Dua kekuatan yang tidak biasa.

Dan semakin banyak pertanyaan.

Namun ia tidak akan terburu-buru.

Ia masih membutuhkan lebih banyak bukti.

***

Elarion kembali menatap trio.

“Beristirahatlah dulu.”

Kevin mengangguk cepat.

“Dengan senang hati.”

Ace sudah hampir tertidur di kursinya.

Rowan hanya tertawa kecil.

“Besok kita lanjutkan.”

Darrien melihat mereka.

“Jadi kalian benar-benar belum tidur cukup?”

Kevin menatapnya.

“Menurutmu?”

Darrien tertawa.

Fiona juga ikut tertawa.

Setelah perjalanan panjang dan pertemuan yang melelahkan—

akhirnya mereka kembali.

Namun bersama kepulangan mereka—

sebuah penelitian baru juga dimulai.

Dan tidak seorang pun di rumah itu tahu…

berapa banyak rahasia lama yang masih menunggu untuk ditemukan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience