110. Kembali Ke Veyra

Romance Series 382

BAB 110
KEMBALI KE VEYRA

Setelah meninggalkan istana, Kevin, Ace, dan Rowan kembali menuju kediaman Rowan.

Kali ini langkah mereka terasa sedikit lebih ringan.

Mereka akhirnya mendapatkan izin.

Namun sebelum kembali ke rumah, Rowan membawa mereka berhenti di sebuah toko perlengkapan sihir.

“Apa lagi?” tanya Ace.

Rowan menunjuk beberapa rak.

“Perlengkapan untuk penelitian.”

Kevin menghela napas.

“Kita bahkan belum masuk perpustakaan.”

“Justru karena itu.”

Rowan mengambil beberapa lembar kertas khusus.

“Catatan dari arsip kuno tidak boleh ditulis sembarangan.”

Ace mengangguk.

“Baiklah.”

Beberapa saat kemudian—

mereka kembali membawa lebih banyak perlengkapan.

***

Begitu tiba di kediaman Rowan—

Elarion langsung menoleh.

“Bagaimana?”

Kevin mengangkat surat kerajaan.

“Berhasil.”

Elarion tersenyum.

“Bagus.”

Fiona yang sedang membantu memilah tanaman langsung mendekat.

“Jadi kalian boleh masuk?”

Rowan mengangguk.

“Ke bagian arsip yang kita perlukan.”

Darrien terlihat sedikit lega.

“Berarti kita bisa menemukan jawaban?”

Kevin menggeleng.

“Belum tentu.”

“Setidaknya sekarang kita bisa mencari.”

Ace meletakkan beberapa barang di atas meja.

“Dan kita juga membawa kabar baik.”

Elarion mengangkat alis.

“Apa?”

Ace menunjuk dirinya sendiri.

“Kita masih hidup setelah bertemu raja.”

Fiona tertawa.

“Bukankah itu memang seharusnya?”

“Tidak selalu.”

Kevin langsung memukul ringan lengannya.

“Jangan membuatnya terdengar seperti kita baru pulang dari perang.”

Ace tertawa.

***

Rowan membuka dokumen kerajaan.

“Perpustakaan akan bisa kita akses besok.”

Elarion mengangguk.

“Bagus.”

Ia kemudian melihat meja penelitian.

“Kita masih punya pekerjaan hari ini.”

Kevin melihat tumpukan bahan.

“Jangan bilang…”

Elarion tersenyum.

“Kita kehabisan beberapa herbal.”

Ace menutup wajah.

“Lagi?”

“Ya.”

Fiona tertawa.

“Berarti kita kembali ke Veyra.”

Darrien menatapnya.

“Kau terdengar terlalu senang.”

“Aku suka Veyra.”

Elarion mengangkat daftar.

“Kita membutuhkan Moonroot, Silverthorn, Starflower kering, dan beberapa bubuk kristal.”

Rowan mengangguk.

“Aku tahu toko yang menjualnya.”

Ace menunjuk Rowan.

“Kau ikut?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku harus mempersiapkan daftar arsip yang akan kita cari besok.”

Kevin mengangguk.

“Aku juga harus memeriksa ulang beberapa teori.”

Ace menghela napas.

“Jadi aku yang harus membawa barang?”

Fiona tersenyum.

“Sepertinya.”

Ace menunjuknya.

“Kau juga ikut.”

“Tentu.”

Darrien tertawa kecil.

“Kalau begitu kita pergi bersama.”

***

Beberapa saat kemudian—

Elarion, Darrien, Fiona, Kevin, dan Ace kembali berjalan menuju Veyra.

Kali ini tujuan mereka bukan sekadar berjalan-jalan.

Mereka memiliki daftar panjang.

Dan Elarion tahu persis apa yang ia cari.

Begitu memasuki pasar bahan sihir, suasana kembali ramai.

Seorang Elf menjual akar-akar bercahaya.

Seorang dwarf menawarkan kristal kecil.

Beastfolk memenuhi salah satu kedai dengan berbagai jenis rempah.

Fiona melihat sekeliling.

“Veyra tetap ramai.”

Elarion tersenyum.

“Karena semua orang datang ke sini untuk mencari sesuatu.”

Ia berhenti di depan sebuah kios.

“Dan kita datang untuk mencari bahan penelitian.”

Pedagang Elf menyambut mereka.

“Moonroot?”

Elarion mengangguk.

“Yang segar.”

Pedagang itu mengambil beberapa ikatan tanaman.

Elarion memeriksanya satu per satu.

“Yang ini.”

Ia menunjuk dua ikatan.

“Yang lainnya terlalu lama disimpan.”

Fiona memperhatikan.

“Kau benar-benar bisa membedakannya.”

Elarion tersenyum.

“Kalau aku tidak bisa, kalian mungkin sudah diracuni sejak percobaan pertama.”

Darrien langsung menatapnya.

“Jangan bercanda soal itu.”

Elarion tertawa.

***

Mereka berpindah dari satu toko ke toko lainnya.

Herbal.

Bubuk sihir.

Kristal.

Wadah khusus.

Beberapa bahan yang bahkan Fiona belum pernah dengar namanya.

Di tengah perjalanan, Fiona berhenti di depan sebuah toko kecil.

“Elarion.”

“Hm?”

“Yang itu apa?”

Ia menunjuk sebuah botol kecil berisi cairan biru.

“Ramuan pemulih.”

“Bisa diminum?”

“Bisa.”

“Rasanya?”

Elarion menatap botol itu.

“Buruk.”

Fiona langsung kehilangan minat.

Darrien tertawa.

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Karena kau akhirnya tidak ingin membeli sesuatu.”

Fiona memelototinya.

“Aku hanya bertanya.”

Ace yang berjalan di belakang mereka tertawa.

“Pertanyaan Fiona selalu berakhir dengan pembelian.”

“Tidak selalu!”

“Kalung?”

Fiona terdiam.

“Permen?”

Ia kembali diam.

Darrien menahan tawa.

Elarion hanya menggeleng.

***

Saat matahari mulai condong—

tas mereka akhirnya penuh.

Elarion memeriksa daftar.

“Moonroot.”

“Sudah.”

“Silverthorn.”

“Sudah.”

“Starflower.”

“Sudah.”

“Bubuk kristal.”

Ace mengangkat satu kantong.

“Sudah.”

Elarion tersenyum puas.

“Bagus.”

Fiona melihat semua barang.

“Apakah ini cukup?”

Elarion mengangguk.

“Untuk beberapa percobaan.”

Darrien menatapnya.

“Beberapa?”

Elarion tersenyum.

“Jangan terlalu berharap berhasil dalam satu percobaan.”

Darrien menghela napas.

“Aku sudah tahu.”

Mereka kembali berjalan menuju rumah.

Besok—

mereka akan memasuki Perpustakaan Kerajaan.

Dan mungkin akhirnya menemukan sesuatu yang lebih tua daripada tiga ratus tahun.

Namun untuk hari ini—

mereka hanya membawa pulang bahan-bahan baru.

Serta harapan kecil bahwa percobaan berikutnya tidak akan kembali gagal.

Meskipun—

melihat sejarah penelitian mereka…

kemungkinan besar akan gagal lagi.

Ace tertawa.

“Kalau gagal lagi, aku berhenti menghitung.”

Kevin mengangguk.

“Aku sudah berhenti menghitung sejak percobaan kesepuluh.”

Elarion menatap mereka.

“Kalian berdua terlalu pesimis.”

Fiona tersenyum.

“Kalau begitu, Elarion yang menghitung.”

Elarion terdiam.

“…Aku tiba-tiba tidak ingin menghitung.”

Semua tertawa.

Untuk sesaat—

penelitian tentang segel Darrien terasa tidak terlalu berat.

Besok adalah hari untuk arsip kuno.

Hari ini—

mereka hanya menikmati perjalanan pulang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience