Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 116
PERTEMUAN KEDUA
Perjalanan pulang Darrien dan Fiona berjalan santai.
Matahari mulai tenggelam ketika mereka memasuki jalan utama Veyra.
Fiona masih menggenggam tangan Darrien.
Sesekali ia melihat-lihat toko yang mulai menyalakan lampu.
“Veyra terlihat berbeda saat sore.”
“Lebih ramai.”
“Dan lebih cantik.”
Darrien tersenyum.
“Kau memang suka tempat ini.”
“Benar.”
Mereka terus berjalan.
Namun ketika melewati sebuah persimpangan—
Fiona tiba-tiba berhenti.
Seseorang berdiri tidak jauh dari mereka.
Seorang pria berambut terang dengan wajah tampan dan penampilan seorang pengelana.
Jubahnya sederhana.
Namun auranya terasa berbeda.
Darrien juga berhenti.
Ia mengenali pria itu.
“Elyon?”
Pria tersebut menoleh.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Kalian.”
Fiona tersenyum.
“Kau kembali ke Veyra?”
“Ya.”
Elyon berjalan mendekat.
“Ada beberapa hal yang harus kulakukan di sini.”
Darrien mengangguk.
“Masih tentang penelitian?”
“Kurang lebih.”
Tatapan Elyon kemudian berpindah kepada Fiona.
Lebih tepatnya—
kepada sesuatu yang tergantung di lehernya.
Daun perak.
Fiona menyadarinya.
Ia menyentuh kalung tersebut.
“Kenapa?”
Elyon tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Namun matanya tetap memperhatikan daun itu.
Darrien memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi Elyon.
“Kau mengenal benda itu?”
Elyon tidak langsung menjawab.
“Bisa dibilang aku pernah melihat benda yang mirip.”
Fiona langsung tertarik.
“Benarkah?”
“Ya.”
“Di mana?”
“Di beberapa catatan lama.”
Jawaban itu membuat Darrien sedikit waspada.
“Catatan tentang apa?”
Elyon tersenyum.
“Artefak.”
Fiona memegang daun peraknya.
“Ini artefak?”
“Aku belum bisa memastikan.”
Elyon menggeleng.
“Itulah alasan aku ingin melihatnya.”
Fiona mengangkat kalung tersebut sedikit.
Elyon memperhatikannya.
“Boleh?”
Fiona mengangguk.
Ia melepas kalung itu perlahan dan menyerahkannya.
Elyon tidak langsung menyentuhnya.
Ia mengulurkan tangan—
lalu berhenti beberapa sentimeter dari daun.
Cahaya perak muncul sangat samar.
Elyon menyipitkan mata.
Darrien melihatnya.
“Bereaksi lagi.”
“Ya.”
Elyon menarik tangannya.
Ia tidak mencoba menyentuhnya.
“Menarik.”
Fiona mengambil kembali kalungnya.
“Kenapa kau tidak menyentuhnya?”
“Karena aku ingin melihat reaksinya tanpa memaksanya.”
Darrien mengangguk perlahan.
“Masuk akal.”
Elyon tersenyum.
“Benda seperti ini sebaiknya tidak dipaksa.”
Fiona kembali mengenakan kalungnya.
“Kalau begitu…”
Ia menatap Elyon.
“Menurutmu kenapa benda ini memilihku?”
Elyon terdiam sesaat.
“Aku belum tahu.”
Jawabannya jujur.
“Dan aku tidak ingin menebak.”
Fiona mengangguk.
“Sayang sekali.”
Darrien tertawa kecil.
“Kau kecewa?”
“Sedikit.”
Elyon tersenyum.
“Kalau begitu aku akan mencoba mencari tahu.”
Darrien menatapnya.
“Di Veyra?”
“Untuk sementara.”
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam jubah.
“Dan kalau aku menemukan sesuatu…”
Ia menatap Fiona.
“Aku akan memberitahumu.”
Fiona tersenyum.
“Baik.”
Elyon kemudian melirik langit.
“Kalian sebaiknya kembali.”
“Elarion mungkin sedang menunggu.”
Darrien menghela napas.
“Benar.”
Fiona tertawa.
“Kalau kami terlambat, dia akan menyuruh kami mencoba percobaan berikutnya.”
Elyon tertawa kecil.
“Kalau begitu, aku tidak akan menahan kalian.”
Mereka mulai berpisah.
Namun setelah beberapa langkah—
Elyon memanggil.
“Fiona.”
Fiona menoleh.
“Ya?”
“Jaga baik-baik kalung itu.”
Fiona menyentuh daun peraknya.
“Tentu.”
Elyon tersenyum.
“Bagus.”
Darrien dan Fiona kemudian melanjutkan perjalanan.
Elyon berdiri di tempatnya.
Tatapannya mengikuti mereka hingga keduanya menghilang di balik jalan.
Senyumnya perlahan menghilang.
Ia kembali menatap ke arah tempat Fiona pergi.
“Manusia biasa…”
Ia menghela napas.
“Namun artefak kuno memilihnya.”
Elyon menatap langit Veyra.
“Semakin lama…”
“Semakin menarik.”
Kemudian ia berbalik.
Perjalanannya di Veyra baru saja dimulai.
