264. Rutinitas Yang Tidak Pernah Normal

Romance Series 382

BAB 264 — RUTINITAS YANG TIDAK PERNAH NORMAL

Pagi kembali menyelimuti Istana Veyth.

Cahaya matahari perlahan masuk melalui jendela kamar Darrien.

Darrien membuka matanya.

Untuk beberapa detik—

ia hanya menatap langit-langit.

Kemudian—

ia teringat sesuatu.

Latihan.

Darrien langsung menutup matanya kembali.

“Lima menit lagi…”

Hening.

Kemudian suara ketukan terdengar.

Tok.

Tok.

Tok.

Darrien tidak bergerak.

Tok.

Tok.

Tok.

Ia menarik selimut lebih tinggi.

“Tidak ada orang.”

Dari balik pintu—

suara Kevin terdengar datar.

“Kalau kau tidak keluar dalam tiga puluh detik, aku akan membuka pintunya.”

Mata Darrien langsung terbuka.

“Jangan!”

Ia bangkit dari tempat tidur.

“Kenapa kau selalu datang sepagi ini?!”

“Karena latihan dimulai pagi.”

“Itu bukan alasan untuk mengganggu tidur seseorang!”

“Dua puluh detik.”

Darrien menghela napas.

“Orang ini…”

Ia buru-buru bersiap.

***

Beberapa menit kemudian—

Darrien sudah berada di luar.

Kevin berdiri menunggunya.

Darrien masih terlihat mengantuk.

Kevin menatapnya.

“Kau terlambat.”

Darrien melihat matahari.

“Ini bahkan belum sepenuhnya naik.”

“Dan kau sudah terlambat.”

Darrien menghela napas.

“Baiklah.”

Kevin berbalik.

“Pemanasan.”

Darrien mengikuti.

***

Rutinitas pagi Darrien perlahan berubah sejak Kevin mengambil alih latihannya.

Tidak ada lagi sekadar berlari beberapa putaran.

Tidak ada lagi latihan fisik biasa.

Semuanya memiliki tujuan.

Pertama—

pernapasan.

Darrien harus berlari mengelilingi arena sambil mempertahankan ritme napas yang stabil.

Tidak boleh terlalu cepat.

Tidak boleh terlalu lambat.

Kevin berjalan di sampingnya.

“Tarik.”

Darrien menarik napas.

“Buang.”

Darrien mengembuskannya.

“Jangan angkat bahumu.”

Darrien menurunkannya.

“Langkahmu terlalu panjang.”

Darrien memperpendek langkah.

“Lebih baik.”

Darrien menatapnya.

“Apakah kau akan mengomentari setiap langkahku?”

“Ya.”

“…Aku menyesal bertanya.”

***

Setelah pemanasan—

latihan indra dimulai.

Darrien berdiri dengan mata tertutup.

Di sekelilingnya—

beberapa magical dummy bergerak.

Tidak menyerang.

Hanya bergerak.

Kevin berdiri di luar jangkauannya.

“Jangan gunakan mata.”

Darrien mengangguk.

“Gunakan mana.”

Darrien menarik napas.

Perlahan—

ia merasakan lingkungan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat sumber mana.

Namun salah satunya hampir tidak terasa.

Darrien mengerutkan kening.

“Yang itu.”

Kevin diam.

Darrien membuka mata.

Salah satu dummy berdiri di belakangnya.

Kevin mengangguk.

“Benar.”

Darrien tersenyum kecil.

“Mulai terbiasa.”

“Jangan puas.”

Darrien menghela napas.

“Tentu saja.”

***

Kemudian—

kecepatan.

Darrien berdiri di tengah arena.

Sebuah tanda kristal menyala.

Begitu cahaya berubah—

ia bergerak.

Satu target.

Dua.

Tiga.

Lima.

Target-target muncul secara acak.

Darrien harus mencapai semuanya dalam waktu sesingkat mungkin.

Namun Kevin melarangnya menggunakan kekuatan berlebihan.

“Jangan memaksa.”

Darrien bergerak.

“Gunakan langkah pendek.”

Ia bergerak lagi.

“Jangan melompat jika tidak perlu.”

Darrien berbelok.

“Jangan menggunakan mana untuk mempercepat setiap gerakan.”

Darrien mulai memahami.

Ia tidak perlu menjadi lebih cepat dengan terus menambah kekuatan.

Ia hanya perlu—

menghilangkan gerakan yang tidak diperlukan.

Tubuhnya menjadi lebih ringan.

Gerakannya semakin halus.

Dan kecepatannya—

justru meningkat.

Kevin memperhatikan.

Tidak mengatakan apa-apa.

***

Setelah itu—

latihan pengamatan.

Darrien menghadapi satu magical dummy.

Dummy tersebut menyerang dengan pola sederhana.

Darrien menahan.

Kemudian menyerang balik.

Namun Kevin menghentikannya.

“Tidak.”

Darrien berhenti.

“Apa?”

“Kau hanya melihat senjatanya.”

Darrien mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Lihat tubuhnya.”

Darrien kembali mengamati.

Bahu.

Pinggang.

Kaki.

Pusat gravitasi.

Gerakan kecil.

Kevin berkata,

“Senjata hanya mengikuti tubuh.”

Darrien mengangguk perlahan.

“Jadi aku harus membaca gerakan sebelum serangannya.”

“Benar.”

Darrien mencoba lagi.

Dummy bergerak.

Kali ini—

Darrien sudah bergerak sebelum serangan diluncurkan.

Ia menghindar.

Kemudian menyerang.

**CRACK!**

Dummy hancur.

Darrien tersenyum.

“Lebih mudah.”

Kevin menjawab,

“Karena kau melihat lebih baik.”

***

Kemudian—

dark magic.

Darrien berdiri di tengah arena.

Kevin berkata,

“Gunakan mana secukupnya.”

Darrien mengangguk.

Ia mengangkat tangan.

Dark mana mengalir.

Tidak ada chant.

Tidak ada mantra.

Hanya kehendak.

Sebuah lapisan tipis dark magic muncul di tangannya.

Kevin berkata,

“Jangan lebih besar.”

Darrien mempertahankannya.

“Jangan lebih kecil.”

Darrien menyesuaikan.

“Sekarang gerakkan.”

Darrien menggerakkan tangannya.

Dark mana mengikuti.

Stabil.

Tenang.

Kemudian—

Kevin melemparkan sebuah magical projectile.

Darrien memblokirnya.

**BOOM!**

Penghalang kecil muncul.

Tidak besar.

Tidak berlebihan.

Hanya cukup untuk menghentikan serangan.

Darrien menatap tangannya.

“Berhasil.”

Kevin mengangguk.

“Lagi.”

Darrien menatapnya.

“Serius?”

“Ya.”

“Bukankah tadi berhasil?”

“Sekali bukan berarti kau sudah menguasainya.”

Darrien menghela napas.

“Baik.”

***

Latihan terus berlanjut.

Hari demi hari.

Pagi demi pagi.

Darrien mulai terbiasa dengan rutinitas tersebut.

Bangun.

Pemanasan.

Pernapasan.

Indra.

Kecepatan.

Pengamatan.

Pertarungan.

Dark magic.

Tanpa chant.

Kemudian—

pertarungan gabungan.

Dan setelah itu—

pendinginan.

Tidak ada satu hari pun yang benar-benar ringan.

Namun perlahan—

perubahannya mulai terlihat.

Darrien tidak lagi menghabiskan mana sebanyak sebelumnya.

Gerakannya lebih efisien.

Napasnya lebih tenang.

Indranya lebih tajam.

Ia tidak lagi langsung menyerang ketika melihat sesuatu.

Ia mengamati.

Menilai.

Kemudian bergerak.

Dan yang paling penting—

ketika dark magic muncul di tubuhnya—

tidak ada lagi ledakan liar.

Mana itu bergerak seperti bagian dari tubuhnya sendiri.

***

Suatu sore—

Darrien duduk di tepi arena.

Tubuhnya basah oleh keringat.

Ia menatap Kevin.

“Berapa lama lagi?”

Kevin menjawab,

“Belum tahu.”

Darrien memijat bahunya.

“Itu jawaban yang paling tidak kusukai.”

Kevin berjalan melewatinya.

“Besok lebih sulit.”

Darrien langsung menatapnya.

“Kenapa?”

Kevin berhenti.

Kemudian—

sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Karena hari ini kau mulai terlalu nyaman.”

Darrien membeku.

Ia mengenal ekspresi itu.

Ekspresi yang sama seperti ketika Kevin menemukan cara baru untuk membuat latihan menjadi lebih buruk.

“…Apa yang kau rencanakan?”

Kevin hanya berjalan pergi.

“Besok kau akan tahu.”

Darrien menatap punggungnya.

Kemudian menghela napas.

“Aku benar-benar harus berhenti membuatmu kehilangan liburan.”

Dari luar arena—

Ace dan Rowan yang baru tiba langsung tertawa.

Elarion hanya menggeleng.

Dan Darrien—

untuk pertama kalinya—

tersenyum kecil.

Karena meskipun latihan itu melelahkan—

ia tahu dirinya semakin dekat dengan tujuan yang ingin dicapainya.

Menjadi cukup kuat.

Cukup cepat.

Cukup tenang.

Dan cukup terkendali—

untuk menghadapi apa pun yang mungkin menunggu mereka di perjalanan berikutnya.

Ia hanya belum tahu—

seberapa besar ujian yang sebenarnya sedang menunggunya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience