120.Di Tepi Danau Veyra

Romance Series 382

BAB 120
DI TEPI DANAU VEYRA

Setelah meninggalkan Elyon, Darrien dan Fiona terus berjalan tanpa terburu-buru.

Mereka tidak langsung kembali ke kediaman Rowan.

Fiona masih ingin melihat bagian lain dari Veyra.

“Darrien.”

“Hm?”

“Kita belum pernah ke danau.”

Darrien menatapnya.

“Danau?”

Fiona mengangguk.

“Orang-orang tadi bilang ada danau besar di sisi timur kota.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu kita lihat.”

Mereka berbelok menuju bagian timur Veyra.

Semakin jauh dari pusat perdagangan, suasana kota perlahan berubah.

Suara pedagang mulai menghilang.

Digantikan suara air.

Dan angin.

***

Danau Veyra jauh lebih luas daripada yang mereka bayangkan.

Permukaannya memantulkan langit sore.

Cahaya matahari berkilauan di atas air.

Di sepanjang tepi danau, banyak orang duduk menikmati sore.

Namun yang membuat Fiona tertarik bukan hanya pemandangannya.

Melainkan orang-orang yang ada di sana.

Seorang Elf duduk memancing di samping seorang dwarf.

Beastfolk bertelinga kelinci sedang menjual makanan kecil kepada manusia.

Beberapa anak manusia bermain di dekat air bersama anak-anak beastfolk.

Tidak jauh dari sana—

dua Elf sedang membantu seorang anak kecil bertelinga rubah menerbangkan layang-layang.

Fiona tersenyum.

“Tempat ini berbeda.”

Darrien mengangguk.

“Lebih tenang.”

“Dan mereka semua…”

Fiona memperhatikan sekitar.

“Bersama.”

Darrien tersenyum.

“Seperti yang kita lihat sebelumnya.”

“Ya.”

Fiona berjalan mendekati tepi danau.

Angin menyentuh rambutnya.

Ia memejamkan mata.

“Indah.”

Darrien berdiri di sampingnya.

“Kalau kau tinggal di sini, kau mungkin akan menghabiskan seluruh waktumu di danau.”

Fiona membuka mata.

“Mungkin.”

Ia menatap permukaan air.

“Di tempat seperti ini, rasanya semua orang benar-benar hanya…”

Ia mencari kata yang tepat.

“…menjadi orang biasa.”

Darrien menatapnya.

“Tidak ada yang peduli kau manusia, Elf, atau beastfolk.”

“Setidaknya di sini.”

Fiona tersenyum.

“Itu bagus.”

***

Tidak jauh dari mereka, seorang anak kecil terjatuh ketika mencoba berlari.

Fiona langsung mendekat.

“Kau tidak apa-apa?”

Anak itu mengangkat wajah.

Ia memiliki telinga kecil seperti anak kucing.

“Aku tidak apa-apa.”

Fiona mengulurkan tangan.

“Bangun.”

Anak itu menggenggam tangannya.

“Terima kasih, Kakak.”

Fiona tersenyum.

Darrien memperhatikan dari belakang.

Anak itu kemudian kembali berlari menuju teman-temannya.

Fiona berdiri.

“Lucu.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

“Kau tidak ingin punya adik?”

Darrien menatapnya.

“Kenapa tiba-tiba?”

“Tidak tahu.”

Fiona tertawa.

Mereka kembali berjalan.

***

Di tepi danau terdapat sebuah perahu kecil.

Seorang pria beastfolk dengan telinga beruang sedang menawarkan perjalanan singkat.

Fiona menatap perahu itu.

“Darrien.”

Darrien sudah tahu.

“Tidak.”

“Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Kau akan mengatakan ingin naik perahu.”

Fiona tertawa.

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena wajahmu.”

Fiona menarik lengannya.

“Ayo.”

Darrien akhirnya menyerah.

“Baiklah.”

Mereka naik ke perahu.

Pria beastfolk itu tersenyum.

“Pertama kali?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

“Kalau begitu duduklah dengan tenang.”

Perahu perlahan bergerak menjauh dari tepi danau.

Air beriak lembut.

Veyra terlihat berbeda dari tengah danau.

Bangunan-bangunan kota terlihat lebih kecil.

Menara-menara terlihat di kejauhan.

Dan berbagai ras yang memenuhi tepi danau terlihat seperti bagian dari satu kehidupan yang sama.

Fiona bersandar pada sisi perahu.

“Darrien.”

“Hm?”

“Kalau dunia memang seluas ini…”

Ia menatap cakrawala.

“Kenapa orang-orang masih memilih untuk saling membenci?”

Darrien tidak langsung menjawab.

Ia menatap air.

“Mungkin karena lebih mudah takut pada sesuatu yang tidak kita kenal.”

Fiona terdiam.

“Kalau begitu…”

Ia tersenyum.

“Berarti kita harus terus mengenal dunia.”

Darrien menoleh.

“Kenapa?”

“Supaya kita tidak takut hanya karena sesuatu berbeda.”

Darrien tersenyum.

“Itu pemikiran yang bagus.”

Fiona mengangkat dagunya.

“Aku tahu.”

Darrien tertawa.

“Percaya diri sekali.”

“Memang.”

Mereka kembali tertawa.

***

Matahari semakin rendah.

Perahu akhirnya kembali ke tepi danau.

Fiona turun lebih dulu.

Ia menatap danau sekali lagi.

“Aku suka tempat ini.”

Darrien berdiri di sampingnya.

“Aku juga.”

Fiona kemudian menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Darrien.

“Terima kasih sudah mengajakku.”

Darrien sedikit terkejut.

Namun ia tidak bergerak.

“Sama-sama.”

Mereka berdiri seperti itu beberapa saat.

Tidak perlu berbicara.

Tidak perlu membahas kerajaan.

Tidak perlu memikirkan segel.

Tidak perlu memikirkan siapa Darrien sebenarnya.

Sore itu—

mereka hanya dua orang yang sedang menikmati dunia.

Dan di sekitar mereka—

manusia, Elf, dwarf, dan beastfolk terus menjalani kehidupan masing-masing.

Berbeda.

Namun tetap bersama.

Fiona tersenyum.

“Mungkin Lunareth memang seperti ini.”

Darrien menatap keramaian di tepi danau.

“Tidak semuanya.”

Fiona mengangguk.

“Tapi setidaknya ada tempat yang seperti ini.”

Mereka kemudian berjalan pulang.

Meninggalkan danau yang perlahan berubah warna di bawah cahaya senja.

Hari itu tidak membawa jawaban tentang masa lalu mereka.

Tidak juga membawa rahasia baru.

Namun membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana—

sebuah kenangan kecil.

Tentang Veyra.

Tentang danau.

Dan tentang dua orang yang berjalan pulang berdampingan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience