349. Jangan Lari Lagi

Romance Completed 594

BAB 349 — JANGAN LARI LAGI

Darrien terus berjalan menyusuri lorong Istana Lunaris.

Ia sudah merasakan keberadaan Fiona.

Tidak terlalu jauh.

Namun semakin dekat ia bergerak—

semakin ia menyadari bahwa Fiona memang sengaja menyembunyikan keberadaannya.

Darrien berhenti.

Ia memejamkan mata.

Kemudian perlahan menurunkan aliran magicure di dalam tubuhnya.

Menyembunyikan auranya.

Menyembunyikan keberadaannya.

Bahkan jejak langkahnya.

Beberapa detik kemudian—

Darrien membuka mata.

Ia terdiam.

“…”

Sebuah perasaan aneh muncul.

Ia tahu bagaimana melakukannya.

Bukan karena seseorang mengajarinya baru-baru ini.

Bukan karena latihan Kevin.

Gerakan itu terasa…

alami.

Terlalu alami.

Seolah-olah tubuhnya sudah pernah melakukannya berkali-kali.

Darrien mengerutkan kening.

“Kenapa aku…”

Ia berhenti berpikir.

Tidak sekarang.

Kalau ia terlalu lama berpikir—

Fiona mungkin akan merasakan keberadaannya.

Darrien kembali bergerak.

Kali ini—

benar-benar tanpa suara.

***

Jalurnya membawa Darrien menuju Crystal Garden.

Tempat yang sudah sangat familiar bagi mereka.

Tempat Fiona dan dirinya sering datang.

Tempat mereka pernah bermain.

Tempat mereka pernah berbicara.

Dan tempat yang entah kenapa—

selalu membuat suasana di antara mereka terasa lebih tenang.

Darrien berjalan perlahan.

Tidak ada tanda Fiona di sekitar taman.

Ia melihat ke kiri.

Tidak ada.

Ke kanan.

Tidak ada.

Kemudian—

ia berhenti.

Ada suara.

Sangat lembut.

Nyaris tidak terdengar.

**Hhh…**

Darrien mengangkat kepalanya.

Matanya tertuju pada sebuah pohon Crystal.

Di salah satu cabangnya—

ada seseorang.

Fiona.

Ia tertidur.

Tubuhnya bersandar pada batang pohon.

Rambutnya jatuh perlahan melewati bahunya.

Wajahnya terlihat begitu tenang.

Tidak ada ekspresi Saintess.

Tidak ada aura seorang wanita dari masa lalu.

Hanya Fiona.

Darrien menatapnya beberapa saat.

Kemudian tersenyum.

“Masih tidur seperti biasa.”

Ia teringat kebiasaan Fiona.

Jika merasa lelah—

wanita itu bisa tidur di tempat mana pun yang dianggap nyaman.

Termasuk—

cabang pohon.

Darrien menggeleng kecil.

“Bukankah sakit tidur di pohon?”

Tidak ada jawaban.

Fiona masih tertidur.

Darrien kemudian melompat.

Tubuhnya melayang ringan ke atas.

Ia mendarat tepat di cabang yang sama.

Tidak ada suara.

Ia duduk di samping Fiona.

Beberapa saat ia hanya memperhatikannya.

Kemudian—

Darrien menghela napas.

“Kenapa kau selalu membuatku khawatir?”

Fiona bergerak sedikit dalam tidurnya.

Namun tidak terbangun.

Darrien tersenyum.

Ia mengulurkan tangan.

Dengan hati-hati—

ia mengangkat tubuh Fiona.

Fiona bergumam pelan.

“Hm…”

Namun matanya tetap tertutup.

Darrien menahan senyum.

“Tidur saja.”

Ia menggendong Fiona dalam pelukannya.

Kemudian melompat turun dari pohon.

Kali ini—

tidak ada langkah tergesa-gesa.

Tidak ada teleportasi.

Darrien hanya berjalan.

Membawa Fiona kembali ke istana.

***

Beberapa menit kemudian—

Darrien tiba di kamarnya.

Ia membuka pintu perlahan.

Kemudian membawa Fiona masuk.

Ia membaringkannya dengan hati-hati di tempat tidur.

Namun sebelum melepaskannya—

Darrien terdiam.

Tatapannya jatuh pada wajah Fiona.

Wanita itu masih tertidur.

Tenang.

Tidak tahu bahwa dirinya baru saja ditemukan.

Darrien tersenyum kecil.

“Won't let you go after this.”

Ia kemudian menarik selimut dan menutup tubuh Fiona.

Namun kali ini—

ia tidak langsung pergi.

Darrien duduk di sisi tempat tidur.

Ia memperhatikan Fiona dalam diam.

Kemudian—

perlahan, dark magic muncul dari tubuhnya.

Sangat tipis.

Sangat lembut.

Hampir tidak terlihat.

Energinya menyebar ke seluruh kamar.

Menyelimuti pintu.

Dinding.

Jendela.

Dan seluruh ruangan.

Bukan untuk menyerang.

Bukan untuk mengurung Fiona.

Melainkan—

untuk menyembunyikan keberadaan mereka dari luar.

Sebuah penghalang dark magic yang begitu halus sehingga hampir tidak terasa.

Darrien menatap lapisan sihir itu.

“Untuk sementara…”

Ia tersenyum.

“…biarkan dunia di luar tidak mengganggu.”

Fiona bergerak sedikit dalam tidurnya.

Kemudian tanpa sadar—

tangannya mencari sesuatu.

Darrien memperhatikan.

Tangannya akhirnya menyentuh pakaian Darrien.

Darrien membeku sebentar.

Kemudian tertawa kecil.

“Bahkan saat tidur…”

Ia membiarkan tangan Fiona tetap di sana.

“...kau masih mencariku.”

Darrien kembali duduk.

Ia tidak berniat membangunkannya.

Tidak sekarang.

Setidaknya—

sampai Fiona bangun sendiri.

Namun ada satu hal yang terus mengganggunya.

Cara ia menyembunyikan auranya.

Cara ia bergerak tanpa suara.

Cara tubuhnya seolah-olah tahu apa yang harus dilakukan.

Dan perasaan dari mimpi tadi.

Darrien menatap Fiona.

“Siapa sebenarnya diriku dulu…?”

Ia tidak mendapatkan jawabannya.

Belum.

Namun untuk pertama kalinya—

Darrien tidak lagi ingin terburu-buru.

Ia akan mencari jawabannya perlahan.

Dan kali ini—

ia akan melakukannya dari sisi Fiona.

Sementara Fiona masih tertidur dengan tenang di sampingnya.

Tidak mengetahui bahwa—

untuk pertama kalinya sejak ia mulai menghindarinya…

Darrien berhasil menemukannya.

Dan kali ini—

ia tidak membiarkannya pergi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience