Series
382
BAB 250
Suasana di sekitar mereka masih dipenuhi percakapan ringan.
Namun—
setelah undangan Queen Seraphine disampaikan,
Darrien justru terlihat lebih serius.
Ia menatap kedua orang tuanya.
Kemudian menoleh kepada King Zeith dan Queen Seraphine.
“Kalau begitu…”
Ia berhenti sebentar.
“Aku ingin ikut.”
Fiona yang berdiri di sampingnya langsung menoleh.
“Darrien?”
Darrien tersenyum kecil.
“Kalau kau pergi ke Lunaris…”
Ia melihat kepada Edward dan Gloria.
“…aku ingin memastikan kau tidak pergi sendirian.”
Fiona berkedip.
“Aku tidak sendirian.”
Ia menunjuk Elarion, Ace, dan Rowan.
“Mereka juga ada.”
Ace langsung mengangkat tangan.
“Benar.”
Rowan mengangguk.
“Kami ikut.”
Elarion hanya tersenyum.
“Sepertinya memang begitu.”
Darrien tertawa kecil.
“Kalau begitu aku tetap ingin ikut.”
Ia kemudian kembali menghadap kedua orang tuanya.
“Ayah.”
Edward mengangkat alis.
“Ibu.”
Gloria tersenyum.
“Ada apa?”
Darrien menarik napas.
“Bolehkah aku pergi ke Lunaris bersama Fiona?”
Edward dan Gloria saling berpandangan.
Tidak ada yang langsung menjawab.
***
Zeith memperhatikan kedua orang tua Darrien.
Ia bisa melihat keraguan mereka.
Bukan karena mereka tidak mempercayai Lunaris.
Namun—
Darrien baru saja kembali kepada mereka.
Dan sekarang—
putra mereka sudah ingin pergi ke kerajaan lain.
Gloria akhirnya berkata,
“Kau baru kembali.”
Darrien mengangguk.
“Aku tahu.”
“Dan sekarang kau ingin pergi?”
“Tidak lama.”
Gloria tersenyum kecil.
“Kau bahkan belum tahu berapa lama.”
Darrien terdiam.
Fiona menahan tawa.
Ace langsung menoleh ke arah Rowan.
“Dia kena.”
Rowan mengangguk serius.
“Benar.”
Darrien melirik mereka.
“Kalian diam.”
Ace segera mengangkat kedua tangannya.
“Baik.”
***
Edward masih diam.
Ia melihat putranya.
Kemudian melihat Fiona.
Kemudian melihat King Zeith dan Queen Seraphine.
Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.
Darrien baru kembali.
Ia belum sepenuhnya terbiasa dengan statusnya sebagai pewaris.
Namun—
Edward juga tahu bahwa melarangnya pergi hanya karena takut bukanlah jawaban.
Terutama jika perjalanan itu menuju Lunaris.
Kerajaan yang datang sendiri ke Veyth.
Dan menawarkan undangan secara langsung.
Edward akhirnya bertanya,
“Yang Mulia.”
Zeith menoleh.
“Ya?”
“Berapa lama kalian berencana menerima Fiona?”
Seraphine tersenyum.
“Tidak terlalu lama.”
Ia kemudian melirik Fiona.
“Beberapa hari.”
Edward mengangguk perlahan.
“Dan keselamatannya?”
Zeith tertawa kecil.
“Selama dia berada di Lunaris, dia akan menjadi tamu kami.”
Seraphine menambahkan,
“Kami sendiri yang akan memastikan keamanannya.”
Edward terdiam.
Kemudian ia melihat Gloria.
Gloria juga tampaknya sedang memikirkan hal yang sama.
***
Elyon yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka akhirnya berbicara.
“Yang Mulia.”
Edward menoleh.
Elyon menundukkan kepala.
“Jika itu yang membuat Yang Mulia khawatir…”
Ia berhenti sebentar.
“Aku juga akan berada di sana.”
Darrien menoleh kepadanya.
“Kau?”
Elyon tersenyum.
“Tentu.”
Ace langsung berbisik kepada Rowan.
“Sekarang kita punya penjaga resmi.”
Rowan mengangguk.
“Penasihat Agung Lunaris.”
Elyon mendengar mereka.
Ia hanya tersenyum.
“Jangan terlalu berharap aku akan menjaga kalian dari masalah yang kalian buat sendiri.”
Ace terdiam.
Rowan menahan tawa.
Fiona tertawa kecil.
***
Gloria akhirnya menghela napas.
“Kalau begitu…”
Ia menatap Darrien.
“Kalau kami mengizinkanmu pergi…”
Darrien langsung tersenyum.
Gloria mengangkat jarinya.
“Dengan syarat.”
Darrien kembali serius.
“Apa?”
“Kau tidak boleh meninggalkan Fiona sendirian tanpa alasan.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
“Dan kau harus menjaga dirimu sendiri.”
“Baik.”
“Dan jangan membuat masalah di Lunaris.”
Darrien terdiam.
Ace menoleh ke Rowan.
Rowan menoleh balik.
Keduanya berusaha keras menahan tawa.
Darrien akhirnya berkata,
“Aku tidak akan membuat masalah.”
Fiona tersenyum kecil.
Elarion bergumam,
“Semoga.”
Darrien menatapnya.
“Elarion.”
“Aku hanya berharap.”
***
Edward akhirnya tersenyum.
“Kalau begitu…”
Ia melihat Darrien.
“Aku setuju.”
Darrien langsung terlihat lega.
“Terima kasih, Ayah.”
Gloria juga tersenyum.
“Namun jangan terburu-buru.”
Darrien mengangguk.
“Kami masih harus mempersiapkan semuanya.”
Seraphine tersenyum.
“Itu sebabnya kami tidak meminta kalian pergi malam ini.”
Zeith mengangguk.
“Persiapkan apa pun yang diperlukan.”
Ia kemudian melihat Fiona.
“Setelah semuanya siap…”
“Kami akan datang kembali menjemputmu.”
Fiona sedikit terkejut.
“Kalian akan datang lagi?”
Seraphine mengangguk.
“Tentu.”
Zeith tersenyum.
“Atau jika kalian lebih nyaman…”
Ia melirik Edward.
“Kami bisa mengirimkan teleportasi kerajaan.”
Edward tertawa kecil.
“Jangan membuatnya terlalu mudah.”
Zeith ikut tertawa.
“Baik.”
***
Fiona melihat Darrien.
Darrien juga melihatnya.
Keduanya tersenyum.
Fiona kemudian berkata,
“Sepertinya aku benar-benar akan mengunjungi Lunaris.”
Darrien mengangguk.
“Sepertinya begitu.”
Ace mengangkat tangannya.
“Kalau begitu aku harus mempersiapkan barang.”
Rowan menatapnya.
“Barang apa?”
Ace berpikir.
“Baju.”
“Untuk apa?”
“Karena kita akan pergi ke kerajaan Light Elf.”
Rowan mengangguk.
“Masuk akal.”
Elarion tersenyum.
“Kalian berdua jangan membuat Lunaris menyesal mengundang kita.”
Fiona tertawa.
“Jangan khawatir.”
Ia kemudian melihat Darrien.
“Dia yang akan menjaga kita.”
Darrien tersenyum.
“Aku akan mencoba.”
***
Zeith dan Seraphine kemudian kembali berdiri di sisi Elyon.
Seraphine menatap Fiona.
“Kami akan menunggumu di Lunaris.”
Fiona menundukkan kepala.
“Terima kasih atas undangannya.”
Zeith tersenyum.
“Anggap saja ini kunjungan seorang teman.”
Fiona tersenyum.
“Baik.”
Elyon yang berdiri di samping mereka hanya memandang Fiona.
Kemudian berkata,
“Aku juga akan menunggumu.”
Fiona menoleh.
“Elyon…”
Ia tersenyum kecil.
“Rasanya aneh.”
“Apa?”
“Mengetahui bahwa traveler yang selama ini bersama kami ternyata…”
Ia melihat pakaian resmi Elyon.
“…adalah Penasihat Agung Lunaris.”
Elyon tertawa pelan.
“Sekarang kau tahu.”
Fiona mengangguk.
“Jadi jangan berpura-pura menjadi traveler lagi.”
Elyon tersenyum.
“Baik.”
***
Edward akhirnya mengangkat gelasnya.
“Kalau begitu…”
Ia melihat Zeith dan Seraphine.
“Untuk kunjungan berikutnya.”
Zeith mengangkat gelas.
“Untuk pertemuan kembali di Lunaris.”
Gloria ikut mengangkat gelas.
“Dan untuk persahabatan antara Veyth dan Lunaris.”
Seraphine tersenyum.
“Untuk itu.”
Gelas mereka beradu.
Darrien tersenyum.
Fiona juga.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ketika mereka tiba di Lunaris.
Tidak ada yang tahu mengapa kristal Veyth terus berubah.
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya diketahui Elyon.
Dan tidak ada yang tahu—
mengapa undangan itu terasa jauh lebih penting daripada sekadar kunjungan biasa.
Namun untuk malam ini—
tidak perlu ada jawaban.
Karena pesta masih berlangsung.
Musik kembali terdengar.
Para pelayan kembali membawa hidangan baru.
Para tamu kembali berbicara.
Dan Fiona—
setelah mendengar bahwa perjalanan ke Lunaris telah disetujui—
melirik meja makanan.
Darrien mengikuti arah pandangannya.
“Jangan bilang…”
Fiona tersenyum.
“Aku masih punya ruang.”
Darrien tertawa.
“Aku sudah menduganya.”
Ace langsung bangkit.
“Ayo!”
Rowan mengikutinya.
“Jangan sampai terlambat.”
Elarion menghela napas panjang.
“Dan begitu saja…”
Ia berjalan mengikuti mereka.
“…pembicaraan kerajaan yang serius berakhir karena makanan.”
Di belakang mereka—
King Edward, Queen Gloria, King Zeith, dan Queen Seraphine hanya saling berpandangan.
Kemudian—
keempatnya tersenyum.
Untuk pertama kalinya malam itu,
masa depan terasa sedikit lebih ringan.
Dan pesta Veyth—
masih terus berlanjut.
Share this novel