Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 106
BANGSA YANG BELUM MEREKA KENAL
Sore itu, Veyra terasa lebih tenang.
Darrien dan Fiona berjalan tanpa tujuan tertentu.
Tidak ada Elarion.
Tidak ada Kevin.
Tidak ada Ace.
Bahkan Rowan masih terkubur di antara buku-bukunya.
Untuk sementara, mereka hanya berdua.
Fiona memegang kalung daun peraknya sambil melihat sekeliling.
“Veyra ternyata jauh lebih menarik dari yang kukira.”
Darrien tersenyum.
“Karena kemarin kau hanya melihat bagian kecilnya.”
“Sekarang aku melihat lebih banyak.”
Fiona menunjuk ke sebuah jalan di depan.
“Lihat.”
Seorang manusia sedang berbicara dengan seorang beastfolk bertelinga serigala.
Tidak jauh dari sana, seorang Elf sedang membeli makanan dari pedagang dwarf.
Beberapa anak dari ras yang berbeda bermain bersama di dekat air mancur.
Fiona tersenyum.
“Di Akasia aku hampir tidak pernah melihat hal seperti ini.”
“Karena Akasia jauh lebih kecil.”
“Di sini ras yang berbeda benar-benar hidup bersama.”
Darrien mengangguk.
“Tidak semuanya selalu akur.”
Fiona tertawa kecil.
“Ya. Aku sudah melihat beberapa orang bertengkar.”
“Berbeda bukan berarti selalu damai.”
Fiona terdiam.
Kemudian ia tersenyum.
“Tapi setidaknya mereka masih bisa hidup berdampingan.”
Darrien memandang keramaian di depan mereka.
“Elarion pernah mengatakan sesuatu yang mirip.”
Fiona mengangguk.
“Bahwa berbeda bukan berarti harus bermusuhan.”
Mereka berjalan beberapa langkah lagi.
Fiona kemudian berhenti.
“Darrien.”
“Hm?”
“Kalau semua ras ini hidup di Lunareth…”
“Ya?”
“Berarti masih ada ras lain yang belum kita temui?”
Darrien berpikir.
“Mungkin.”
Fiona mulai menghitung dengan jarinya.
“Manusia sudah.”
“Ya.”
“Elf sudah.”
“Ya.”
“Beastfolk.”
“Dwarf.”
“Penyihir.”
Darrien tersenyum.
“Kau menghitung seperti sedang membuat daftar.”
“Karena aku penasaran.”
Fiona kemudian mengangkat satu jari lagi.
“Vampir.”
Darrien terdiam.
Fiona menatapnya.
“Kita belum pernah bertemu vampir.”
“Belum.”
“Apakah mereka benar-benar ada?”
Darrien mengangkat bahu.
“Elarion pernah menyebutnya.”
“Tapi kau belum pernah melihatnya?”
“Tidak.”
Fiona berpikir.
“Seperti apa mereka?”
“Aku tidak tahu.”
“Jahat?”
“Tidak selalu.”
Fiona menoleh.
“Maksudmu?”
Darrien menjawab setelah berpikir sebentar.
“Kalau seluruh beastfolk jahat hanya karena mereka berbeda, kita pasti sudah tidak duduk di sini.”
Fiona tersenyum.
“Benar.”
Ia kembali berjalan.
“Jadi vampir juga mungkin sama?”
“Mungkin.”
“Berarti mereka juga punya kota?”
“Kerajaan?”
“Pasar?”
Darrien tertawa.
“Kau terlalu banyak bertanya.”
“Aku ingin tahu.”
“Aku juga.”
Mereka berjalan berdampingan.
Fiona kemudian berkata,
“Kalau suatu hari kita bertemu vampir…”
Darrien menoleh.
“Ya?”
“Jangan langsung takut.”
Darrien tersenyum.
“Aku tidak akan.”
“Dan jangan langsung menyerang.”
“Kalau dia menyerang dulu?”
Fiona berpikir.
“Kalau begitu…”
Ia mengangkat tangannya seperti sedang memberikan keputusan penting.
“…baru kita lari.”
Darrien tertawa.
“Jadi rencanamu adalah lari?”
“Untuk sekarang.”
Mereka tertawa bersama.
Namun tanpa mereka sadari—
pertanyaan sederhana itu mungkin akan menjadi sesuatu yang penting suatu hari nanti.
Karena Lunareth memang luas.
Dan mereka baru mengenal sebagian kecil darinya.
Manusia.
Elf.
Beastfolk.
Dwarf.
Penyihir.
Masih banyak bangsa yang belum mereka temui.
Termasuk—
para vampir.
Dan untuk saat ini, mereka hanya bisa membayangkan seperti apa dunia mereka.
Fiona kembali menyentuh daun peraknya.
“Aku ingin melihat semuanya.”
Darrien menatapnya.
“Kalau begitu…”
Ia mengulurkan tangannya.
“…kita lihat bersama.”
Fiona tersenyum.
Kemudian menggenggam tangannya.
“Janji?”
“Janji.”
Mereka melanjutkan langkah di tengah keramaian Veyra.
Tidak tahu bahwa suatu hari nanti—
mereka benar-benar akan bertemu dengan bangsa yang saat ini hanya mereka kenal dari cerita.
Bangsa yang belum pernah mereka lihat.
Bangsa vampir.
