506. Malam Yang Akhirnya Tenang

Romance Completed 594

BAB 506 — MALAM YANG AKHIRNYA TENANG

Malam telah benar-benar sunyi.

Setelah semua orang dipaksa untuk beristirahat, ruang penyembuhan kerajaan akhirnya hanya menyisakan dua orang.

Fiona.

Dan Darrien.

Tidak ada lagi suara para penyembuh.

Tidak ada lagi halaman buku yang dibalik.

Tidak ada lagi suara mantra.

Tidak ada lagi langkah kaki yang tergesa-gesa di luar pintu.

Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari...

Fiona bisa mendengar keheningan.

Darrien akhirnya tertidur di sisinya.

Awalnya pria itu bahkan tidak ingin memejamkan mata.

Dia masih duduk di samping ranjang, seolah-olah kalau dia tidur sebentar saja, Fiona mungkin akan menghilang lagi.

Namun tubuhnya akhirnya menyerah.

Darrien tertidur dalam posisi berbaring di sisi Fiona.

Satu tangannya masih melingkar erat di tubuh wanita itu.

Seolah-olah bahkan dalam tidurnya...

dia masih takut melepaskannya.

Fiona menatap wajahnya.

Lama.

Sangat lama.

Wajah yang selama berbulan-bulan hanya bisa dia lihat melalui ingatan.

Wajah yang beberapa hari terakhir hanya bisa dia lihat melalui cermin kristal di taman dalam kesadarannya.

Sekarang...

dia benar-benar ada di hadapannya.

Fiona perlahan mengangkat tangannya.

Ujung jarinya menyentuh rambut Darrien.

Lembut.

Dia menyisir beberapa helai rambut yang jatuh ke dahinya.

Kemudian turun ke sisi wajahnya.

Pipi.

Rahang.

Dan akhirnya berhenti di sana.

Fiona tersenyum kecil.

“Darrien...”

Pria itu tidak terbangun.

Napasnya terdengar tenang.

Untuk pertama kalinya...

Fiona bisa melihatnya tidur tanpa ketakutan.

Tanpa pertempuran.

Tanpa darah.

Tanpa bayangan Raizen.

Tanpa suara siapa pun yang memintanya memilih.

Hanya Darrien.

Dan dirinya.

Fiona menatapnya dengan mata yang perlahan menjadi basah.

Berbulan-bulan.

Begitu banyak hal terjadi dalam waktu yang terasa terlalu singkat.

Dia kehilangan Darrien.

Kemudian bertemu Raizen.

Menjalani kehidupan yang berbeda.

Mencintai seseorang yang berbeda.

Lalu kehilangan semuanya dalam satu malam.

Dan setelah itu...

dia kembali menemukan seluruh ingatannya.

Tidak ada satu pun yang bisa dihapus.

Tidak ada satu pun yang bisa dibuat seolah-olah tidak pernah terjadi.

Itulah sebabnya dia memilih untuk berdiam diri di dalam taman kristalnya.

Dia membutuhkan waktu.

Bukan untuk memilih siapa yang benar.

Bukan untuk membenci siapa yang salah.

Tetapi untuk memahami dirinya sendiri.

Fiona mengusap pipi Darrien sekali lagi.

“Aku sudah memikirkannya.”

Bisiknya.

“Selama berhari-hari.”

Dia menundukkan kepala.

“Aku tahu besok mereka akan bertanya.”

Pertanyaan tentang ritual.

Tentang lukanya.

Tentang bagaimana dia bisa sembuh.

Tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Tentang Raizen.

Tentang ingatannya.

Tentang semuanya.

Fiona menarik napas panjang.

“Aku mungkin belum siap menjawab semuanya.”

Matanya kembali menatap Darrien.

“Tapi aku juga tidak bisa terus bersembunyi.”

Jarinya perlahan menyentuh rambut pria itu lagi.

“Bukan selamanya.”

Darrien bergerak sedikit dalam tidurnya.

Tangannya yang melingkar di tubuh Fiona justru mengerat.

Fiona terkejut kecil.

Kemudian tertawa pelan.

“Masih takut kehilangan aku, ya?”

Tidak ada jawaban.

Hanya pelukan yang sedikit lebih erat.

Fiona akhirnya membiarkan tubuhnya bersandar.

Untuk malam ini...

dia tidak ingin berpikir.

Tidak ingin mencari jawaban.

Tidak ingin mengingat Raizen.

Tidak ingin memikirkan pertanyaan esok hari.

Dia hanya ingin tidur.

Dengan Darrien.

Fiona memejamkan mata.

Tangannya tetap berada di rambut Darrien.

“Selamat malam...”

Suaranya sangat pelan.

“Suamiku.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Fiona tidur dengan damai.

***

Pagi datang.

Cahaya matahari masuk melalui jendela besar ruang penyembuhan.

Dan untuk pertama kalinya setelah berhari-hari...

ruang makan kerajaan Veyth dipenuhi orang.

Bukan untuk rapat.

Bukan untuk membahas perang.

Bukan untuk membahas Shadowcresent.

Bukan untuk mencari teknik penyembuhan.

Tetapi...

sarapan.

Sarapan yang sebenarnya.

Edward dan Gloria duduk bersama.

Zeith dan Seraphine juga berada di sana.

Sylvester duduk di dekat mereka.

Elarion dan Elyon terlihat seperti orang yang baru kembali dari medan perang.

Para penyembuh Veyth dan Lunaris akhirnya mendapatkan makanan yang layak setelah berhari-hari hanya mengandalkan ramuan, teh, dan makanan seadanya.

Darrien juga berada di sana.

Dan Fiona...

duduk di sampingnya.

Semua orang terlihat sedikit aneh.

Mungkin karena mereka baru menyadari betapa laparnya mereka.

Ace tidak ada.

Dan itu mungkin keputusan terbaik untuk suasana hati semua orang.

Beberapa saat hanya terdengar suara sendok dan piring.

Tidak ada yang langsung berbicara tentang Fiona.

Karena setelah berhari-hari...

mereka akhirnya mendapatkan sesuatu yang sederhana.

Sarapan.

Darrien sesekali melirik Fiona.

Fiona makan dengan tenang.

Tidak terlihat pucat lagi.

Tidak terlihat kesakitan.

Bahkan auranya sudah kembali stabil.

Namun semua orang masih memandangnya seperti melihat sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.

Akhirnya...

Edward meletakkan sendoknya.

“Fiona.”

Fiona mengangkat wajah.

“Ya?”

Edward tersenyum kecil.

“Bagaimana perasaanmu?”

Fiona berpikir sebentar.

“Baik.”

Semua orang menatapnya.

Fiona mengedip.

“Benar-benar baik.”

Gloria menghela napas lega.

“Tidak ada rasa sakit?”

“Tidak.”

“Pusing?”

“Tidak.”

“Sesak?”

“Tidak.”

Seraphine ikut bertanya.

“Magicure-mu?”

Fiona memejamkan mata sebentar untuk merasakannya.

Kemudian membuka mata.

“Stabil.”

Sylvester menatapnya dengan serius.

“Lukanya?”

Fiona menyentuh sisi tubuhnya.

“Sudah tidak ada.”

Ruangan kembali sunyi.

Elyon hampir menjatuhkan sendoknya.

Elarion menatap Fiona.

“Kami tahu itu.”

Fiona memiringkan kepala.

“Lalu kenapa semua orang terlihat seperti melihat hantu?”

Elarion menatap Elyon.

Elyon menatap Sylvester.

Sylvester menatap Zeith.

Zeith menatap Seraphine.

Seraphine akhirnya menghela napas.

“Karena kami sudah mencoba hampir semua hal yang kami punya.”

Fiona diam.

Sylvester melanjutkan.

“Ramuan penyembuhan langka.”

“Buku kuno.”

“Teknik penyembuhan Veyth.”

“Teknik penyembuhan Lunaris.”

“Penyembuh elf.”

“Penyihir.”

“Bahkan ritual yang sudah hampir tidak pernah digunakan.”

Fiona mendengarkan dengan tenang.

Kemudian...

dia mengangkat bahu kecil.

“Oh.”

Elarion langsung menatapnya.

“'Oh'?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Darrien menahan senyum.

Elyon akhirnya bertanya.

“Fiona.”

“Hmm?”

“Bagaimana kau menyembuhkan dirimu sendiri?”

Fiona berhenti makan.

Semua orang kini benar-benar memperhatikannya.

Dia meletakkan sendoknya.

“Dengan Pure Light.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Elarion berkedip.

“...Apa?”

Fiona mengulang dengan santai.

“Pure Light.”

Sylvester menatapnya.

“Pure Light milikmu?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Elyon menatap Elarion.

Elarion menatap Elyon.

Keduanya seperti sedang mencoba memastikan mereka tidak salah dengar.

“Kau bisa menyembuhkan luka itu sendiri?”

Fiona mengangguk lagi.

“Bisa.”

Darrien akhirnya ikut berbicara.

“Lalu kenapa kau tidak melakukannya sejak awal?”

Fiona terdiam.

Pertanyaan itu membuat suasana berubah sedikit.

Dia menatap meja.

Kemudian menatap Darrien.

“Aku butuh waktu.”

Darrien tidak berkata apa-apa.

Fiona melanjutkan.

“Aku bisa menggunakan Pure Light untuk menyembuhkan tubuhku.”

Dia menarik napas perlahan.

“Tapi aku tidak ingin langsung bangun.”

Semua orang diam.

“Aku ingin berpikir.”

Tentang Darrien.

Tentang Raizen.

Tentang dirinya sendiri.

Tentang beberapa bulan yang terasa seperti kehidupan lain.

Fiona tidak mengatakannya semuanya.

Belum.

Dia belum siap.

Namun setidaknya...

dia tidak lagi bersembunyi.

Elarion bersandar di kursinya.

“Jadi selama berhari-hari kami mencari cara untuk menyembuhkanmu...”

Fiona tersenyum canggung.

“...aku sebenarnya bisa.”

Elyon menutup wajahnya dengan satu tangan.

Sylvester menatap langit-langit.

Zeith menghela napas panjang.

Seraphine menahan tawa kecil.

Darrien hanya menatap Fiona.

Kemudian...

dia tersenyum.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Hanya lega.

Karena wanita yang ada di sampingnya sekarang...

benar-benar Fiona.

Fiona melihat semua wajah di meja.

Kemudian tertawa kecil.

“Maaf.”

Elarion menunjuknya.

“Tidak.”

Fiona berkedip.

“Tidak?”

“Jangan minta maaf.”

Elarion menghela napas.

“Kami hanya perlu menerima kenyataan bahwa selama berhari-hari kami hampir menghancurkan perpustakaan kerajaan mencari jawaban...”

Elyon menyambung.

“...sementara jawabannya duduk di dalam tubuh Fiona sendiri.”

Fiona menggaruk pipinya.

“Kurang lebih begitu.”

Darrien akhirnya tertawa.

Tawa kecil.

Lelah.

Namun nyata.

Dan untuk pertama kalinya setelah begitu banyak hari yang penuh ketakutan...

meja itu dipenuhi suara yang berbeda.

Bukan suara perang.

Bukan suara penyembuhan.

Bukan suara tangisan.

Hanya suara orang-orang yang akhirnya bisa makan bersama.

Mereka masih memiliki banyak pertanyaan.

Terlalu banyak.

Tentang ritual Silver Leaf.

Tentang kristal.

Tentang ingatan Fiona.

Tentang Raizen.

Tentang apa yang terjadi selama bulan-bulan terakhir.

Namun pagi itu...

tidak ada yang memaksanya menjawab.

Karena Fiona sudah kembali.

Dan untuk sementara...

itu sudah cukup.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience