409. Taman Yang Disukai

Romance Completed 594

BAB 409 — TAMAN YANG DISUKAI

Taman Shadowcresent—

Fiona masih berjalan perlahan di antara bunga-bunga hitam.

Semakin jauh ia berjalan—

semakin ia menyadari bahwa taman ini ternyata jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.

Ada jalan kecil yang dikelilingi mawar hitam.

Ada pohon-pohon tua yang cabangnya membentuk lengkungan alami.

Ada kolam dengan air gelap yang memantulkan langit.

Dan di beberapa sudut—

terdapat bunga-bunga yang bahkan belum pernah Fiona lihat sebelumnya.

Fiona berhenti di depan sebuah bunga kecil.

Kelopaknya berwarna hitam.

Namun bagian tengahnya memiliki cahaya merah samar.

Ia membungkuk sedikit.

“Cantik…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Kemudian ia langsung berdiri tegak.

“Bukan berarti aku menyukai tempat ini.”

Raizen yang berdiri beberapa langkah di belakangnya hanya menatap.

Fiona meliriknya.

“Apa?”

Raizen tidak menjawab.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Raizen tetap diam.

Fiona mendengus.

“Lupakan.”

Ia kembali berjalan.

Namun beberapa langkah kemudian—

ia berhenti lagi.

Kali ini di depan sekumpulan mawar hitam.

Fiona memperhatikan salah satunya.

Kelopaknya bergerak perlahan tertiup angin.

Ia tersenyum kecil.

Senyum yang sangat tipis.

Raizen melihatnya.

Tidak mengatakan apa pun.

Namun tatapannya tetap berada pada Fiona.

***

Mereka berjalan sampai ke bagian tengah taman.

Fiona akhirnya duduk di sebuah bangku batu yang berada di dekat kolam.

Ia melihat air di depannya.

“Tempat ini…”

Ia berhenti.

“Tenang.”

Raizen berdiri di sampingnya.

“Ya.”

Fiona menatap kolam.

“Tidak seperti istana.”

Karachi mengangguk.

“Karena itu aku menyukainya.”

Fiona menoleh.

“Kau sering datang ke sini?”

“Ketika aku ingin sendiri.”

Fiona terdiam.

Kemudian kembali melihat kolam.

“Pantas.”

Raizen mengangkat alis.

“Apa maksudmu?”

Fiona menjawab santai,

“Tempatnya cocok denganmu.”

Raizen menatapnya.

“Gelap.”

Fiona mengangguk.

“Tenang.”

Ia melihat sekeliling.

“Dan terlalu sulit ditebak.”

Raizen terdiam beberapa saat.

Kemudian—

ia tersenyum tipis.

Fiona langsung menyadarinya.

“Apa?”

“Tidak ada.”

Fiona memalingkan wajah.

“Aneh.”

Namun beberapa saat kemudian—

ia kembali tersenyum kecil.

Ia menyukai taman ini.

Hanya saja—

ia tidak akan mengakuinya.

***

Beberapa saat berlalu.

Fiona akhirnya mengangkat kedua tangannya.

Segel hitam masih mengelilingi pergelangan tangannya.

Ia menatapnya.

Kemudian melihat Raizen

“Raizen.”

“Ya?”

“Bisakah kau melepaskan segel ini?”

Raizen menatap kedua pergelangan tangannya.

“Tidak.”

Jawabannya begitu cepat.

Fiona terdiam.

“…Kau bahkan tidak berpikir.”

“Tidak perlu.”

Fiona menghela napas.

“Aku hanya ingin berjalan bebas.”

“Tidak.”

“Aku tidak akan menyerangmu.”

“Tidak.”

“Aku bahkan tidak bisa menggunakan magicure-ku.”

“Karena itu segelnya tetap ada.”

Fiona mengerutkan kening.

“Kau benar-benar menyebalkan.”

Raizen tidak menjawab.

Fiona menatapnya beberapa detik.

Kemudian menghela napas lagi.

“Baiklah.”

Ia menurunkan tangannya.

“Setidaknya aku sudah mencoba.”

Raizen hanya menatapnya.

Namun ada sedikit perubahan pada tatapannya.

Ia memperhatikan bagaimana Fiona tetap tenang meskipun kekuatannya disegel.

Bagaimana ia tidak memohon.

Tidak menangis.

Tidak mencoba merayu.

Ia hanya menerima penolakan—

kemudian mencari hal lain untuk dilakukan.

Menarik.

***

Tak lama kemudian—

suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.

Fiona menoleh.

Mufasa muncul dari balik jalan taman.

Di tangannya terdapat sebuah nampan.

Kali ini—

bukan sarapan.

Teh.

Dan beberapa makanan kecil.

Mufasa berjalan mendekat.

Ia meletakkan nampan di meja kecil di dekat bangku.

“Teh sore.”

Fiona melihat makanan tersebut.

“Ini untukku?”

Mufasa mengangguk.

“Perintah Tuanku.”

Fiona melirik Raizen.

Raizen masih berdiri.

Fiona kembali melihat Mufasa.

“Dia benar-benar suka memberi makan orang.”

Mufasa terdiam.

Kemudian menjawab,

“Sepertinya.”

Fiona hampir tertawa.

Mufasa segera menundukkan kepala.

“Saya akan pergi.”

Fiona mengangguk.

“Baik.”

Mufasa berbalik.

Namun sebelum pergi—

ia sempat melihat Raizen.

Kemudian melihat Fiona.

Kemudian nampan.

Mufasa menghela napas sangat kecil.

*Semoga tidak ada masalah.*

Ia pergi.

***

Fiona mengambil cangkir teh.

Ia meniup permukaannya.

Kemudian menyeruput sedikit.

Matanya sedikit melebar.

“Enak.”

Raizen tidak menjawab.

Fiona mengambil satu kue kecil.

Ia mencicipinya.

“Ini juga enak.”

Raizen hanya menatapnya.

Fiona langsung menyadari.

“Apa lagi?”

Raizen menggeleng.

“Tidak ada.”

Fiona mendengus.

“Berhenti melihatku seperti itu.”

Namun ia tetap memakan kue tersebut.

Kemudian—

tanpa sadar—

ia kembali melihat taman.

Mawar hitam.

Kolam gelap.

Pohon tua.

Angin lembut.

Fiona tersenyum kecil.

Kali ini—

ia tidak mengatakan apa pun.

***

LUNARIS.

Di tempat lain—

situasinya sangat berbeda.

Royal Library Lunaris telah berubah menjadi medan perang.

Bukan medan perang sungguhan.

Namun tumpukan buku dan gulungan di seluruh ruangan sudah cukup membuatnya terlihat seperti itu.

Elyon berdiri di tengah ruangan.

Elarion duduk di depan tiga buku sekaligus.

Rowan membaca sebuah gulungan.

Sementara Ace—

sedang berbaring di atas meja.

“Tidak ada.”

Elyon menoleh.

“Bangun.”

Ace membuka satu mata.

“Aku sudah mencari selama berjam-jam.”

“Kau baru membaca tiga buku.”

“Tiga buku tua.”

Rowan menatapnya.

“Dan dua di antaranya hanya kau buka halaman depannya.”

Ace mengangkat tubuhnya.

“Detail.”

Elarion menghela napas.

“Kita belum menemukan apa pun.”

Elyon mengangguk.

“Simbol itu ada.”

“Tapi tidak ada penjelasan mengenai siapa yang menggunakannya.”

Rowan menambahkan,

“Tidak ada catatan mengenai Shadowcresent.”

Ace mengangkat tangan.

“Tidak ada catatan mengenai Raja Vampire.”

Elarion menambahkan,

“Tidak ada catatan mengenai struktur klan.”

Elyon menghela napas.

“Dan tidak ada catatan mengenai magicure mereka.”

Ace menatap semuanya.

Kemudian—

ia berdiri.

“Jadi kesimpulannya…”

Semua menatapnya.

Ace menunjuk tumpukan buku.

“Lima ribu tahun sejarah…”

Ia melihat rak-rak yang menjulang tinggi.

“…dan kita mendapatkan satu bulan sabit.”

Hening.

Rowan menatapnya.

“Itu bukan kesimpulan.”

Ace mengangkat bahu.

“Bagi saya itu kesimpulan.”

Elarion menutup buku di depannya.

“Jangan menyerah.”

“Aku tidak menyerah.”

Ace menunjuk buku.

“Aku hanya mempertanyakan apakah buku-buku ini juga menyerah kepada kita.”

Rowan memijat pelipis.

“…”

Elyon hampir tersenyum.

Namun kemudian—

Ace berkata lagi,

“Mungkin vampirenya sendiri yang harus kita tanyai.”

Semua terdiam.

Elyon menatapnya.

“…”

Ace perlahan menyadari apa yang baru saja ia katakan.

“Oh.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Aku bercanda.”

Elyon menghela napas.

“Sayangnya…”

Ia mengambil kembali buku tua tersebut.

“…itu mungkin bukan ide yang buruk.”

Elarion menatapnya.

“Kau berpikir kita harus mencari vampire lain?”

“Jika kita tidak menemukan catatan…”

Elyon menatap simbol bulan sabit.

“…maka mungkin sumber sejarah itu sendiri adalah satu-satunya tempat kita bisa mendapatkan jawaban.”

Rowan mengangguk perlahan.

Ace tersenyum.

“Jadi…”

Ia mengambil satu buku lagi.

“…kita tetap membaca?”

Elyon menjawab,

“Ya.”

Ace menghela napas dramatis.

“Lima ribu tahun sejarah…”

Ia membuka buku.

“Dan aku bahkan belum selesai membaca lima halaman.”

Rowan menatapnya.

“Karena kau terus mengeluh.”

Ace tersenyum.

“Itu bagian dari proses penelitian.”

Elarion menggeleng.

Untuk pertama kalinya hari itu—

mereka semua tertawa kecil.

Namun setelah tawa itu menghilang—

tatapan Elyon kembali serius.

Mereka belum menemukan jawabannya.

Belum.

Tetapi satu hal semakin jelas.

Jika Shadowcresent benar-benar telah ada selama lebih dari lima ribu tahun—

maka sejarah yang mereka cari mungkin tidak pernah ditulis oleh tangan siapa pun.

Karena mereka yang memiliki sejarah itu—

mungkin masih hidup.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience