50. Di Tepi Danau

Romance Series 94

BAB 50
DI TEPI DANAU

Sore itu, latihan bersama Kevin akhirnya selesai lebih cepat.

Darrien langsung meninggalkan halaman tanpa menunggu siapa pun.

Fiona menyusul.

“Kau mau ke mana?”

“Danau.”

“Kenapa?”

“Aku ingin tenang.”

Fiona tersenyum.

“Kalau begitu aku ikut.”

Darrien tidak menolak.

Mereka berjalan melewati hutan yang mulai diselimuti cahaya jingga.

Sesampainya di danau, Darrien duduk di atas sebuah batu besar.

Fiona duduk di sampingnya.

Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.

Air danau bergerak perlahan.

Angin sore melewati pepohonan.

Fiona menatap permukaan air.

“Indah.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

“Kau tidak biasanya diam seperti ini.”

“Aku lelah.”

“Karena Kevin?”

Darrien menghela napas.

“Dia menyebalkan.”

Fiona tertawa kecil.

“Dia memang menyebalkan.”

“Dan kejam.”

“Sedikit.”

“Banyak.”

Fiona kembali tertawa.

Darrien tersenyum melihatnya.

Beberapa saat kemudian, Fiona mengeluarkan sesuatu dari kantong kecilnya.

“Ini.”

Darrien menoleh.

Sebuah bunga kecil berwarna putih berada di tangannya.

“Apa itu?”

“Bunga yang kutemukan tadi.”

“Untuk apa?”

Fiona menyerahkannya.

“Untukmu.”

Darrien terlihat bingung.

“Kenapa?”

“Tidak boleh?”

“Boleh.”

Ia mengambil bunga itu.

Fiona tersenyum.

“Aku hanya ingin memberikannya.”

Darrien memperhatikan bunga tersebut.

Kemudian ia menyelipkannya di antara rambutnya sendiri.

Fiona terdiam.

“Kenapa kau taruh di situ?”

“Supaya tidak hilang.”

Fiona menatapnya.

“Bodoh.”

“Kau yang memberikannya.”

“Ya, tapi…”

Fiona tidak melanjutkan.

Wajahnya mulai memerah.

Darrien memperhatikannya.

“Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kau merah.”

“Karena panas.”

Darrien melihat langit.

“Anginnya dingin.”

Fiona langsung memalingkan wajah.

“Diam.”

Darrien tertawa.

Beberapa saat kemudian, Fiona menyandarkan kepalanya perlahan di bahu Darrien.

Darrien sedikit terkejut.

Namun ia tidak bergerak.

“Capek?” tanyanya.

“Sedikit.”

“Tidur saja.”

“Kalau aku tidur, kau jangan pergi.”

Darrien terdiam.

Kemudian menjawab pelan,

“Aku tidak akan pergi.”

Fiona tersenyum.

Matanya perlahan tertutup.

Darrien memandang danau.

Tangannya tanpa sadar bergerak sedikit lebih dekat ke tangan Fiona.

Jari mereka bersentuhan.

Fiona tidak menjauh.

Darrien juga tidak.

Mereka tetap seperti itu.

Tanpa kata-kata.

Tanpa janji.

Hanya dua anak yang menikmati sore yang tenang bersama.

Darrien menatap bunga kecil yang masih terselip di rambutnya.

Ia tersenyum.

Entah kenapa…

bunga itu terasa jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah ia miliki.

Dan untuk beberapa saat—

tidak ada latihan.

Tidak ada guru yang menyebalkan.

Tidak ada orang asing di hutan.

Tidak ada rahasia kerajaan.

Hanya Fiona.

Dan dirinya.

Serta sore yang perlahan berubah menjadi malam.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience