Series
382
BAB 237
Cahaya perlahan menghilang.
Fiona masih berdiri di depan meja kristal.
Tangannya berada di atas kotak kecil itu.
Napasnya tertahan.
Ia menatap benda tersebut.
“…”
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Bahkan kedua tiny elf yang biasanya terus tertawa kini hanya melayang diam di belakangnya.
Fiona menoleh.
“Kalian kenapa diam?”
Kedua tiny elf saling berpandangan.
Kemudian—
salah satunya menunjuk kotak.
Fiona kembali melihatnya.
“Jadi… aku harus membukanya?”
Keduanya mengangguk.
Fiona menarik napas.
“Baik.”
Perlahan—
ia membuka penutupnya.
**Klik.**
Tidak ada ledakan.
Tidak ada cahaya besar.
Tidak ada sesuatu yang menyeramkan.
Hanya sebuah benda kecil yang terletak di dalamnya.
Fiona membeku.
“…”
Sebuah kristal kecil.
Berbentuk seperti kelopak daun.
Warnanya bening—
namun di dalamnya terdapat cahaya lembut yang bergerak seperti kabut.
Fiona mengulurkan tangannya.
Begitu jarinya menyentuh kristal itu—
**whoom.**
Cahaya langsung mengalir ke gelangnya.
Fiona terkejut.
“Apa—?”
Gelang di pergelangan tangannya bersinar.
Simbol daun perak di tengahnya berubah menjadi lebih jelas.
Fiona menarik tangannya.
Namun kristal itu tetap melayang di atas kotak.
Ia menatapnya.
“Apa ini?”
Tidak ada jawaban.
Fiona mengerutkan kening.
“Kalian tahu?”
Kedua tiny elf mengangguk.
“Lalu apa?”
Mereka hanya menunjuk ke arah Fiona.
“Ke aku?”
Keduanya mengangguk lagi.
Fiona semakin bingung.
“Jadi benda ini milikku?”
Tidak ada jawaban.
Fiona menghela napas.
“Kalian benar-benar membuatku bekerja keras.”
Tiny elf pertama tertawa.
Yang kedua ikut tertawa.
Fiona akhirnya ikut tersenyum.
Kemudian—
ia kembali memperhatikan kristal itu.
Ada sesuatu yang terasa familiar.
Bukan seperti Light Magic.
Bukan seperti energi biasa.
Lebih seperti—
sebuah bagian dari dirinya sendiri.
Fiona perlahan mendekat.
Kristal itu bergerak menuju tangannya.
Kemudian berhenti tepat di atas telapak tangannya.
Cahaya lembut menyelimuti jari-jarinya.
Fiona berbisik,
“Kenapa rasanya seperti…”
Ia berhenti.
“…aku pernah memiliki ini?”
Tiba-tiba—
sebuah gambar muncul di dalam pikirannya.
Seorang wanita berdiri di Crystal Hall.
Rambutnya panjang.
Pakaiannya indah.
Di tangannya—
kristal yang sama.
Fiona membeku.
“…”
Wanita itu membelakanginya.
Fiona mencoba melihat wajahnya.
“Siapa kau?”
Wanita itu tidak menjawab.
Namun perlahan—
ia mengangkat tangannya.
Kristal tersebut bersinar.
Kemudian gambar itu menghilang.
Fiona tersentak.
Ia memegang kepalanya.
“Aduh…”
Kedua tiny elf langsung terbang mendekatinya.
“Aku baik-baik saja.”
Fiona menarik napas.
Namun wajahnya terlihat bingung.
“Aku melihat seseorang.”
Kedua tiny elf diam.
“Seorang wanita.”
Mereka tetap diam.
Fiona menatap mereka.
“Dia memegang kristal yang sama.”
Salah satu tiny elf menunjuk ke arah kristal.
Kemudian menunjuk Fiona.
Fiona terdiam.
“…Maksud kalian…”
Ia menatap kristal.
Kemudian gelangnya.
Lalu—
ia teringat potret di ruangan sebelumnya.
Wanita yang wajahnya mirip dengannya.
Fiona perlahan menelan ludah.
“Jangan bilang…”
Ia menatap kedua tiny elf.
“…wanita itu adalah orang yang sama dengan yang ada di potret?”
Kedua tiny elf saling memandang.
Mereka tidak menjawab.
Fiona menghela napas.
“Benar-benar…”
Ia memejamkan mata.
“Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menjawab dengan normal?”
Tiny elf pertama tertawa.
Tiny elf kedua ikut tertawa.
Fiona akhirnya ikut tertawa kecil.
Namun—
ketika ia membuka matanya lagi—
kristal tersebut sudah berubah.
Di dalamnya muncul sebuah tulisan.
Hanya satu kata.
Fiona mendekat.
Matanya membesar.
Ia membacanya perlahan.
**“Pulang.”**
Fiona terdiam.
“Pulang…?”
Ia menyentuh tulisan itu.
Cahaya kembali berdenyut.
Dan kali ini—
Fiona mendengar suara wanita yang sama.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
“Fiona…”
Fiona membeku.
“Siapa kau?”
Suara itu tidak menjawab.
Hanya satu kalimat yang terdengar sebelum semuanya kembali gelap.
**“Waktumu hampir tiba.”**
Fiona berdiri terpaku.
“Apa maksudnya…?”
Kedua tiny elf tidak lagi tertawa.
Untuk pertama kalinya—
mereka terlihat serius.
Fiona menatap mereka.
“Apa yang akan terjadi?”
Salah satu tiny elf menunjuk ke arah pintu.
Fiona menoleh.
Pintu yang tadi ia buka—
kini perlahan mulai tertutup.
“Eh?”
Fiona segera berlari.
“Tunggu!”
Ia meraih pintu.
Namun sebelum sempat menahannya—
pintu tertutup.
**BAM.**
Fiona berdiri di depannya.
Terdiam.
Kemudian menatap kristal kecil di tangannya.
“…”
Ia menghela napas.
“Baiklah.”
Ia menatap kedua tiny elf.
“Setidaknya sekarang aku punya satu jawaban.”
Ia mengangkat kristal itu.
“Ini milikku.”
Namun kemudian Fiona menatap kata terakhir yang masih terbayang di pikirannya.
**Pulang.**
Dan untuk pertama kalinya—
ia mulai bertanya-tanya.
Kalau tempat ini memang bagian dari dirinya…
**sebenarnya Fiona berasal dari mana?**
Share this novel