Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 475 — PERTEMUAN DENGAN DIRINYA SENDIRI
Darrien masih berdiri terpaku.
Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok pria yang berdiri di tepi danau itu.
Pakaian tersebut...
Postur itu...
Bahkan cara pria itu berdiri sambil memandang danau dengan tenang—
Darrien mengenalnya.
Terlalu mengenalnya.
Sampai kapan pun.
Sampai kematian datang menjemputnya...
ia tidak akan pernah melupakan sosok itu.
Sosok yang pernah muncul dalam mimpinya.
Sosok yang pernah dilihatnya dalam kenangan Fiona ketika ingatan Fiona akhirnya kembali di Crystal Hall Lunaris.
Dan sosok yang selama ini menjadi bagian dari masa lalu Fiona.
Kekasih Fiona.
Grandmaster Darrien.
Dirinya sendiri.
Versi dirinya dari masa lalu.
Darrien menelan ludah.
Matanya sedikit melebar.
"Bagaimana..."
Bibirnya bergerak.
Namun tidak ada suara yang keluar.
Ia mencoba lagi.
"Siapa..."
Tetap tidak ada suara.
Darrien mengerutkan kening.
Ia merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan karena tenggorokannya sakit.
Bukan karena ia kehilangan suaranya.
Rasanya seperti...
ada sesuatu yang mengunci kata-kata itu tepat sebelum keluar dari mulutnya.
Ia mencoba sekali lagi.
Tidak berhasil.
Darrien menghela napas kasar melalui hidung.
"......"
Ada begitu banyak pertanyaan di kepalanya.
Mengapa ia ada di sini?
Mengapa dirinya dari masa lalu berada di tempat ini?
Bagaimana Grandmaster Darrien bisa menunggunya?
Apakah tempat ini bagian dari ingatannya?
Atau...
apakah ini sesuatu yang jauh lebih besar?
Namun tidak satu pun pertanyaan itu berhasil keluar.
Setelah beberapa kali mencoba, Darrien akhirnya menyerah.
Ia menutup mulutnya.
Kemudian hanya berdiri diam.
Mengamati dirinya sendiri.
Grandmaster Darrien masih membelakanginya.
Tatapannya tertuju pada danau.
Tenang.
Tidak tergesa.
Seolah-olah keberadaan Darrien di belakangnya sama sekali bukan sesuatu yang mengejutkan.
Beberapa saat berlalu.
Lalu suara itu kembali terdengar.
"Too weak to speak, huh..."
Nada suaranya tetap buruk.
Santai.
Hampir seperti sedang mengejek.
Alis Darrien langsung bergerak.
Tangannya mengepal.
Magicure di dalam tubuhnya berdenyut.
"......"
Ia hampir meledak.
Namun Darrien menarik napas dalam-dalam.
Sekali.
Dua kali.
Ia memaksa dirinya menahan amarah.
Tidak.
Ia tidak akan terpancing.
Bukan sekarang.
Ia sudah terlalu lama berlatih untuk mengendalikan magicure-nya.
Dan ia tidak akan membiarkan emosinya mengambil alih lagi.
Grandmaster Darrien masih memandang danau.
Kemudian—
"Bagaimana kau akan melindunginya kalau kau masih selemah ini?"
Darrien terdiam.
Kali ini...
tidak ada nada bercanda dalam suara Grandmaster Darrien.
Suaranya terdengar jauh lebih serius.
Bahkan sedikit tajam.
"......"
Darrien menatap punggung pria itu.
Grandmaster Darrien melanjutkan.
"Magicure-mu sudah berkembang."
"Kecepatanmu juga meningkat."
"Tapi..."
Ia berhenti sebentar.
"Masih terlalu lemah."
Darrien mengepalkan tangannya lebih erat.
Ia tahu.
Ia tidak membutuhkan orang lain untuk memberitahunya.
Ia sendiri merasakan perbedaannya.
Saat melawan Raizen...
ia bahkan tidak mampu memahami sepenuhnya kekuatan lawannya.
Namun Darrien tidak membantah.
"Aku tahu."
Suaranya akhirnya keluar.
Tenang.
Tidak marah.
Grandmaster Darrien tetap diam.
Darrien menatap kedua tangannya.
Magicure perlahan muncul di telapak tangannya.
Padat.
Stabil.
Jauh lebih terkendali dibandingkan sebelumnya.
"Itulah sebabnya aku masih terus berlatih."
Ia mengangkat wajahnya kembali.
"Aku ingin melindungi apa yang masih kumiliki sekarang."
Tatapannya berubah semakin tegas.
"Aku ingin mengejar kekuatanmu."
Darrien berhenti sejenak.
"Atau setidaknya..."
"...mencoba mendekati kejayaanmu yang dulu."
Danau tetap tenang.
Angin malam bergerak melewati mereka.
Grandmaster Darrien akhirnya terdiam cukup lama.
Kemudian—
ia perlahan berbalik.
Darrien membeku.
Untuk pertama kalinya...
ia benar-benar melihat wajah dirinya dari masa lalu.
Wajah yang hampir sama.
Namun terasa berbeda.
Mata Grandmaster Darrien begitu tenang.
Tidak ada kegelisahan.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada amarah yang liar.
Hanya ketenangan seorang pria yang telah melewati terlalu banyak hal.
Dan magicure...
Darrien bisa merasakannya bahkan tanpa Grandmaster Darrien mengeluarkannya.
Dalam.
Padat.
Berat.
Begitu besar hingga Darrien secara refleks menahan napas.
Perbedaan itu terasa jelas.
Ia sedang berdiri di hadapan dirinya sendiri—
namun dirinya yang telah mencapai puncak yang bahkan belum mampu ia bayangkan.
Grandmaster Darrien menatapnya.
Darrien membalas tatapan itu.
Keduanya berdiri saling berhadapan di tepi danau.
Dua wajah yang sama.
Dua jiwa yang berbeda.
Satu berasal dari masa lalu.
Satu berdiri di masa kini.
Namun keduanya memiliki satu hal yang sama.
Fiona.
Darrien menarik napas perlahan.
Ia masih membutuhkan kekuatan.
Bukan demi kejayaan.
Bukan demi gelar Grandmaster.
Bukan demi membuktikan bahwa dirinya mampu mengalahkan masa lalunya sendiri.
Ia membutuhkan kekuatan untuk satu tujuan.
Mencapai Fiona.
Membawanya kembali.
Dari vampire bernama Raizen.
Grandmaster Darrien menatapnya beberapa saat.
Kemudian ekspresinya berubah sedikit.
Lebih lembut.
Hampir sedih.
"Vampire itu..."
Darrien diam.
"...terlalu kuat untuk kau hadapi sekarang."
Tatapan Grandmaster Darrien tidak berubah.
"Dengan kondisimu saat ini..."
Ia berhenti sejenak.
"...kau tidak akan menang melawannya."
Darrien tidak membantah.
Karena ia tahu itu benar.
Grandmaster Darrien melanjutkan dengan suara lebih rendah.
"Dan segel yang ada di dalam diri Fiona..."
Tatapannya menjadi semakin dalam.
"...tidak akan pecah semudah itu."
Darrien menatapnya tajam.
Namun sekali lagi—
tidak ada jawaban lebih jauh.
Grandmaster Darrien hanya berkata,
"Kecuali..."
Ia berhenti.
Tatapannya berubah sedih.
"...dia mengingatnya."
Darrien membeku.
Angin malam melewati permukaan danau.
Namun kali ini...
tidak satu pun dari mereka bergerak.
Grandmaster Darrien hanya menatap dirinya dari masa depan—
dengan tatapan seseorang yang seolah-olah telah mengetahui rasa sakit yang akan menunggunya.
