Series
382
BAB 295 — CAHAYA YANG MENYENTUH SEMUA ORANG
Pertarungan akhirnya memasuki tahap yang lebih sengit.
Darrien kembali menerjang.
Namun—
Kaguya sudah menunggunya.
BOOM!
Sebuah tendangan keras menghantam tubuh Darrien.
Darrien terlempar beberapa meter sebelum berhasil menahan dirinya.
Ia segera berdiri kembali.
Belum sempat menarik napas—
Kaguya sudah berada di hadapannya.
CLANG!
Darrien mengangkat lengannya.
Serangan berikutnya menghantam pertahanannya.
Tubuhnya kembali terdorong.
Kaguya tidak memberinya ruang.
Satu serangan.
Kemudian serangan berikutnya.
Kecepatannya meningkat.
Gerakannya semakin sulit dibaca.
Darrien mencoba mencari celah—
namun tidak ada.
Kaguya telah meningkatkan kemampuan gerakan dan sihirnya.
Setiap kali Darrien hendak mengambil napas—
Kaguya sudah menyerang lagi.
Darrien menghindar.
Serangan berikutnya datang dari sisi lain.
Ia menangkis.
Kemudian sebuah serangan kembali menghantam tubuhnya.
“Ugh!”
Darrien mundur.
Napasnya mulai berat.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai—
ia kesulitan mengikuti ritme lawannya.
Kaguya tersenyum.
“Mulai kehabisan napas?”
Darrien tidak menjawab.
Ia hanya mengatur kembali posisinya.
Tarik napas.
Namun sebelum ia sempat melanjutkan—
Kaguya sudah datang lagi.
BOOM!
Darrien menahan serangan.
Kakinya bergeser beberapa meter.
*Tidak bisa terus seperti ini.*
Ia mulai memahami sesuatu.
Kaguya bukan hanya kuat.
Ia memaksa lawannya kehilangan kesempatan untuk berpikir.
Dan itulah yang membuat setiap serangannya semakin berbahaya.
Darrien menggertakkan gigi.
Kemudian—
ia merasakan sesuatu.
Sebuah perubahan kecil.
Sangat samar.
Namun cukup untuk membuatnya menoleh.
Ke arah Fiona.
Fiona sudah keluar dari kandang.
***
Fiona berdiri bersama Elyon.
Elarion juga akhirnya mendekat setelah berhasil menjauh dari lawannya.
Ia langsung memperhatikan Fiona.
“Kau baik-baik saja?”
Fiona mengangguk.
“Aku baik.”
Elyon menatapnya.
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
Fiona melihat medan perang.
Darrien masih bertarung.
Kevin masih menghadapi Mufasa dan Giselle.
Ace dan Rowan masih sibuk melawan para vampire.
Elarion juga harus terus bertarung.
Semuanya bergerak.
Semuanya bertahan.
Dan Fiona—
tidak tahu apa yang bisa ia lakukan.
Ia menggenggam tangannya.
“Aku ingin membantu.”
Elarion menatapnya.
“Kau sudah membantu dengan keluar dari kandang.”
“Bukan itu.”
Fiona menggeleng.
“Aku ingin membantu mereka.”
Elyon terdiam.
Fiona melihat Darrien.
Ia bisa melihat betapa berat napasnya.
Betapa cepat Kaguya menyerangnya.
Kemudian sebuah pikiran muncul.
“Kalau…”
Fiona ragu.
“Kalau aku tidak menyerang mereka…”
Elarion menoleh.
Fiona melanjutkan,
“…mungkin aku bisa membantu mereka bergerak lebih cepat?”
Elyon langsung memahami maksudnya.
“Kau ingin memberikan penguatan?”
Fiona mengangguk.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa.”
Elarion mengamati Fiona.
“Kau belum pernah mencobanya?”
Fiona menggeleng.
“Belum.”
Elyon berpikir sejenak.
“Light Magic tidak hanya bisa digunakan untuk menyerang.”
Fiona menatapnya.
“Kalau begitu…”
Ia melihat tangannya.
“…mungkin aku bisa.”
***
Fiona menutup matanya.
Ia menarik napas.
Tidak memikirkan ledakan.
Tidak memikirkan serangan.
Tidak memikirkan bagaimana mengalahkan musuh.
Ia hanya memikirkan satu hal.
**Membantu.**
Cahaya mulai muncul di telapak tangannya.
Awalnya sangat kecil.
Lembut.
Hampir seperti cahaya lilin.
Namun perlahan—
cahaya itu semakin terang.
Elyon memperhatikannya dengan serius.
“Fiona…”
“Aku akan mencobanya.”
Cahaya tersebut kemudian bergerak.
Bukan menuju satu orang.
Melainkan—
terbagi.
Satu aliran melesat menuju Darrien.
Satu menuju Elarion.
Satu menuju Elyon.
Kemudian—
Ace.
Rowan.
Dan Kevin.
Enam cahaya kecil menyentuh tubuh mereka hampir bersamaan.
***
Darrien yang sedang bersiap menerima serangan Kaguya tiba-tiba merasakan sesuatu.
Tubuhnya menjadi lebih ringan.
Napasnya terasa lebih mudah.
Penglihatannya lebih tajam.
Gerakan Kaguya yang sebelumnya terasa begitu cepat—
sekarang sedikit lebih mudah diikuti.
Darrien terdiam sepersekian detik.
*Cahaya Fiona…?*
Kaguya juga menyadari perubahan itu.
“Apa?”
Darrien langsung bergerak.
Kali ini—
lebih cepat.
Kaguya menangkis.
Namun ekspresinya berubah.
***
Di sisi lain—
Elarion merasakan energi yang sama.
Tubuhnya terasa lebih ringan.
Gerakannya menjadi lebih responsif.
Ia menatap cahaya yang menyelimuti tangannya.
“Ini…”
Elyon juga menyadarinya.
Ia menatap Fiona dari kejauhan.
“Dia memberikan penguatan kepada semua orang.”
***
Ace yang sedang menghadapi salah satu vampire tiba-tiba tersenyum.
“Hmm?”
Gerakannya terasa berbeda.
Lebih cepat.
Lebih ringan.
Ia menghindari serangan lawan dengan mudah.
“Menarik.”
Rowan juga merasakan perubahan tersebut.
Ia mengangkat tangannya.
Sihirnya terbentuk lebih cepat dari sebelumnya.
“Jadi ini…”
***
Kevin bahkan sempat melirik ke arah Fiona.
Cahaya lembut menyelimuti tubuhnya.
Ia langsung memahami apa yang terjadi.
“Bagus.”
Giselle melihat perubahan itu.
Senyumnya perlahan menghilang.
“Apa yang dia lakukan?”
Mufasa juga memperhatikan.
“Light Magic…”
Namun kekhawatiran mulai muncul di mata mereka.
***
Fiona sendiri masih berdiri di tempatnya.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia tidak pernah mencoba memberikan kekuatan kepada begitu banyak orang sekaligus.
Namun cahaya itu tidak terasa menyakitkan.
Sebaliknya—
semakin ia memikirkan mereka yang ingin ia lindungi,
semakin stabil cahaya tersebut.
Elyon berdiri di sampingnya.
“Jangan dipaksakan.”
Fiona mengangguk.
“Aku tahu.”
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Kalau ini bisa membantu…”
Tatapannya kembali menuju medan perang.
“…aku mau melakukannya.”
***
Darrien kembali berhadapan dengan Kaguya.
Kali ini—
ia menarik napas dengan lebih mudah.
Kaguya memperhatikannya.
“Kau mendapatkan bantuan.”
Darrien tidak menyangkal.
Ia hanya mengangkat tangannya.
“Dan?”
Kaguya tersenyum.
“Tidak masalah.”
Ia kembali mengambil posisi.
“Kalau begitu…”
Aura di tubuhnya mulai meningkat.
“…aku akan menghancurkanmu sebelum bantuan itu membuat perbedaan.”
Darrien menatapnya.
Namun kali ini—
ada sedikit senyum di wajahnya.
“Coba saja.”
Dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai—
Darrien kembali merasakan ruang untuk bernapas.
Pertarungan belum selesai.
Justru—
baru saja memasuki tahap berikutnya.
Share this novel