Completed
594
BAB 406 — KEKUATAN YANG TAK TERBACA
Pagi berikutnya—
halaman latihan Veyth kembali dipenuhi suara benturan.
CLANG!
Pedang bertemu pedang.
BOOM!
Gelombang magicure bertabrakan.
Namun hari itu terasa berbeda.
Tidak ada suasana santai.
Tidak ada percakapan ringan.
Sejak mereka kembali dari Shadowcresent tanpa Fiona—
semuanya berubah.
Mereka telah melihat sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sebuah kerajaan vampire yang tidak mereka kenal.
Sebuah kekuatan yang tidak dapat mereka ukur.
Dan seorang Raja—
yang hanya dengan auranya mampu membuat mereka semua berlutut.
Raizen.
Nama itu masih berada di dalam pikiran mereka.
***
Darrien berdiri di tengah arena.
Napasnya berat.
Keringat membasahi wajahnya.
Kevin berdiri beberapa meter di depannya.
“Lagi.”
Darrien mengangkat pedangnya.
“Baik.”
CLANG!
Mereka kembali bertarung.
Cepat.
Keras.
Tanpa jeda.
Darrien menyerang dari kanan.
Kevin menangkis.
Darrien memutar tubuhnya.
Satu serangan diarahkan ke bahu.
Kevin menghindar.
Darrien langsung mengubah arah serangannya.
BOOM!
Gelombang magicure meledak.
Darrien terdorong beberapa langkah.
Namun ia segera kembali berdiri.
Kevin mengangguk kecil.
“Lebih baik.”
Darrien menarik napas.
“Tapi belum cukup.”
Kevin menatapnya.
“Belum.”
Darrien menggenggam pedangnya lebih erat.
“Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk melewati kekuatannya.”
Kevin terdiam.
Karena itulah masalah sebenarnya.
Bukan sekadar Raizen lebih kuat.
Mereka bahkan tidak memahami apa yang mereka hadapi.
***
Kevin berjalan mendekati Darrien.
“Jelaskan apa yang kau rasakan ketika berada di hadapannya.”
Darrien berpikir.
“Tekanan.”
“Seberapa besar?”
Darrien mengerutkan kening.
“Aku tidak bisa mengukurnya.”
“Aliran magicure?”
“Tidak bisa dibaca.”
“Pusat kekuatan?”
“Tidak ada.”
“Batas?”
Darrien terdiam.
“Aku tidak tahu.”
Kevin menghela napas.
“Persis.”
Keduanya saling memandang.
Itulah yang membuat mereka kesal.
Bukan karena mereka kalah.
Namun karena—
mereka tidak tahu **bagaimana mereka dikalahkan.**
***
Kevin memejamkan mata.
Ia masih mengingat jelas saat berada di aula Shadowcresent.
Tatapan Raizen.
Kemudian tekanan.
Lututnya menyentuh lantai.
Kevin membuka matanya kembali.
“Bahkan saat aku mencoba melawan auranya…”
Ia mengepalkan tangan.
“…tubuhku bergerak lebih dulu daripada pikiranku.”
Darrien mengangguk.
“Aku juga.”
Keduanya terdiam.
Seorang Grandmaster.
Dan seorang petarung yang sedang menuju level tersebut.
Keduanya—
telah dipaksa berlutut.
Bukan karena luka.
Bukan karena serangan.
Hanya karena—
**kehadiran seseorang.**
***
Darrien kembali mengangkat pedangnya.
“Sekali lagi.”
Kevin mengangkat alis.
“Kau belum beristirahat.”
“Aku tidak membutuhkannya.”
“Kau akan pingsan sebelum berhasil menyentuh Raizen.”
Darrien menjawab tanpa ragu.
“Kalau begitu aku akan bangun lagi.”
Kevin terdiam.
Kemudian sudut bibirnya bergerak sedikit.
“Baik.”
Ia mengangkat senjatanya.
“Datang.”
CLANG!
Pertarungan kembali dimulai.
***
Sementara itu—
di bagian lain istana Veyth—
pertempuran yang berbeda sedang berlangsung.
Bukan dengan pedang.
Bukan dengan magicure.
Melainkan dengan—
**buku.**
***
Ruang arsip kerajaan dipenuhi tumpukan dokumen lama.
Buku-buku sejarah.
Catatan perjalanan.
Laporan perang.
Catatan diplomatik.
Dokumen mengenai ras-ras yang pernah berhubungan dengan Veyth.
Semuanya telah dikeluarkan.
Elarion berdiri di salah satu meja panjang.
Beberapa buku terbuka di hadapannya.
Elyon berada di meja lain.
Rowan duduk di lantai dengan beberapa gulungan tua di sekitarnya.
Ace bahkan telah mengambil beberapa dokumen dari rak bagian atas.
Edward dan Gloria juga berada di ruangan tersebut.
Tidak ada seorang pun yang terlihat santai.
Edward membuka sebuah buku tua.
“Mulai dari catatan paling lama.”
Gloria mengangguk.
“Kalau kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi…”
Ia menatap tumpukan buku di depannya.
“…maka kita harus mencari tahu.”
Ace membuka sebuah dokumen.
“Masalahnya, kenapa catatan tentang vampire hampir tidak ada?”
Rowan menjawab tanpa mengangkat kepalanya.
“Karena mungkin mereka memang tidak pernah berhubungan dengan Veyth.”
Elyon mengangguk.
“Itu juga yang kita katakan sebelumnya.”
Ia membalik halaman.
“Veyth dan vampire hidup berdampingan.”
“Namun hidup berdampingan tidak berarti mereka benar-benar berinteraksi.”
Elarion menatap sebuah catatan.
“Dan kalau Shadowcresent sudah ada sejak zaman lama…”
Ia berhenti.
“…maka mungkin mereka sengaja menghapus jejak mereka dari sejarah.”
Ruangan menjadi hening.
Edward mengangkat wajah.
“Itu mungkin.”
Gloria menatap mereka.
“Jadi kita tidak hanya mencari sejarah.”
Elyon menjawab,
“Kita mencari sesuatu yang mungkin sengaja disembunyikan.”
***
Ace tiba-tiba mengangkat sebuah buku.
“Ada sesuatu.”
Semua orang menoleh.
Ace membuka beberapa halaman.
“Catatan tentang wilayah pegunungan.”
Rowan langsung mendekat.
“Vampire?”
Ace menggeleng.
“Tidak secara langsung.”
Ia membaca beberapa baris.
“Disebutkan adanya kerajaan yang tidak menerima utusan dari ras lain.”
Elarion mendekat.
“Nama wilayah?”
Ace melihat halaman tersebut.
“Sebagian tulisan sudah rusak.”
Ia menunjuk bagian bawah.
“Hanya tersisa…”
Ia mencoba membaca.
“Shadow…”
Ia berhenti.
“…Cresent?”
Semua orang terdiam.
Edward langsung berdiri.
“Berikan padaku.”
Ace menyerahkan buku itu.
Edward membacanya.
Hanya beberapa baris yang masih dapat dipahami.
Namun satu hal sudah cukup jelas.
Nama Shadowcresent pernah tercatat.
Sangat lama.
Jauh sebelum generasi mereka.
***
Gloria mendekat.
“Apa isinya?”
Edward menggeleng.
“Tidak banyak.”
Elyon mengambil buku tersebut.
Ia membaca bagian lain.
“Tidak ada informasi mengenai rajanya.”
“Tidak ada informasi mengenai kemampuan mereka.”
“Tidak ada jumlah anggota klan.”
“Bahkan tidak ada hubungan diplomatik.”
Elarion menghela napas.
“Seolah-olah mereka sengaja menjaga jarak dari dunia luar.”
Rowan mengangguk.
“Dan kita baru mengetahui alasannya.”
Ace menatapnya.
“Karena mereka ternyata punya Raja seperti itu.”
Tidak ada yang tertawa.
***
Beberapa jam berlalu.
Tumpukan buku semakin banyak.
Namun hasilnya tetap sedikit.
Terlalu sedikit.
Elarion mulai terlihat frustrasi.
“Tidak masuk akal.”
Ia menutup sebuah buku.
“Ras yang hidup selama ratusan atau bahkan ribuan tahun seharusnya meninggalkan lebih banyak catatan.”
Elyon menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kecuali…”
Ia menatap Elarion.
“Mereka memang tidak membiarkannya tercatat.”
Rowan menghela napas.
“Jadi kita sedang mencari sesuatu yang mungkin tidak ingin ditemukan.”
Ace menjatuhkan dirinya ke kursi.
“Bagus.”
Ia mengusap wajahnya.
“Ini benar-benar hari yang menyenangkan.”
Gloria menatapnya.
Ace langsung mengangkat tangan.
“Aku hanya bercanda.”
Tidak ada yang tertawa.
Ace menurunkan tangannya.
“…Baiklah.”
***
Edward akhirnya menutup buku di tangannya.
“Kita lanjutkan.”
Gloria menatapnya.
“Edward…”
“Kita tidak boleh berhenti.”
Tatapan Edward menjadi tegas.
“Fiona masih berada di sana.”
Semua orang terdiam.
Edward melanjutkan,
“Setiap informasi yang kita temukan bisa menjadi jalan untuk membawanya kembali.”
Elyon mengangguk.
“Benar.”
Elarion kembali membuka buku.
Rowan mulai memeriksa gulungan lain.
Ace berdiri lagi.
Tidak ada yang mengatakan mereka lelah.
Mereka memang lelah.
Tetapi tidak ada yang mau berhenti.
***
Kembali ke halaman latihan—
BOOM!
Darrien terlempar ke belakang.
Ia jatuh berguling.
Namun—
langsung bangkit.
Kevin menatapnya.
“Cukup.”
Darrien menggeleng.
“Belum.”
Kevin menghela napas.
“Darrien.”
“Aku belum bisa.”
“Kau tidak akan memahaminya hanya dengan memukulku.”
Darrien terdiam.
Kevin menatapnya tajam.
“Raizen bukan sekadar lawan yang lebih kuat.”
Ia menunjuk kepala Darrien.
“Kau harus belajar membaca sesuatu yang belum pernah kau temui.”
Darrien menghela napas.
Kemudian menatap langit.
Pikirannya kembali kepada Fiona.
Kepada barrier itu.
Kepada tangannya yang hampir menyentuh tangan Fiona.
“Aku akan memahaminya.”
Kevin terdiam.
Darrien menatapnya.
“Suatu hari nanti.”
Kevin akhirnya tersenyum tipis.
“Bagus.”
Ia mengangkat senjatanya lagi.
“Sekarang…”
Darrien mengangkat pedangnya.
“…kita mulai lagi.”
***
Di dalam ruang arsip—
Elarion tiba-tiba berhenti membalik halaman.
Matanya tertuju pada sebuah simbol kecil di sudut dokumen.
“…”
Ia mendekatkan buku itu ke cahaya.
Elyon memperhatikannya.
“Apa?”
Elarion tidak langsung menjawab.
Ia menunjuk simbol tersebut.
“Ini…”
Rowan berdiri.
Ace juga mendekat.
Edward dan Gloria menoleh.
Elarion mengamati simbol itu lebih lama.
“Simbol bulan sabit.”
Elyon mengerutkan kening.
“Shadowcresent?”
Elarion menggeleng.
“Aku belum tahu.”
Ia menutup buku itu perlahan.
“Tapi…”
Tatapannya menjadi serius.
“Sepertinya kita baru saja menemukan sesuatu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kembali dari Shadowcresent—
mereka merasakan sedikit harapan.
Bukan jawaban.
Belum.
Namun—
**sebuah petunjuk.**
Share this novel