Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 462 — MIMPI YANG TERASA TERLALU NYATA
"Fiona..."
Suara seorang pria terdengar lembut di sampingnya.
"Fiona... bangun."
Fiona hanya mengerang pelan.
"Sudah terlambat."
Suara itu terdengar lebih dekat.
"Kita harus pulang lebih awal."
Fiona masih tidak membuka matanya.
"Tapi aku masih mengantuk..."
Pria itu terdiam sesaat.
"Tapi kita harus segera kembali."
Suaranya kali ini sedikit lebih serius.
"Sebelum mereka menemukan kita."
Fiona perlahan mengerutkan hidungnya.
Masih setengah sadar, ia menjawab tanpa membuka mata.
"Baik... baik..."
Ia menarik napas kecil.
"Besok kita bertemu lagi di sini..."
Suaranya terdengar mengantuk.
"...di waktu yang sama."
Pria itu tertawa pelan.
"Baik."
Kemudian—
sebuah sentuhan lembut terasa di dahinya.
Sebuah kecupan.
"Temui aku besok."
Fiona tersenyum kecil.
"Mm..."
Pria itu berdiri.
"Selamat tinggal."
Langkahnya menjauh.
"See you tomorrow."
Kemudian—
sunyi.
---
Beberapa saat berlalu.
Fiona perlahan membuka matanya.
Namun tubuhnya langsung membeku.
...
Ia tidak bergerak.
Matanya melebar.
"Siapa...?"
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia baru menyadari sesuatu.
Tadi...
ia berbicara dengan seseorang.
Seseorang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Namun yang paling membuatnya takut—
ia menjawabnya secara spontan.
Seolah-olah percakapan itu sudah pernah terjadi berkali-kali.
Fiona buru-buru bangkit.
"Tunggu!"
Ia menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Fiona berdiri.
Ia melihat ke sekeliling.
Pria itu sudah menghilang.
Bukan berjalan pergi.
Bukan bersembunyi.
Benar-benar hilang.
"Eh...?"
Fiona melangkah beberapa kali.
Kemudian ia berhenti.
Ada sesuatu yang terasa salah.
Udara.
Fiona menarik napas.
Matanya menyipit.
"Ini..."
Magicure di sekelilingnya berbeda.
Sangat berbeda.
Shadowcresent memiliki udara yang berat.
Dalam.
Pekat dengan energi kuno.
Namun tempat ini...
ringan.
Bersih.
Murni.
Angin malam menyentuh wajahnya dengan lembut.
Fiona perlahan melihat sekeliling.
Di depannya terbentang sebuah danau.
Permukaannya tenang.
Langit malam hampir berubah menjadi fajar.
Fiona berjalan mendekat.
Setiap langkah terasa aneh.
Ia menunduk.
Baru sekarang ia memperhatikan dirinya sendiri.
Tangannya.
Pakainnya.
Semuanya berbeda.
Bukan pakaian yang biasa ia kenakan di Shadowcresent.
Bukan suasana yang ia kenal.
Fiona menatap tangannya lama.
"Di mana aku...?"
Ia berjalan sampai ke tepi danau.
Kemudian melihat pantulan dirinya.
Rambutnya.
Wajahnya.
Tubuhnya.
Itu dirinya.
Fiona.
Tidak ada keraguan.
Namun—
matanya.
Fiona langsung mundur satu langkah.
"...Mata?"
Ia menyentuh wajahnya.
Pantulan di air menunjukkan sepasang mata berwarna—
emas.
Bukan merah.
Emas.
Fiona terdiam.
Matanya terlihat jauh lebih terang daripada yang ia kenal sekarang.
Dan anehnya...
warna itu terasa familiar.
Bukan seperti sesuatu yang baru.
Melainkan seperti sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lama.
Angin bertiup.
Permukaan danau beriak.
Pantulannya menghilang.
Fiona berkedip.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
---
Fiona membuka mata.
Langsung.
Ia terbaring di tempat tidurnya.
Langit pagi terlihat dari jendela.
Ia tidak bergerak.
Beberapa detik pertama—
ia hanya menatap langit-langit kamar.
Tangannya perlahan bergerak ke samping.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Fiona mengerutkan kening.
Raizen tidak berada di sana.
Tangannya berhenti di atas tempat tidur.
Kemudian ingatan tentang mimpi tadi malam kembali.
Suara itu.
Danau.
Udara yang berbeda.
Mata emas.
Dan pria yang mencium dahinya sebelum pergi.
Fiona mengusap kepalanya.
"Siapa pria itu...?"
Ia mengerutkan kening.
Namun beberapa detik kemudian—
ia menghela napas.
"Mungkin hanya mimpi."
Fiona duduk.
Ia menatap jendela.
Tidak ada danau.
Tidak ada pria misterius.
Tidak ada udara asing.
Hanya Shadowcresent.
Tempat yang sudah ia kenal.
Tempat ia merasa aman.
Fiona menggeleng kecil.
"Ya."
Ia tersenyum tipis.
"Hanya mimpi."
Pintu kamar terbuka.
Raizen masuk.
"Selamat pagi, Fiona."
Fiona langsung menoleh.
Senyumnya kembali muncul.
"Selamat pagi, Raizen."
Dan dalam sekejap—
mimpi itu terasa semakin jauh.
Seperti tidak pernah terjadi.
---
Di tempat lain.
Darrien terbangun.
Matanya terbuka perlahan.
Ia masih terbaring di tempat tidur.
Tidak bergerak.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian—
tangannya bergerak ke sisi tubuhnya.
Kosong.
Darrien menatap langit-langit.
Ada sesuatu yang baru saja ia lihat.
Atau rasakan.
Sangat samar.
Hanya serpihan.
Sebuah tempat.
Sebuah danau.
Dan Fiona.
Ia tidak bisa melihat semuanya dengan jelas.
Tidak bisa mengingat percakapannya.
Namun ia ingat satu hal.
Ia memeluk Fiona.
Tubuh Fiona berada dekat dengannya.
Hangat.
Tenang.
Dan untuk sesaat—
ia bisa merasakan Fiona benar-benar berada di sisinya.
Darrien menutup matanya.
Napasnya bergetar.
Sudah berminggu-minggu ia menahan semuanya.
Amarah.
Rasa kehilangan.
Kerinduan.
Harapan.
Ia terus memaksa dirinya untuk berdiri.
Untuk berlatih.
Untuk mencari cara.
Untuk tetap percaya bahwa Fiona masih bisa kembali.
Namun mimpi singkat itu—
hanya beberapa detik—
menghancurkan pertahanannya.
Air mata perlahan keluar dari sudut matanya.
Darrien mengangkat satu tangan dan menutup matanya.
Ia tidak mencoba menghapusnya.
Tidak mencoba menahannya.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu—
ia membiarkan dirinya menangis.
Diam-diam.
Tanpa suara.
Hanya air mata yang terus mengalir sementara tubuhnya masih terbaring di tempat tidur.
Tangannya perlahan mengepal.
"Fiona..."
Namanya keluar dalam bisikan.
Darrien menarik napas panjang.
Kemudian menutup matanya kembali.
Seolah-olah jika ia tidur lagi—
ia mungkin bisa kembali ke tempat itu.
Kembali ke danau.
Kembali memeluknya.
Walaupun hanya dalam mimpi.
Walaupun hanya untuk beberapa saat.
Karena setelah berminggu-minggu kehilangan Fiona—
bahkan beberapa detik bersamanya terasa seperti sesuatu yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
