86. Orang Yang Menunggu

Romance Series 94

BAB 86
ORANG YANG MENUNGGU

Pagi itu, mereka akhirnya tiba di sebuah kota besar di luar wilayah Ardika.

Dinding kota menjulang tinggi di hadapan mereka.

Setelah berhari-hari melarikan diri, melihat tempat yang benar-benar aman membuat Fiona menghela napas lega.

“Jadi kita benar-benar sudah keluar dari wilayah Ardika?”

Ace mengangguk.

“Ya.”

Fiona tersenyum kecil.

“Bagus.”

Darrien berjalan di sampingnya.

Namun sebelum mereka memasuki gerbang—

Darrien berhenti.

Ia memejamkan mata.

Sensing-nya menyebar.

Penduduk.

Penjaga.

Pedagang.

Penyihir.

Begitu banyak aura bercampur di dalam kota.

Namun ada satu aura yang membuatnya berhenti.

“Darrien?”

Kevin menatapnya.

“Seseorang sedang menunggu kita.”

Ace langsung waspada.

“Ardika?”

Darrien menggeleng.

“Bukan.”

“Varian?”

“Bukan.”

Elarion menatap gerbang.

“Lalu siapa?”

Darrien membuka matanya.

“Aku tidak tahu.”

Mereka tetap melanjutkan perjalanan.

***

Begitu memasuki kota, mereka melihat seorang pria berdiri di dekat alun-alun.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Ia mengenakan jubah biru gelap.

Tatapannya tenang.

Namun begitu melihat Darrien—

pria itu langsung tersenyum.

“Jadi kau akhirnya datang.”

Darrien berhenti.

“Siapa kau?”

Pria itu membungkuk sedikit.

“Namaku Rowan.”

Ace memperhatikan pria tersebut dengan hati-hati.

“Kau menunggu kami?”

“Ya.”

“Bagaimana kau tahu kami akan datang?”

Rowan tersenyum.

“Aku sudah tahu kalian akan melewati kota ini.”

Darrien menyipitkan mata.

“Dari siapa?”

“Bukan sesuatu yang bisa kubahas di jalan.”

Kevin mengamati Rowan.

“Kalau begitu bicara di tempat yang aman.”

Rowan mengangguk.

“Itu memang tujuanku.”

***

Mereka mengikuti Rowan menuju sebuah rumah besar yang tersembunyi di balik pepohonan.

Setelah semua masuk, Rowan menutup pintu.

Darrien langsung berbalik.

“Sekarang jelaskan.”

Rowan tersenyum kecil.

“Kau benar-benar tidak suka menunggu.”

“Setelah semua yang terjadi, aku sudah bosan dengan rahasia.”

Fiona yang duduk di dekat jendela mengangguk.

“Aku setuju.”

Elarion tertawa kecil.

Ace menyandarkan tubuhnya pada dinding.

“Jadi, apa yang sebenarnya kau tahu?”

Rowan menatap Darrien.

“Aku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak biasa tentang dirimu.”

Darrien diam.

“Dan aku tahu bahwa sihirmu bukan sesuatu yang muncul secara kebetulan.”

Kevin langsung memperhatikan Rowan.

“Lanjutkan.”

Rowan tidak langsung menjawab.

Ia memasukkan tangannya ke dalam jubah.

Namun bukannya mengeluarkan sesuatu, ia berhenti.

“Benda ini tidak seharusnya ditunjukkan di tempat terbuka.”

Ace mengerutkan kening.

“Benda apa?”

Rowan menatap Darrien.

“Sesuatu yang mungkin bisa membantu menjelaskan mengapa kekuatanmu begitu berbeda.”

Darrien melangkah mendekat.

“Apa?”

Rowan tersenyum tipis.

“Besok pagi.”

Darrien mengerutkan kening.

“Kenapa harus menunggu?”

“Karena benda itu berkaitan dengan kerajaan.”

Ruangan langsung sunyi.

Kevin dan Ace saling bertukar pandang.

Bukan karena terkejut.

Mereka sudah mengetahui hubungan mereka dengan kerajaan.

Namun Rowan jelas mengetahui sesuatu yang jauh lebih spesifik.

Darrien menatap mereka.

“Kalian tahu sesuatu?”

Kevin menjawab,

“Belum.”

Ace menambahkan,

“Dan kita tidak akan membuat kesimpulan sebelum melihat buktinya.”

Darrien menghela napas.

“Baik.”

Fiona tersenyum kecil.

“Untuk sekali ini, dengarkan mereka.”

Darrien menatapnya.

“Kau juga?”

“Ya.”

Darrien akhirnya tertawa kecil.

“Baiklah.”

***

Malam itu, mereka beristirahat di rumah Rowan.

Fiona tidur lebih awal karena tubuhnya masih dalam pemulihan.

Darrien sempat memeriksa auranya sebelum tidur.

Stabil.

Tidak ada bahaya.

Baru setelah itu ia merasa cukup tenang.

Namun sebelum Darrien masuk ke kamarnya—

Rowan memanggilnya.

“Darrien.”

Darrien menoleh.

“Besok…”

Rowan menatapnya serius.

“…apa pun yang kau lihat, jangan langsung mengambil kesimpulan.”

Darrien mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena satu benda tidak cukup untuk menentukan siapa dirimu.”

Darrien terdiam.

Kemudian mengangguk.

“Baik.”

Rowan tersenyum.

“Tidurlah.”

Darrien pergi.

Rowan tetap berdiri di sana.

Tangannya menyentuh bagian dalam jubahnya.

Benda yang ia sembunyikan masih berada di sana.

Sebuah lambang emas.

Dan besok pagi—

lambang itu akan menjadi awal dari kebenaran tentang masa lalu Darrien.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience