Series
382
BAB 248
Langkah kaki Ardika dan Varian perlahan menghilang dari Crystal Garden.
Fiona tidak mengejar.
Ia juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia hanya berdiri di tempatnya selama beberapa saat, memandangi jalan yang baru saja dilewati mereka.
Kemudian—
ia mengembuskan napas kecil.
“Sudah selesai.”
Darrien yang berdiri di sampingnya menoleh.
“Hmm?”
Fiona tersenyum.
“Mereka sudah pergi.”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
Tidak ada yang mengejar mereka.
Tidak ada pula yang merasa perlu memanggil kembali.
Percakapan tadi sudah cukup.
Apa pun yang terjadi di masa lalu—
untuk saat ini, mereka telah memilih jalan masing-masing.
***
Angin sore kembali bertiup.
Fiona berjalan menuju bagian tengah Crystal Garden.
Ia menemukan sebuah bangku batu yang berada di bawah pohon kristal.
Ia duduk.
Darrien ikut duduk di sampingnya.
Elarion berdiri tidak jauh dari mereka.
Ace dan Rowan memilih bersandar pada salah satu batu besar.
Untuk beberapa saat—
tidak ada yang berbicara.
Hanya suara angin.
Dan bunyi samar kristal yang saling bersentuhan ketika tertiup.
Fiona mendongak.
“Tempat ini benar-benar tenang.”
Darrien mengangguk.
“Tidak banyak orang yang datang ke sini ketika pesta berlangsung.”
“Bagus.”
Fiona tersenyum.
“Aku suka.”
Ace tertawa.
“Karena tidak ada yang melihatmu makan?”
Fiona langsung menoleh.
“Aku sudah selesai makan.”
“Untuk sekarang.”
Rowan menambahkan.
Fiona menyipitkan mata.
“Kalian berdua…”
Darrien tertawa kecil.
Elarion menghela napas.
“Sepertinya suasana serius memang tidak bertahan lama bersama kalian.”
Fiona tersenyum.
“Tidak masalah.”
Ia kembali menatap taman.
“Lagipula hari ini hari perayaan.”
***
Beberapa saat kemudian—
Fiona berjalan lagi.
Ia mendekati salah satu kristal besar yang tumbuh dari tanah.
Cahayanya memantul di wajahnya.
Fiona menyentuh permukaannya.
“Masih terasa hangat.”
Darrien berdiri beberapa langkah di belakang.
“Kristal Veyth menyerap energi lingkungan.”
Elarion menambahkan,
“Dan beberapa kristal juga dapat menyimpan jejak mana.”
Fiona menoleh.
“Jejak mana?”
Elarion mengangguk.
“Karena itu beberapa bagian istana memiliki kemampuan untuk mempertahankan energi tertentu dalam waktu lama.”
Fiona mengangguk pelan.
“Menarik.”
Ace melihat sekeliling.
“Kalau begini…”
Ia menunjuk batu-batu di taman.
“Benar-benar campuran kristal dan batu.”
Fiona langsung tertawa.
“Kan?”
Darrien memandang mereka.
“Kalian masih membahas itu?”
Rowan mengangguk serius.
“Ini penting.”
Darrien menghela napas.
“Entah bagaimana…”
Ia menatap Fiona.
“…aku mulai menyesal membawa kalian ke sini.”
Fiona tertawa.
***
Sementara itu—
di dalam Crystal Hall,
suasana masih berlangsung.
King Edward dan Queen Gloria sedang berbicara dengan King Zeith dan Queen Seraphine.
Beberapa bangsawan yang berada di dekat mereka ikut menjaga jarak dengan sopan.
Edward tersenyum.
“Kami benar-benar berterima kasih atas kehadiran kalian.”
Zeith mengangkat gelasnya sedikit.
“Kami justru yang mengucapkan selamat.”
Edward tersenyum.
“Terima kasih.”
Zeith kemudian berkata,
“Setelah bertahun-tahun pencarian…”
Ia menatap ke arah Darrien yang tadi berdiri di tengah aula.
“Veyth akhirnya menemukan pewarisnya kembali.”
Seraphine tersenyum hangat.
“Itu bukan sesuatu yang kecil.”
Gloria terlihat bahagia.
“Benar.”
Ia menatap ke arah pintu taman.
“Rasanya seperti mimpi.”
Edward tertawa kecil.
“Kadang aku sendiri masih sulit mempercayainya.”
Zeith mengangguk.
“Kami dapat memahami perasaan itu.”
Seraphine menambahkan,
“Kehilangan seorang anak selama bertahun-tahun tentu meninggalkan luka yang tidak mudah hilang.”
Gloria terdiam sesaat.
Kemudian tersenyum.
“Namun sekarang…”
Ia menghela napas.
“Dia sudah kembali.”
Zeith mengangkat gelasnya.
“Untuk Darrien Veyth.”
Edward ikut mengangkat gelas.
“Untuk putra kami.”
Gloria tersenyum.
“Untuk keluarga yang akhirnya kembali lengkap.”
Gelas mereka beradu pelan.
***
Tidak jauh dari sana—
Elyon berdiri sendirian.
Ia berada di dekat sebuah jendela kristal tinggi yang menghadap ke sisi lain istana.
Tidak banyak orang memperhatikannya.
Ia tidak ikut dalam percakapan.
Tidak pula menyentuh makanan.
Tatapannya hanya mengarah ke luar.
Crystal Garden terlihat dari sana.
Cukup jauh.
Namun masih dapat dilihat dengan jelas.
Elyon melihat pepohonan kristal.
Bangku batu.
Dan—
sekelompok orang yang masih berada di sana.
Fiona.
Darrien.
Elarion.
Ace.
Rowan.
Tatapannya berhenti pada Fiona.
Untuk beberapa saat—
ia hanya diam.
Tidak ada perubahan besar pada ekspresinya.
Namun matanya menjadi sedikit lebih dalam.
***
“Penasihat Agung.”
Suara King Zeith terdengar dari belakang.
Elyon menoleh sedikit.
“Yang Mulia?”
Zeith berdiri beberapa langkah darinya.
“Kau tidak ikut berbincang?”
Elyon kembali melihat keluar jendela.
“Tidak perlu.”
Zeith mengikuti arah pandangannya.
Ia melihat taman.
“Kau memperhatikan sesuatu?”
Elyon terdiam sejenak.
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Zeith mengangkat alis.
Namun tidak bertanya lagi.
Queen Seraphine kemudian datang menghampiri mereka.
“Elyon.”
Elyon menoleh.
“Yang Mulia.”
Seraphine tersenyum.
“Terima kasih sudah menemani kami ke Veyth.”
Elyon menundukkan kepala.
“Itu kewajibanku.”
Seraphine kemudian melihat ke arah taman.
“Apakah kau menemukan sesuatu?”
Elyon kembali melihat ke luar.
“Belum.”
“Belum?”
“Masih terlalu dini untuk memastikan.”
Seraphine mengangguk perlahan.
“Begitu.”
Ia tidak memaksanya.
***
Di luar—
Fiona tiba-tiba berhenti.
Darrien menoleh.
“Kenapa?”
Fiona memandang ke arah bangunan istana.
“Entahlah.”
“Apa?”
“Aku merasa…”
Ia mengernyit.
“…seperti ada yang melihat.”
Ace langsung melihat ke atas.
“Dari mana?”
Fiona menunjuk samar.
“Entah.”
Rowan melihat ke arah jendela-jendela kristal.
“Banyak sekali jendela.”
Elarion ikut melihat.
Matanya berhenti pada salah satu jendela.
Namun dari tempat mereka berdiri—
tidak terlihat jelas siapa yang berada di sana.
Elarion menyipitkan mata.
Kemudian—
ia melihat sosok Light Elf berdiri di balik kaca.
Elyon.
Namun bukan Elyon yang mereka kenal.
Penampilannya berbeda.
Jaraknya terlalu jauh untuk memastikan.
Elarion hanya melihat sekilas.
Kemudian sosok itu bergerak sedikit menjauh dari jendela.
Elarion terdiam.
“Ada apa?”
Darrien bertanya.
Elarion menggeleng.
“Tidak ada.”
Fiona menatapnya.
“Yakin?”
“Ya.”
Ia tidak menjelaskan.
Belum.
***
Di balik jendela—
Elyon masih berdiri.
Namun kali ini—
tatapannya tidak lagi tertuju kepada seluruh kelompok.
Hanya kepada satu orang.
Fiona.
Ia memperhatikan gadis itu tertawa bersama Darrien.
Melihat cara Fiona berbicara.
Cara ia berjalan.
Cara ia tersenyum.
Hal-hal kecil yang mungkin tidak berarti bagi orang lain.
Namun bagi Elyon—
semuanya terasa seperti sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.
Sangat lama.
Sangat jauh.
Ia memejamkan mata sejenak.
Kemudian berbisik sangat pelan—
“…”
Tidak ada seorang pun yang mendengar.
Elyon membuka mata kembali.
Tatapannya kembali tenang.
Di luar—
Fiona kembali berjalan bersama Darrien.
Tidak mengetahui bahwa—
dari balik jendela kristal,
seseorang sedang memperhatikannya.
Seseorang yang memiliki terlalu banyak pertanyaan.
Dan mungkin—
jauh lebih banyak jawaban.
Namun untuk saat ini—
Elyon memilih diam.
Karena belum waktunya.
Belum.
Share this novel