Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 450 — JANGAN SAKITI DIA
"Fiona."
Suara itu terdengar dari belakang.
Fiona berhenti.
Untuk sesaat, seluruh aula terasa sunyi.
Ia perlahan menoleh.
Darrien berdiri beberapa langkah dari sana.
Debu dan bekas pertarungan masih menempel pada pakaiannya.
Pedangnya masih berada di tangannya.
Namun sekarang...
ia tidak lagi memikirkan pertarungan.
Ia hanya melihat Fiona.
Setelah berbulan-bulan.
Setelah begitu banyak perjalanan.
Setelah melewati pegunungan Shadowcresent yang seolah tidak pernah berakhir...
akhirnya wanita yang ia cari berdiri di hadapannya.
Fiona.
Benar-benar Fiona.
Namun...
Fiona tidak bergerak menuju dirinya.
Tatapan Fiona hanya tertuju pada satu orang.
Raizen.
Tubuh Raizen masih berdiri beberapa langkah dari mereka.
Jubahnya robek.
Darah terlihat di sisi wajah dan pakaiannya.
Fiona langsung berlari ke arahnya.
"Raizen!"
Ia memegang tubuh Raizen sebelum pria itu sempat bergerak.
"Kau terluka!"
Raizen menatapnya.
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan bohong."
Suara Fiona bergetar.
Tangannya menyentuh wajah Raizen dengan hati-hati.
Ia melihat darah di sana.
Kemudian melihat luka di tubuhnya.
Mata Fiona mulai berkaca-kaca.
"Siapa yang melakukan ini?"
Raizen tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Fiona.
Di sisi lain aula...
Darrien membeku.
Ia tidak bergerak.
Tidak mengatakan apa-apa.
Hanya melihat.
Fiona bahkan tidak melihat ke arahnya lagi.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada suara bahagia karena akhirnya bertemu.
Fiona langsung berlari kepada Raizen.
Darrien menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya...
ia benar-benar melihat perubahan pada Fiona.
Rambutnya masih sama.
Wajahnya masih wajah yang ia kenal.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Terutama matanya.
Mata Fiona...
berwarna merah tua.
Crimson.
Bukan warna mata yang pernah ia kenal.
Darrien menatapnya dengan napas tertahan.
"Matamu..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Elyon juga memperhatikan.
Kevin.
Rowan.
Elarion.
Tidak seorang pun berbicara.
Mereka semua menyadari hal yang sama.
Fiona terlihat seperti Fiona.
Namun sekaligus...
bukan Fiona yang mereka kenal.
Ada sesuatu dalam auranya yang berubah.
Lebih tenang.
Lebih dalam.
Dan ketika ia berdiri di samping Raizen...
ia terlihat begitu alami.
Seolah tempat itu memang sudah menjadi rumahnya.
Darrien menundukkan kepala sedikit.
Dadanya terasa sesak.
Ia sudah membayangkan begitu banyak kemungkinan.
Namun tidak pernah membayangkan ini.
Ia telah datang sejauh ini untuk membawa Fiona pulang.
Tetapi ketika Fiona akhirnya berada di depan matanya...
wanita yang dicintainya justru berlari kepada pria lain.
Dan bahkan tanpa mengatakan satu kata pun...
Fiona sudah menunjukkan pilihannya melalui tindakan.
Darrien mengepalkan tangan.
Sakit.
Jauh lebih sakit daripada semua luka yang ia dapatkan di pegunungan.
---
"Raizen..."
Fiona menyentuh sisi tubuhnya lagi.
"Ini terlalu banyak."
"Aku baik-baik saja."
"Kau berdarah."
"Aku akan sembuh."
"Tapi kau terluka."
Suara Fiona semakin bergetar.
Air mata akhirnya jatuh.
Raizen menatap air mata itu.
Untuk sesaat...
ia hampir lupa bahwa semua ini adalah bagian dari rencananya.
Fiona menangis.
Karena dirinya.
Ia memeluk Raizen.
Tubuhnya menempel erat pada pria itu.
"Jangan terluka seperti ini lagi."
Raizen mengangkat tangannya.
Ia membelai rambut Fiona perlahan.
"Baik."
Fiona menarik napas.
Kemudian perlahan menoleh.
Tatapannya jatuh pada Darrien.
Tidak ada kebencian yang langsung meledak.
Hanya air mata di wajahnya.
Namun ketika pandangannya kembali pada darah di tubuh Raizen...
ekspresinya berubah.
Ia memahami satu hal.
Pria itu telah menyerang Raizen.
Dan Fiona tidak menyukainya.
Sama sekali.
Darrien melihat tatapan itu.
Ia tahu.
Ia baru saja menjadi orang yang paling dibenci Fiona.
Bukan karena Fiona mengenalinya.
Bukan karena Fiona mengingat masa lalu.
Namun karena...
ia adalah orang yang telah melukai pria yang dicintainya.
Fiona berdiri.
Tangannya masih menggenggam lengan Raizen.
"Jangan sentuh dia lagi."
Darrien diam.
Fiona menatapnya.
"Jangan sakiti Raizen."
Darrien membuka mulut.
"Fiona, aku—"
Namun Fiona sudah mengangkat tangannya.
Cahaya mulai berkumpul.
Darrien langsung menyadari.
"Fiona, tunggu—"
Cahaya Pure Light meledak dari tubuh Fiona.
Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Veyth.
Elyon langsung memahami.
"Teleportasi!"
Kevin mencoba bergerak.
Terlambat.
Darrien melangkah maju.
"Fiona!"
Fiona menatapnya.
Mata mereka bertemu untuk sesaat.
Darrien ingin mengatakan begitu banyak hal.
Bahwa ia mencarinya.
Bahwa ia merindukannya.
Bahwa ia datang untuk membawanya pulang.
Namun tidak satu pun kata itu sempat keluar.
"Fio—"
**WHOOSH!**
Cahaya memenuhi aula.
Tubuh Darrien dan seluruh anggota Veyth menghilang.
Dalam satu detik...
mereka lenyap dari hadapan Fiona.
Aula kembali sunyi.
Hanya sisa cahaya teleportasi yang perlahan menghilang.
Fiona berdiri diam beberapa detik.
Kemudian ia segera kembali kepada Raizen.
Tangannya memegang wajah Raizen lagi.
"Apakah masih sakit?"
Raizen menatapnya.
"Sedikit."
Fiona langsung mengerutkan kening.
"Kau bilang baik-baik saja."
"Memang."
"Kalau sakit, berarti tidak baik-baik saja."
Raizen hampir tersenyum.
Fiona memeluknya lagi.
Lebih erat.
Raizen membiarkannya.
Ia menutup mata sebentar.
Rencana itu...
berhasil.
Namun ada satu bagian yang bahkan tidak ia duga.
Fiona menangis karena melihatnya terluka.
Bukan sekadar khawatir.
Ia benar-benar marah.
Dan ketika Darrien masih berada di aula...
Fiona tidak ragu mengusirnya.
Raizen membuka mata.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Namun sebelum ia sempat menikmati kemenangan kecil itu...
"MUFFASA!"
Suara Fiona membuat seluruh aula kembali tegang.
Mufasa yang sejak tadi berdiri di dekat para penjaga langsung menegakkan tubuh.
"Ya?"
Fiona menatapnya dengan kesal.
"Kenapa kau membiarkan Raizen terluka?!"
Mufasa terdiam.
Para penjaga vampir di belakangnya langsung menundukkan kepala.
Fiona menunjuk luka Raizen.
"Kau ada di sini!"
Mufasa menghela napas panjang.
"Yang Mulia..."
"Jangan 'Yang Mulia'!"
Fiona semakin kesal.
"Raizen sampai berdarah!"
Mufasa menatap Raizen.
Kemudian melihat Fiona.
Lalu kembali melihat Raizen.
Raizen hanya berdiri tenang.
Seolah tidak tahu apa-apa.
Mufasa menarik napas lagi.
"...Saya minta maaf."
Fiona masih terlihat tidak puas.
"Harusnya kau melindunginya!"
Mufasa menutup mata sesaat.
"Baik."
Ia menoleh kepada para penjaga.
"Kalian dengar?"
Semua langsung membungkuk.
"Ya, Tuan Mufasa."
Fiona masih memeluk Raizen.
"Jangan biarkan dia terluka lagi."
Mufasa melirik Raizen sekali lagi.
Tatapan mereka bertemu.
Raizen tidak mengatakan apa-apa.
Namun senyum kecil di sudut bibirnya terlihat jelas.
Mufasa langsung memahami.
Ia menghela napas panjang.
Sekarang ia tahu...
permainan Yang Mulia telah menghasilkan jawaban.
Dan sepertinya...
hasilnya jauh lebih menarik daripada yang mereka perkirakan.
