Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 356 — CINTA YANG TIDAK PERNAH MATI
Angin lembut berhembus di atas Danau Lunaris.
Permukaan air bergerak perlahan, memantulkan cahaya matahari yang jatuh di antara dedaunan.
Tidak ada suara lain.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada suara dari istana.
Hanya suara angin dan air.
Fiona dan Darrien berjalan cukup jauh dari tepi danau sebelum akhirnya menemukan sebuah pohon besar.
Pohon yang sama-sama memberikan bayangan luas.
Fiona duduk lebih dahulu.
Darrien kemudian duduk di sampingnya.
Mereka berdua menghadap danau.
Berdampingan.
Diam.
Tidak ada yang memulai percakapan.
Beberapa menit berlalu.
Fiona akhirnya perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Darrien.
Darrien menoleh sedikit.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Tangannya justru bergerak perlahan—
merangkul Fiona lebih dekat.
Fiona tidak menolak.
Ia hanya membiarkan dirinya berada di sana.
Tenang.
Nyaman.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.
***
Fiona menatap permukaan danau.
Entah kenapa—
pemandangan sederhana itu terasa seperti sesuatu yang pernah ia bayangkan berkali-kali.
Dulu.
Ketika ia sendirian.
Ketika dunia terasa terlalu luas.
Ketika ia hanya memiliki kenangan Darrien untuk menemaninya.
Ia pernah membayangkan—
jika suatu hari Darrien kembali…
mereka akan duduk seperti ini.
Tidak ada perang.
Tidak ada darah.
Tidak ada gelar.
Tidak ada kehilangan.
Hanya mereka berdua.
Menikmati angin.
Fiona tersenyum kecil.
*Mungkin aku benar-benar mendapatkannya.*
Namun—
ia tidak pernah membayangkan satu hal.
Bahwa setelah menunggu ribuan tahun…
ia justru akan merasa malu ketika akhirnya duduk di sampingnya.
Fiona menghela napas kecil.
Darrien mendengarnya.
“Kau baik-baik saja?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
“Yakin?”
“Ya.”
Darrien tersenyum.
“Baiklah.”
Mereka kembali diam.
Beberapa saat.
Kemudian—
Darrien akhirnya membuka suara.
“Fiona.”
“Hm?”
“Tentang waktu itu…”
Fiona sedikit menegang.
“Waktu apa?”
Darrien menatap danau.
“Ketika kau bertanya kepadaku…”
Ia berhenti.
“…kalau kau adalah monster, apakah aku masih akan berada di sisimu.”
Fiona membeku.
Jarinya perlahan mencengkeram kain pakaiannya.
Ia tidak menoleh.
Ia hanya menunggu.
Darrien melanjutkan.
“Aku pikir…”
Ia tersenyum kecil.
“…aku sekarang punya jawaban yang lebih tepat.”
Jantung Fiona mulai berdetak lebih cepat.
Darrien menarik napas.
“Aku tidak peduli siapa dirimu.”
Fiona diam.
“Aku juga tidak peduli siapa diriku.”
Darrien menatapnya.
“Saintess.”
“Manusia.”
“Monster.”
“Atau bahkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh dunia ini.”
Ia menggenggam tangan Fiona.
“Perasaanku kepadamu tetap sama.”
Fiona perlahan menundukkan kepala.
Darrien tersenyum.
“Dan kalau kau benar-benar monster…”
Ia berhenti sebentar.
Fiona akhirnya menoleh.
Darrien menatapnya dengan ekspresi serius.
“…kau tetap akan menjadi monster kecilku yang lucu.”
Fiona:
“….”
Darrien tersenyum.
Fiona memelototinya.
“Monster kecil?”
“Ya.”
“Aku Saintess.”
“Aku tahu.”
“Dari zaman yang sangat tua.”
“Aku tahu.”
“Aku memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada kebanyakan makhluk hidup.”
“Aku tahu.”
Fiona menyipitkan mata.
“Dan kau masih memanggilku monster kecil?”
Darrien mengangguk dengan sangat tenang.
“Monster kecil yang lucu.”
Fiona menutup wajahnya.
“Darrien…”
Darrien tertawa kecil.
“Apa?”
“Kau merusak suasana.”
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
Fiona mencubit lengannya.
“Aw!”
Darrien tertawa.
Namun setelah tawa itu mereda—
ekspresinya kembali menjadi lembut.
Ia memegang tangan Fiona lebih erat.
“Fiona.”
Fiona menurunkan tangannya.
Darrien menatapnya.
“Memories didn't die.”
Fiona terdiam.
“Mungkin tubuhku berubah.”
“Mungkin aku pernah hidup sebagai orang lain.”
“Mungkin aku memiliki kehidupan lain.”
“Mungkin sebagian ingatanku hilang.”
“Mungkin suatu hari nanti aku akan mengingat semuanya.”
Ia berhenti.
“Tapi itu tidak mengubah satu hal.”
Darrien mengangkat tangan Fiona.
“Perasaan yang ada di dalam diriku…”
Ia menatap mata Fiona.
“…tetap nyata.”
Air mata perlahan muncul di sudut mata Fiona.
Darrien melanjutkan.
“Kau menunggu terlalu lama.”
“Bahkan ketika aku tidak tahu siapa diriku.”
“Bahkan ketika aku tidak bisa mengingatmu.”
“Bahkan ketika dunia sudah melupakan kalian.”
“Namun kau tetap menunggu.”
Fiona menggigit bibirnya.
“Darrien…”
“Jadi jangan pernah berpikir…”
Ia mendekat sedikit.
“…bahwa aku akan meninggalkanmu hanya karena aku mengetahui siapa dirimu.”
Fiona menatapnya.
“Bagaimana kalau aku benar-benar monster?”
Darrien tersenyum.
“Sudah kubilang.”
Ia menyentuh ujung hidung Fiona dengan jarinya.
“Monster kecilku.”
Fiona langsung memalingkan wajah.
“Kau benar-benar menyebalkan.”
“Tapi kau masih di sini.”
Fiona terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
“Ya.”
Ia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Darrien.
“Karena…”
Ia berhenti.
“…aku juga tidak ingin pergi.”
Darrien tersenyum.
Tangannya kembali merangkul Fiona.
***
Mereka kembali diam.
Namun kali ini—
keheningannya berbeda.
Tidak lagi terasa berat.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada keraguan.
Hanya rasa tenang.
Fiona memejamkan mata.
Angin menyentuh rambutnya.
Darrien menatap wajahnya.
Ia melihat mata Fiona yang perlahan terbuka.
Keduanya saling memandang.
Tidak ada kata-kata.
Fiona tidak melarikan diri.
Darrien juga tidak mengejarnya.
Mereka hanya diam.
Semakin dekat.
Fiona bisa merasakan napas Darrien.
Darrien bisa merasakan detak jantung Fiona.
Untuk sesaat—
Fiona kembali ragu.
Namun kali ini—
ia tidak mundur.
Darrien perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh sisi wajah Fiona.
Lembut.
Seolah takut membuatnya takut.
Fiona menutup matanya.
Dan Darrien mendekat.
Bibir mereka bertemu.
Sebuah ciuman lembut.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak penuh nafsu.
Hanya sebuah ciuman yang membawa ribuan tahun kerinduan.
Angin terus berhembus.
Permukaan danau berkilauan di bawah cahaya matahari.
Fiona menggenggam pakaian Darrien.
Dan untuk beberapa detik—
dunia terasa berhenti.
Tidak ada Saintess.
Tidak ada Grandmaster.
Tidak ada masa lalu.
Tidak ada ribuan tahun yang hilang.
Hanya—
Fiona.
Dan Darrien.
Ketika mereka perlahan berpisah—
Fiona masih menutup mata.
Wajahnya merah.
Darrien tersenyum.
Fiona membuka satu matanya.
“…Jangan tersenyum.”
“Kenapa?”
“Karena aku malu.”
Darrien tertawa pelan.
“Bukankah kau yang tetap di sini?”
Fiona langsung menatapnya.
“Diam.”
Darrien tertawa lagi.
Fiona akhirnya ikut tersenyum.
Kemudian—
ia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Darrien.
Kali ini tanpa rasa takut.
Tanpa ingin melarikan diri.
Dan di bawah pohon besar di tepi Danau Lunaris—
setelah ribuan tahun menunggu—
Fiona akhirnya mendapatkan satu momen sederhana yang dulu hanya berani ia bayangkan.
Duduk di samping orang yang dicintainya.
Dan mencium orang yang selama ini ia tunggu.
Tidak sebagai Saintess.
Tidak sebagai legenda.
Hanya sebagai—
Fiona.
Yang akhirnya menemukan jalan pulang.
