419. Di Bawah Bulan Crimson

Romance Completed 594

BAB 419 — DI BAWAH BULAN CRIMSON

Malam semakin larut di Shadowcresent.

Bulan sabit crimson menggantung tinggi di langit, menyinari taman kerajaan. Cahayanya memantul di permukaan air mancur, menciptakan kilau merah keemasan di antara mawar-mawar hitam.

Fiona masih berada di sana bersama Raizen.

Waktu terasa berlalu begitu cepat ketika mereka bersama.

Fiona berdiri di dekat air mancur, memandangi air yang berkilauan.

“Indah…”

Raizen berdiri beberapa langkah darinya.

“Ya.”

Fiona menoleh dengan mata menyipit, seolah hendak memastikan apakah mereka sedang membicarakan hal yang sama.

Raizen hanya membalas tatapannya dengan senyum tipis.

Fiona tertawa kecil, kemudian mengulurkan tangan.

“Kalau begitu…”

Ia memiringkan kepala.

“Temani aku.”

Raizen memandang tangannya.

Menari?

Fiona mengangguk kecil, seolah sudah mengetahui pertanyaan yang belum sempat diucapkannya.

Taman itu kosong.

Tidak ada pelayan.

Tidak ada pengawal yang mengawasi.

Hanya mereka, di bawah cahaya bulan.

Akhirnya, Raizen menerima uluran tangannya.

Senyum Fiona langsung merekah.

---

Mereka mulai bergerak perlahan.

Tidak ada musik, hanya suara air mancur dan desir angin malam.

Raizen memimpin langkah mereka, sementara Fiona mengikuti dengan gerakan yang awalnya sedikit kaku.

Beberapa langkah kemudian, Fiona mulai tertawa.

Ia mengangkat wajah dan mendapati Raizen masih memasang ekspresi serius, seolah sedang menghadiri pertemuan kerajaan.

Fiona mengerucutkan bibir, lalu sengaja menginjak ujung sepatunya.

Raizen menunduk.

Fiona segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan tawanya.

Tatapan Raizen beralih dari sepatunya ke wajah Fiona.

Bukannya menegurnya, ia justru menariknya sedikit lebih dekat dan memutar tubuhnya dengan gerakan yang lebih luwes.

Fiona terkejut.

Roknya berputar mengikuti gerakan, sementara rambutnya terayun lembut.

Ketika kembali ke hadapan Raizen, ia mendapati senyum tipis di wajah pria itu.

Fiona terdiam sesaat.

Kemudian, senyumnya semakin lebar.

Mereka kembali menari.

Kali ini, Fiona sengaja memperlambat langkahnya, membiarkan jarak di antara mereka semakin dekat. Jemarinya menggenggam tangan Raizen sedikit lebih erat, sementara tangan pria itu tetap bertumpu lembut di pinggangnya.

Sesekali, Fiona mengangkat wajah.

Dan setiap kali itu pula, ia mendapati Raizen sedang memperhatikannya.

Ia berpura-pura tidak menyadarinya.

Raizen pun tidak mengatakan apa-apa.

Namun, setiap kali Fiona berputar dan kembali ke pelukannya, senyum pria itu semakin sulit disembunyikan.

Tawa Fiona memenuhi taman yang biasanya sunyi.

Raizen hanya menikmati suara itu.

Untuk sementara, ia melupakan Pure Light, kekuatannya, dan alasan awal mengapa ia membawa Fiona ke Shadowcresent.

Malam itu, perhatiannya hanya tertuju pada perempuan di hadapannya.

---

Setelah beberapa saat, Fiona mulai kelelahan.

Ia tertawa kecil sambil mencoba mengatur napas.

Raizen segera memperlambat langkah mereka.

Namun, ketika Fiona hendak mundur, kakinya kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya terhuyung ke depan.

Raizen langsung menangkapnya.

Satu tangannya menahan pinggang Fiona, sementara tangan lainnya menjaga agar ia tidak terjatuh.

Fiona mengangkat wajah.

Tawa kecilnya perlahan menghilang.

Mereka terlalu dekat.

Sangat dekat.

Tatapan crimson Fiona bertemu dengan mata Raizen.

Tidak ada candaan kali ini.

Raizen menunduk sedikit, tetapi tidak segera mendekat.

Ia menunggu.

Fiona tidak menjauh.

Sebaliknya, jemarinya yang semula mencengkeram pakaian Raizen perlahan mengendur, lalu kembali menggenggamnya dengan lembut.

Tatapannya turun sesaat ke bibir pria itu.

Raizen menyadarinya.

Senyum tipis menyentuh sudut bibirnya.

Fiona segera mengangkat pandangan, hanya untuk mendapati bahwa Raizen masih menatapnya.

Pipinya mulai memerah.

Namun, kali ini ia tidak menyembunyikan wajahnya.

Ia justru mendekat sedikit.

Raizen membalas gerakan itu dengan perlahan.

Bibir mereka akhirnya bertemu.

Di bawah bulan crimson.

---

Ciuman itu berlangsung singkat.

Lembut.

Hampir ragu-ragu.

Ketika mereka berpisah, Fiona langsung menundukkan wajah. Jemarinya mencengkeram bagian depan pakaian Raizen, sementara pipinya memerah hingga ke telinga.

Raizen tidak menggodanya dengan kata-kata.

Ia hanya memperhatikannya.

Lalu, dengan gerakan perlahan, ia menyelipkan sehelai rambut Fiona ke belakang telinganya.

Fiona semakin menunduk.

Raizen tersenyum.

Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi Fiona dengan punggung jemarinya, kemudian membiarkan tangannya turun kembali.

Saat Fiona akhirnya memberanikan diri mengangkat wajah, ia mendapati Raizen masih tersenyum seperti seseorang yang baru saja memperoleh sesuatu yang sangat berharga.

Fiona menyipitkan mata.

Ia tahu senyum itu.

Senyum yang seolah menyimpan sebuah rahasia.

Fiona mencubit pelan pakaian Raizen sebagai peringatan.

Raizen mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi polos yang sama sekali tidak meyakinkan.

Fiona memalingkan wajah, berusaha menahan senyum.

Namun, ketika ia hendak melepaskan diri dari pelukan pria itu, Raizen sedikit melonggarkan tangannya—cukup untuk memberinya kebebasan, tetapi tetap membiarkan telapak tangannya terbuka di dekat pinggang Fiona.

Ia tidak menariknya kembali.

Hanya menunggu.

Fiona melirik tangan itu.

Kemudian menatap wajah Raizen.

Setelah beberapa saat, ia sendiri yang kembali mendekat dan menyandarkan dahinya sebentar di dada pria itu.

Senyum Raizen semakin nyata.

Ia mengangkat tangan dan mengusap lembut rambut Fiona.

Tidak ada satu kata pun yang terucap.

Namun, kali ini, Fiona tidak berusaha menyembunyikan senyumnya.

---

Malam semakin larut.

Raizen akhirnya membungkuk dan mengangkat Fiona ke dalam pelukannya.

Mata Fiona membelalak.

Ia spontan melingkarkan tangan di leher pria itu agar tidak terjatuh.

Raizen menatapnya dengan tenang.

Fiona mengerutkan hidung, lalu memukul pelan dadanya.

Raizen hanya tersenyum.

Ia tidak menurunkannya.

Sebaliknya, ia menyesuaikan posisi Fiona dalam pelukannya agar lebih nyaman, kemudian mulai berjalan meninggalkan taman.

Fiona awalnya masih memasang wajah kesal.

Namun, beberapa langkah kemudian, ia menyandarkan kepala di dada Raizen.

Jemarinya mencengkeram pakaian pria itu dengan lembut.

Raizen menunduk sekilas.

Fiona mengangkat wajah tepat ketika ia sedang menatapnya.

Keduanya terdiam.

Lalu Fiona segera menyembunyikan wajahnya di dada Raizen.

Bahu Raizen bergerak sedikit menahan tawa.

Ia tidak menggodanya lebih jauh.

Hanya mempererat pelukannya dengan lembut dan melanjutkan langkah.

---

Dari kejauhan, Mufasa berdiri di salah satu sisi taman.

Ia telah melihat semuanya.

Tarian mereka.

Tawa Fiona.

Cara Raizen menangkapnya ketika hampir terjatuh.

Dan ciuman di bawah bulan crimson.

Mufasa memejamkan mata sesaat, lalu menghela napas panjang.

Ketika melihat Tuannya menggendong Fiona meninggalkan taman, ia hanya bisa menggeleng kecil.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Selama ribuan tahun, ia telah menyaksikan Raizen melewati berbagai peperangan, kehilangan, dan kesunyian.

Namun, malam itu, sang Raja tampak berbeda.

Langkahnya lebih ringan.

Tatapannya lebih lembut.

Dan senyum yang terukir di wajahnya bukanlah senyum seorang penguasa yang baru saja memenangkan peperangan.

Melainkan senyum seorang pria yang baru saja menemukan kebahagiaan sederhana.

Mufasa menundukkan kepala dengan hormat, lalu mengikuti dari kejauhan tanpa mengganggu mereka.

Bulan crimson tetap menggantung di atas Shadowcresent.

Untuk malam itu, tidak ada perang.

Tidak ada kerajaan lain.

Tidak ada tuntutan masa lalu.

Hanya dua orang yang perlahan menemukan tempat bagi satu sama lain.

Dan sebuah ciuman yang tak membutuhkan kata-kata untuk dikenang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience