122. Kembali Ke Rumah

Romance Series 382

BAB 122
KEMBALI KE RUMAH

Malam telah semakin larut ketika Darrien dan Fiona akhirnya kembali ke kediaman Rowan.

Fiona masih membawa beberapa makanan dari pasar malam.

Darrien membawa sisanya.

Begitu mereka membuka pintu—

suasana di dalam rumah terasa jauh lebih sunyi daripada yang mereka bayangkan.

Fiona mengintip ke dalam.

“Semua sudah tidur?”

“Sepertinya.”

Darrien melangkah masuk.

Namun baru beberapa langkah—

suara Elarion terdengar dari ruang penelitian.

“Kalian akhirnya pulang.”

Fiona langsung tersenyum.

“Kau belum tidur?”

“Belum.”

Darrien melihat ke arah ruang penelitian.

“Kenapa?”

Elarion mengangkat sebuah buku.

“Karena ada banyak hal yang harus dipikirkan.”

Fiona mendekat.

“Apa yang terjadi?”

Elarion menatap mereka.

“Kevin dan Ace sudah kembali.”

“Dan Rowan?”

“Masih di istana.”

Darrien mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Elarion tidak langsung menjawab.

Ia kemudian melihat makanan yang dibawa Fiona.

“Kalian pergi ke mana?”

“Danau.”

“Lalu?”

“Pasar malam.”

Elarion menghela napas.

“Tentu saja.”

Fiona tertawa.

“Veyra sangat menyenangkan.”

“Aku tahu.”

Elarion menunjuk meja.

“Letakkan makanan kalian.”

Fiona menurut.

Darrien kemudian melihat Kevin dan Ace yang ternyata sedang duduk di sisi lain ruangan.

“Kalian sudah kembali?”

Kevin mengangguk.

“Beberapa waktu lalu.”

Ace tersenyum.

“Dan kami membawa sesuatu.”

Darrien langsung memperhatikan mereka.

“Apa?”

Kevin menunjuk sebuah dokumen.

“Petunjuk baru.”

Fiona ikut mendekat.

“Petunjuk tentang segel?”

Kevin mengangguk.

“Dan mungkin tentang masa lalu Darrien.”

Darrien terdiam.

Elarion kemudian menyerahkan dokumen itu kepada Kevin.

“Jelaskan.”

Kevin membuka salinannya.

“Di arsip kerajaan, kami menemukan laporan tentang malam ketika sang pangeran menghilang.”

Darrien menatapnya.

“Pangeran?”

Ace mengangguk.

“Catatan tersebut mengatakan tidak ada pertempuran besar.”

“Tidak ada kerusakan.”

“Tidak ada saksi.”

“Namun ada sisa energi sihir di sekitar tempat tidurnya.”

Darrien mengerutkan kening.

“Energi apa?”

Kevin menjawab,

“Tidak diketahui.”

Elarion langsung mengambil dokumen itu.

“Lanjutkan.”

Kevin menunjuk bagian tertentu.

“Bagian ini yang menarik.”

Ia membaca,

“Energi asli sang pangeran kemungkinan telah ditekan.”

Elarion berhenti membaca.

Darrien menatapnya.

“Ditekan?”

Kevin mengangguk.

“Catatan lain menyebut kemungkinan adanya sihir penyamaran atau penyegelan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Fiona menatap Darrien.

Darrien sendiri tidak mengatakan apa-apa.

Elarion membaca bagian tersebut sekali lagi.

Kemudian ia menatap wajah Darrien.

“Ini bisa menjelaskan kenapa segelmu begitu sulit dibaca.”

Darrien menghela napas.

“Kalau memang aku pangeran yang hilang.”

“Benar.”

Elarion tidak membantah.

“Kita masih membutuhkan bukti.”

Ace menyandarkan tubuhnya.

“Karena itu Rowan masih berada di istana.”

Darrien menatap Kevin.

“Dia membawa ini kepada Raja?”

“Ya.”

Darrien terdiam.

Untuk sesaat—

ia membayangkan Raja Edward dan Ratu Gloria membaca catatan tentang anak yang telah mereka kehilangan bertahun-tahun lalu.

Fiona perlahan menggenggam tangannya.

Darrien membalas genggaman itu.

Elarion melihat mereka.

Kemudian menghela napas.

“Besok kita bandingkan catatan ini dengan struktur segelmu.”

Ace langsung tertawa.

“Percobaan ketiga belas?”

Elarion menatapnya tajam.

“Jangan menghitung.”

Kevin tertawa.

“Kami sudah menghitung.”

Fiona ikut tertawa.

Darrien menggeleng.

“Kalian terlalu menikmati penderitaanku.”

Elarion mengangkat alis.

“Kalau begitu besok kau boleh menjadi peneliti.”

Darrien langsung terdiam.

“Tidak.”

Fiona tertawa.

***

Beberapa saat kemudian—

Rowan akhirnya kembali.

Ia masuk ke ruangan dengan wajah serius.

Kevin langsung berdiri.

“Bagaimana?”

Rowan mengangguk.

“Yang Mulia sudah mengetahui petunjuk itu.”

Darrien menatapnya.

“Dan?”

“Raja meminta kami mencari lebih banyak.”

Elarion mengangguk.

“Itu keputusan yang tepat.”

Rowan meletakkan beberapa salinan tambahan di atas meja.

“Ada kemungkinan masih ada catatan lain.”

Kevin melihat tumpukan itu.

“Berarti besok kita kembali.”

Rowan mengangguk.

“Ya.”

Fiona melihat mereka semua.

“Kalian belum tidur?”

Ace menggeleng.

“Belum.”

Fiona menunjuk makanan di meja.

“Kalau begitu makan dulu.”

Ace melihat kantong makanan.

“Dari mana?”

“Pasar malam.”

Ace langsung mengambil satu.

“Bagus.”

Elarion menghela napas.

“Setidaknya kalian membawa makanan.”

Darrien tersenyum.

“Kami juga membawa cerita.”

Kevin tertawa.

“Yang lebih penting?”

Fiona mengangguk.

“Danau Veyra.”

Rowan tersenyum tipis.

“Kalian bersenang-senang.”

“Ya.”

Darrien menatap Fiona.

“Lumayan.”

Fiona tersenyum.

Untuk malam itu—

meskipun banyak pertanyaan masih belum terjawab,

setidaknya mereka kembali berkumpul di satu tempat.

Penelitian.

Catatan kuno.

Petunjuk tentang sang pangeran.

Dan sedikit makanan dari pasar malam.

Semuanya memenuhi meja yang sama.

Besok—

mereka akan kembali mencari jawaban.

Namun malam ini—

mereka akhirnya bisa beristirahat.

***

Jauh dari kediaman Rowan—

di atas sebuah bangunan yang menghadap ke jalan utama Veyra, Elyon berdiri dalam diam.

Angin malam menggerakkan ujung jubahnya.

Ia tidak mendekati kediaman itu.

Tidak perlu.

Elyon menutup matanya.

Perlahan, indranya meluas.

Ia dapat merasakan berbagai energi di sekitar Veyra.

Energi manusia.

Elf.

Beastfolk.

Penyihir.

Semuanya bercampur menjadi satu aliran yang ramai.

Namun di antara semuanya—

ada satu energi yang menarik perhatiannya.

Sangat samar.

Hampir tidak terasa.

Elyon membuka matanya.

“Fiona…”

Ia tidak bisa membaca seluruh energinya.

Gadis itu masih terlihat seperti manusia biasa.

Namun ketika indranya menyentuh keberadaan daun perak tersebut—

ada perubahan kecil.

Seperti gema.

Sebuah resonansi yang tidak seharusnya muncul.

Elyon menyipitkan mata.

“Benar-benar aneh.”

Ia tidak mendekat.

Tidak mencoba menyentuhnya.

Hanya mengamati.

Beberapa saat kemudian, ia merasakan sesuatu yang lain.

Energi Darrien.

Lebih berat.

Lebih tertutup.

Berbeda dari Fiona.

Elyon mengerutkan kening.

“Dan pemuda itu…”

Ia menarik kembali indranya.

Dua orang.

Dua energi yang berbeda.

Namun keduanya membawa sesuatu yang belum mampu ia pahami.

Elyon tersenyum tipis.

“Veyra ternyata semakin menarik.”

Ia berbalik.

Malam kembali tenang.

Sementara di dalam kediaman Rowan—

Fiona dan Darrien telah kembali beristirahat.

Tanpa mengetahui bahwa seseorang sedang mengamati dari kejauhan.

Bukan untuk menyerang.

Bukan untuk mengganggu.

Hanya untuk mencari jawaban.

Dan Elyon tahu satu hal pasti—

besok, ia akan mulai mencari lebih dalam.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience