307. Rumah Baru

Romance Series 382

BAB 307 — RUMAH BARU

Di dunia nyata—

Fiona masih belum terbangun.

Namun air mata perlahan mengalir dari sudut matanya.

Satu tetes.

Kemudian satu lagi.

Alisnya masih berkerut, seolah-olah ia sedang berusaha melawan sesuatu di dalam mimpinya.

Tangannya masih menggenggam tangan Darrien dengan erat.

Darrien menatapnya.

“Fiona…”

Ia mengusap rambutnya perlahan.

“Apa yang kau lihat?”

Tidak ada jawaban.

Namun air mata Fiona terus jatuh.

Darrien semakin khawatir.

Ia tidak tahu bahwa jauh di dalam kesadarannya—

Fiona sedang menyaksikan kisah yang telah lama terkubur.

***

Di dalam mimpi—

semuanya telah berubah.

Pertempuran telah berakhir.

Tidak ada lagi pasukan Light Elf.

Tidak ada lagi pasukan Dark Elf.

Tidak ada lagi mereka yang berusaha memisahkan sang Saintess dari Darrien.

Ia masih berada di sana.

Di tengah tempat yang telah menjadi saksi kehancuran.

Namun ia tidak pergi.

Ia mencari.

Satu demi satu—

mereka yang masih mencoba menentangnya telah ia hadapi.

Bukan karena kebencian.

Bukan karena haus kekuasaan.

Tetapi karena pikirannya hanya memiliki satu hal.

Darrien.

Ia tidak ingin siapa pun memisahkan mereka lagi.

Sampai akhirnya—

tidak ada lagi suara.

Tidak ada lagi langkah kaki.

Tidak ada lagi seseorang yang datang untuk menghalangi.

Hanya keheningan.

Sang Saintess berdiri sendirian.

Kemudian ia melihat ke arah danau.

Tempat yang dulu pernah mereka kunjungi bersama.

Ia berjalan ke sana.

***

Di tepi danau—

ia masih memeluk sesuatu.

Sebuah kristal.

Kristal jiwa.

Di dalamnya—

jiwa Darrien masih terikat.

Sang Saintess duduk di tepi air.

Ia menatap kristal tersebut.

Kemudian tersenyum sedih.

“Kau berjanji tidak akan meninggalkanku.”

Tidak ada jawaban.

“Tapi lihat…”

Ia menyentuh permukaan kristal.

“Kau malah tidur.”

Senyumnya semakin sedih.

“Entah kapan kau akan bangun.”

Tetap tidak ada jawaban.

Sang Saintess tertawa kecil.

“Nobody will disagree anymore.”

Ia menatap danau.

“Tidak akan ada lagi yang memisahkan kita.”

Angin berhembus.

Rambutnya bergerak perlahan.

Namun senyumnya tidak bertahan lama.

Ia menunduk.

“Dunia ini terlalu kejam untuk kita.”

Tangannya menggenggam kristal itu lebih erat.

“Kita membutuhkan rumah baru.”

Matanya perlahan tertutup.

“Aku merindukanmu.”

Ia memeluk kristal itu ke dadanya.

Sangat erat.

Seolah-olah dengan begitu—

ia bisa merasakan keberadaan Darrien lagi.

***

Hari berganti.

Hari menjadi minggu.

Minggu menjadi bulan.

Dan bulan—

menjadi tahun.

Sang Saintess terus berjalan.

Ia membawa kristal jiwa itu bersamanya.

Tidak pernah meninggalkannya.

Dunia berubah.

Kerajaan berubah.

Generasi berubah.

Bahkan wajah-wajah yang pernah dikenalnya mulai menghilang satu demi satu.

Namun ia tetap berjalan.

Mencari.

Menunggu.

Sampai suatu hari—

ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.

Light Elf dan Dark Elf—

tidak lagi saling memburu.

Mereka mulai berbicara.

Berdagang.

Bekerja sama.

Bahkan membangun kota bersama.

Sang Saintess berdiri jauh dari mereka.

Menatap perubahan itu.

“Jadi…”

Ia tersenyum kecil.

“Dunia akhirnya berubah.”

Dulu—

Light Elf dan Dark Elf adalah musuh.

Sekarang—

mereka berdiri berdampingan.

Kerajaan mereka berkembang.

Perdagangan meningkat.

Ilmu sihir berkembang.

Dan perlahan—

dunia menjadi tempat yang lebih damai.

Sang Saintess menunduk melihat kristal di tangannya.

“Kalau dunia bisa berubah…”

Ia tersenyum.

“…mungkin kita juga bisa.”

Ia kembali berjalan.

Namun kali ini—

tujuannya berbeda.

Ia mulai mencari sesuatu.

**Sebuah tubuh.**

Sebuah tempat yang dapat menjadi wadah bagi jiwa Darrien.

Bukan tubuh lama.

Bukan tubuh yang telah mati.

Tetapi—

sebuah kehidupan baru.

***

Bertahun-tahun berlalu.

Kemudian—

ia menemukan sesuatu.

Dua dark elf.

Seorang pria dengan kemampuan sihir yang luar biasa.

King Edward.

Dan istrinya—

Queen Gloria.

Sang Saintess mengamati mereka dari kejauhan.

Namun ada sesuatu yang membuat perhatiannya tertuju kepada sang Ratu.

Gloria sedang mengandung.

Sang Saintess terdiam.

Matanya perlahan berpindah kepada kristal jiwa di tangannya.

Kemudian kembali kepada Gloria.

Sebuah pemikiran muncul.

*Wadah baru.*

Ia tahu apa yang harus dilakukan.

Namun ia juga tahu—

apa yang hendak dilakukannya sekali lagi merupakan sesuatu yang dilarang.

Forbidden Magic.

***

Malam tiba.

Istana kerajaan menjadi sunyi.

King Edward telah tertidur.

Queen Gloria juga tertidur di tempat tidurnya.

Tangannya berada di atas perutnya yang mulai membesar.

Sang Saintess berdiri di luar jendela.

Tidak ada suara.

Tidak ada penjaga yang menyadarinya.

Ia menatap pasangan itu.

Kemudian menatap kristal jiwa Darrien.

“Aku menemukan rumahmu.”

Ia menarik napas.

“Maafkan aku.”

Kristal tersebut perlahan terangkat.

Energi kuno mulai mengelilinginya.

Lingkaran sihir terbentuk.

Namun berbeda dari Forbidden Magic sebelumnya—

kali ini ia tidak mencoba mengikat jiwa di dalam kristal.

Ia hendak **memindahkannya.**

Sang Saintess mengangkat tangannya.

“Tidurlah untuk sementara.”

Cahaya dan kegelapan bercampur.

Kristal jiwa mulai retak.

**KRAK…**

Sang Saintess menahan napas.

“Dan lahirlah kembali…”

Cahaya dari jiwa Darrien perlahan keluar.

Bergerak menuju ruangan.

Menuju Queen Gloria.

Menuju kehidupan kecil yang masih berada di dalam kandungannya.

Sang Saintess memejamkan mata.

Forbidden Magic kedua dimulai.

Dan pada malam itu—

tanpa seorang pun di istana mengetahui apa yang sedang terjadi,

jiwa Darrien perlahan memasuki kehidupan baru.

Sebuah kehidupan dark elf.

Sebuah tubuh baru.

Sebuah keluarga baru.

Dan sebuah takdir—

yang tidak pernah direncanakan oleh siapa pun.

***

Di dunia nyata—

air mata Fiona masih mengalir.

Darrien masih menggenggam tangannya.

Ia menatap wajah Fiona dengan semakin khawatir.

“Fiona…”

Namun Fiona belum bangun.

Dan jauh di Crystal Hall—

cahaya kembali berdenyut.

**…tik.**

Kali ini—

lebih kuat dari sebelumnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience