297. Satu Serangan

Romance Series 382

BAB 297 — SATU SERANGAN

Penghalang di sekitar Fiona masih berdiri.

Cahaya transparan itu berdenyut lembut, membentuk lapisan perlindungan yang mengelilinginya.

Elyon berdiri tidak jauh dari sana.

Matanya tidak pernah benar-benar lepas dari medan perang.

Ia memperhatikan semuanya.

Setiap gerakan.

Setiap perubahan aura.

Setiap vampire yang mencoba mendekat.

Dan beberapa kali—

mereka memang mencoba.

Satu vampire menerjang ke arah penghalang.

Elyon langsung bergerak.

BOOM!

Serangannya menghantam vampire tersebut sebelum mencapai batas penghalang.

Vampire itu terlempar.

Elyon kembali ke posisinya.

Tidak sampai tiga detik kemudian—

dua vampire lain mencoba dari sisi berbeda.

Elyon sudah berada di sana.

CLANG!

Serangan kembali ditahan.

“Tidak.”

Vampire tersebut mendesis.

Elyon menghempaskannya menjauh.

Ia kemudian menoleh sekilas kepada Fiona.

“Teruskan.”

Fiona mengangguk.

Cahaya masih mengalir dari tubuhnya.

Tidak terputus.

Tidak melemah.

Elyon menghela napas.

*Selama aku tetap waspada, mereka tidak akan bisa menyentuhnya.*

Ia salah.

Bukan karena penghalangnya lemah.

Bukan karena dirinya tidak cukup kuat.

Tetapi karena musuh mereka akhirnya berhenti mencoba menghancurkan penghalang itu secara langsung.

***

Di sisi lain—

Giselle masih bertarung dengan Kevin.

CLANG!

Kevin menahan serangannya.

Giselle mundur.

Kevin langsung mengejar.

Serangan berikutnya hampir mengenai bahunya.

Giselle memutar tubuh.

Menghindar.

Kemudian membalas.

Kevin menangkis.

Keduanya kembali berjarak.

Giselle menarik napas.

Matanya bergerak cepat.

Ia melihat ke arah Fiona.

Penghalang masih utuh.

Elyon masih menjaga.

Dan Kevin—

masih terlalu dekat.

Giselle tersenyum tipis.

Kemudian tatapannya bertemu dengan Mufasa.

Hanya sepersekian detik.

Tidak ada kata.

Tidak ada gerakan mencolok.

Namun Mufasa memahami.

*Sekarang.*

Mufasa mengangguk hampir tidak terlihat.

Giselle kembali menghadapi Kevin.

Kemudian—

ia tiba-tiba mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga.

Kevin menyipitkan mata.

Giselle berkata,

“Sepertinya aku tidak bisa melewati pertahananmu.”

Kevin tidak menjawab.

Ia tetap waspada.

Giselle kemudian mengangkat kedua tangannya.

“Aku menyerah untuk saat ini.”

Kevin tetap menatapnya.

“Begitu saja?”

Giselle tersenyum.

“Bukankah lebih baik?”

Ia perlahan mundur.

Kevin tidak mengejar.

Ia justru mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Mufasa yang kini bergerak maju.

Mufasa langsung menyerang.

**BOOM!**

Kevin menahan serangannya.

Giselle semakin jauh.

Tidak ada yang mengejar.

Tidak ada yang memperhatikannya lagi.

Setidaknya—

itulah yang ia inginkan.

***

Malam membantu Giselle.

Bayangan pepohonan.

Kabut.

Gelapnya hutan.

Suara pertempuran yang terus berlangsung.

Semuanya menjadi penutup yang sempurna.

Giselle menghilangkan auranya.

Langkahnya menjadi ringan.

Hampir tidak terdengar.

Ia tidak berjalan lurus menuju Fiona.

Ia memutar.

Melewati pepohonan.

Menyusuri sisi medan.

Kemudian berhenti.

Ia melihat penghalang dari kejauhan.

Elyon masih berada di dekat Fiona.

Elarion juga tidak jauh.

Namun keduanya sedang sibuk dengan lawan masing-masing.

Giselle menunggu.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Kemudian—

ia bergerak lagi.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Tidak ada aura yang dilepaskan.

Tidak ada energi yang mencolok.

Hanya bayangan yang bergerak di antara pepohonan.

***

Fiona masih berkonsentrasi.

Cahaya terus mengalir.

Darrien.

Elarion.

Elyon.

Ace.

Rowan.

Kevin.

Semuanya masih mendapatkan penguatan.

Fiona tidak menyadari sesuatu yang bergerak mendekat.

Elyon sedang menghadapi dua vampire di depannya.

Salah satunya menyerang.

Elyon menghindar.

Kemudian membalas.

Elarion berada beberapa meter di sisi lain.

Ia juga sedang menghadapi lawannya.

Untuk pertama kalinya—

jarak antara mereka dan Fiona sedikit melebar.

Hanya beberapa meter.

Namun cukup.

Giselle melihat kesempatan itu.

Ia berhenti di balik bayangan sebuah pohon.

Matanya berubah.

Aura vampire yang selama ini ia sembunyikan mulai berkumpul.

Tidak besar.

Tidak meledak.

Justru sebaliknya.

Sangat padat.

Sangat terfokus.

Satu serangan.

Hanya satu.

Ia mengangkat tangannya.

Energi terkumpul pada telapak tangannya.

Fiona masih tidak menyadarinya.

Elyon masih bertarung.

Elarion masih bertarung.

Darrien masih berada jauh di medan utama.

Giselle tersenyum.

“Sekarang.”

Tubuhnya bergerak.

Cepat.

Terlalu cepat.

***

Elyon tiba-tiba merasakan sesuatu.

Matanya melebar.

“Fiona!”

Ia menoleh.

Namun—

terlambat.

Giselle sudah berada di hadapan penghalang.

Tangannya terangkat.

Energi vampire yang sangat padat terkumpul dalam satu titik.

Fiona membelalakkan mata.

“Giselle—?!”

**BOOOOOOM!**

Satu serangan.

Hanya satu.

Namun kekuatannya terkonsentrasi penuh pada satu titik.

Penghalang Elyon—

**RETAK.**

KRRRAAAK!

Mata Fiona membesar.

“Tidak…”

Elyon langsung bergerak.

“FIONA!”

Namun jaraknya terlalu jauh.

Beberapa meter.

Hanya beberapa meter.

Tetapi malam itu—

beberapa meter terasa seperti jurang yang tidak mungkin diseberangi.

Elarion juga menoleh.

Matanya membesar.

“Fiona!”

Giselle menerobos celah penghalang.

Dan sebelum Fiona sempat bergerak—

serangan itu telah mencapai tubuhnya.

**SHKK!**

Energi tajam menembus.

Mengenai bagian dadanya.

Tubuh Fiona tersentak.

Matanya membesar.

Cahaya yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya—

bergetar.

Kemudian—

terputus.

Untuk sesaat—

tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada gerakan.

Hanya Fiona yang berdiri kaku.

Giselle berada tepat di hadapannya.

Elyon masih berlari.

Elarion masih bergerak.

Namun semuanya terasa—

terlambat.

***

Jauh di medan lain—

Darrien sedang bertarung dengan Kaguya.

Satu serangan baru saja bertemu.

CLANG!

Namun tiba-tiba—

ia mendengar sesuatu.

Bukan suara serangan.

Bukan suara ledakan.

Sebuah suara yang jauh lebih familiar.

“Fiona!”

Suara Elyon.

Kemudian—

“Fiona!”

Suara Elarion.

Tubuh Darrien berhenti.

Kaguya juga terdiam sesaat.

Mata Darrien perlahan melebar.

“…”

Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai—

ia tidak melihat Kaguya.

Tidak melihat medan.

Tidak melihat apa pun.

Hanya satu nama yang terus bergema di kepalanya.

**Fiona.**

***

Di sisi lain—

Ace menghentikan gerakannya.

Rowan juga menoleh.

Keduanya melihat ke arah sumber suara.

Ace berkedip.

“…Oh.”

Rowan terdiam.

Kemudian—

“Oh.”

Mereka melihat Giselle.

Melihat penghalang yang telah hancur.

Melihat Fiona.

Ace menelan ludah.

“…Vampire itu berhasil.”

Rowan hanya berdiri diam.

Tidak ada yang langsung bergerak.

Karena bahkan mereka—

membutuhkan satu detik untuk memahami apa yang baru saja terjadi.

***

Dan dalam satu detik itu—

seolah waktu berhenti.

Fiona berdiri dengan tubuh kaku.

Giselle masih berada di hadapannya.

Elyon berlari menuju mereka.

Elarion bergerak dari sisi lain.

Darrien—

telah berhenti bertarung.

Kaguya menatapnya.

Mufasa menahan Kevin.

Ace dan Rowan terdiam.

Semua mata perlahan tertuju pada satu titik.

Fiona.

Cahaya yang sebelumnya menyelimuti seluruh medan—

telah menghilang.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai—

**Fiona tidak lagi memberikan penguatan kepada siapa pun.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience