411. Lima Ribu Tahun Dan Sarapan

Romance Completed 594

BAB 411 — LIMA RIBU TAHUN DAN SARAPAN

LUNARIS.

Royal Library kembali dipenuhi keheningan.

Namun keheningan itu tidak sepenuhnya tenang.

Tumpukan buku tua masih memenuhi meja.

Gulungan kuno terbuka di beberapa tempat.

Beberapa dokumen bahkan telah dipindahkan dari rak paling tinggi.

Elyon berdiri di salah satu meja.

Elarion membaca sebuah buku tua.

Rowan sedang memeriksa beberapa catatan sejarah.

Dan Ace—

duduk sambil menatap sebuah buku yang terbuka di depannya.

Sudah cukup lama.

Terlalu lama.

Ace akhirnya menghela napas.

“Lima ribu tahun.”

Tidak ada yang menjawab.

Ace melihat ke kiri.

Kemudian ke kanan.

“Lima.”

Ia mengangkat lima jarinya.

“Ribu.”

Kemudian menunjuk buku di depannya.

“Tahun.”

Rowan tidak mengangkat wajah.

“Kami tahu.”

Ace menggeleng.

“Tidak. Kalian belum memahami betapa gilanya ini.”

Elarion tetap membaca.

“Apa yang gila?”

Ace berdiri.

“Kita punya simbol yang sudah berusia lebih dari lima ribu tahun.”

Ia menunjuk halaman tersebut.

“Dan apa yang kita tahu?”

Tidak ada jawaban.

Ace mengangkat satu jari.

“Simbol.”

Ia mengangkat jari kedua.

“Bulan sabit.”

Ia mengangkat jari ketiga.

“Dan…”

Ace melihat halaman itu.

“…tidak ada apa-apa lagi.”

Rowan akhirnya mengangkat wajah.

“Karena itu sebabnya kita masih mencari.”

Ace mengangguk.

“Benar.”

Ia duduk kembali.

Kemudian menatap buku itu.

“Lima ribu tahun…”

Ia menggeleng.

“Bahkan nenek moyangku mungkin belum lahir ketika simbol ini sudah digunakan.”

Elyon tersenyum tipis.

“Itu kemungkinan besar benar.”

Ace terdiam.

Kemudian wajahnya berubah seperti baru mendapatkan sebuah ide.

“Tunggu.”

Rowan langsung mengerutkan kening.

“Jangan.”

“Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Aku sudah tahu wajah itu.”

Ace tertawa.

“Kalau vampire memang sudah hidup selama ribuan tahun…”

Ia menatap simbol tersebut.

“…mungkin mereka benar-benar tidak membutuhkan buku sejarah.”

Elarion menutup bukunya perlahan.

“Maksudmu?”

Ace mengangkat bahu.

“Mereka sendiri adalah sejarah.”

Hening.

Elyon menatapnya.

Kemudian mengangguk kecil.

“Itu sebenarnya masuk akal.”

Ace tersenyum bangga.

“Akhirnya ada yang mengakui kecerdasanku.”

Rowan menghela napas.

“Jangan terlalu bangga.”

Ace kembali melihat buku.

“Kalau begitu…”

Ia berpikir.

“…berapa banyak yang mereka ingat?”

Elarion menjawab,

“Vampire yang telah hidup ribuan tahun mungkin menyimpan ingatan tentang zaman yang bahkan tidak tercatat.”

Ace terdiam.

Kemudian—

“Termasuk…”

Ia berhenti.

Tatapannya berubah sedikit.

“Fiona.”

Ruangan menjadi lebih tenang.

Ace menatap buku.

“Dia…”

Ia menggaruk kepalanya.

“Kalau benar Fiona adalah Saintess yang pernah hidup dua ribu lima ratus tahun lalu…”

Rowan mulai memahami arah pembicaraannya.

Ace melanjutkan,

“…berarti dia sudah menunggu Darrien selama dua ribu lima ratus tahun?”

Elarion tidak menjawab.

Elyon hanya menatap Ace.

Ace menghela napas.

“Dua ribu lima ratus tahun.”

Ia bersandar di kursinya.

“Sendirian.”

“Menunggu orang yang sama.”

“Dan kita di sini mengeluh karena membaca buku selama beberapa jam.”

Rowan menatapnya.

“Itu bukan perbandingan yang tepat.”

“Aku tahu.”

Ace tersenyum kecil.

“Tapi tetap saja…”

Ia menatap simbol bulan sabit.

“Dua ribu lima ratus tahun itu terlalu lama.”

Untuk beberapa saat—

tidak ada yang bercanda.

Karena di balik semua lelucon Ace—

ada sesuatu yang benar-benar berat.

Kesepian.

Penantian.

Dan cinta yang bertahan melewati waktu yang bahkan sulit dibayangkan.

Elyon akhirnya berkata,

“Mungkin itulah sebabnya hubungan Fiona dan Darrien terasa berbeda.”

Ace menoleh.

“Berbeda?”

“Seolah mereka tidak perlu memulai dari awal.”

Ace terdiam.

Kemudian mengangguk perlahan.

“Ya…”

Ia menatap buku itu.

“Seperti mereka hanya melanjutkan sesuatu yang sudah dimulai.”

***

SHADOWCRESENT.

Pagi kembali tiba.

Fiona duduk di meja makan.

Di hadapannya—

sarapan kembali tersedia.

Roti.

Buah.

Teh hangat.

Dan beberapa makanan khas Shadowcresent.

Fiona menatap semuanya.

Kemudian—

menatap Raizen.

Raizen duduk di sisi lain meja.

Tenang.

Seolah sarapan bersama seseorang yang diculiknya adalah hal yang sepenuhnya normal.

Fiona menghela napas.

“Raizen.”

“Ya.”

“Lepaskan aku.”

“Tidak.”

Fiona bahkan belum selesai berbicara.

Ia mengerutkan kening.

“Kau bahkan tidak berpikir.”

“Tidak perlu.”

Fiona menatapnya tajam.

“Aku ingin pulang.”

“Aku tahu.”

“Darrien sedang menungguku.”

“Aku tahu.”

“Kerajaan Veyth sedang mencariku.”

“Aku tahu.”

Fiona meletakkan kedua tangannya di meja.

“Lalu kenapa kau tidak membiarkanku pergi?”

Raizen mengambil cangkir tehnya.

“Karena aku belum selesai.”

Fiona mengerutkan kening.

“Selesai apa?”

Raizen menatapnya.

“Mempelajarimu.”

Fiona terdiam.

“Kau bisa mempelajari magicure-ku tanpa menahanku di sini.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku belum tahu batasnya.”

Fiona mendengus.

“Aku juga tidak tahu.”

Raizen mengangkat alis.

“Kau tidak tahu kekuatanmu sendiri?”

Fiona mengangkat bahu.

“Tidak sepenuhnya.”

Raizen terdiam.

Jawaban itu ternyata menarik perhatiannya.

Fiona kemudian mengambil roti.

“Dan satu lagi.”

Raizen menatapnya.

“Jangan pikir aku akan berubah pikiran.”

“Terhadap?”

“Menjadi ratumu.”

Raizen menyeruput tehnya.

“Aku tahu.”

Fiona menggigit rotinya.

“Bagus.”

***

Beberapa detik berlalu.

Fiona makan dengan tenang.

Namun sesekali—

ia masih melirik Raizen.

Raizen melakukan hal yang sama.

Fiona akhirnya tidak tahan.

“Kenapa kau terus melihatku?”

“Tidak ada.”

“Jelas ada.”

Raizen diam.

Fiona menyipitkan mata.

“Apa kau sedang mencari sesuatu dari wajahku?”

Raizen menjawab tenang,

“Tidak.”

“Lalu?”

“Magicure-mu.”

Fiona mendengus.

“Magicure-ku bahkan tidak bisa keluar karena kau menyegelnya.”

Raizen mengangguk.

“Benar.”

Fiona menatapnya.

“Jadi berhenti melihat.”

Raizen tidak menjawab.

Fiona kembali makan.

Namun beberapa saat kemudian—

ia tiba-tiba berhenti.

“Raizen.”

“Ya?”

“Kalau aku meminta sesuatu…”

“Tidak.”

Fiona membeku.

“Aku belum mengatakan apa yang kuminta.”

“Aku tahu.”

Fiona menatapnya tidak percaya.

“Kau menyebalkan.”

Raizen hanya meminum tehnya.

***

Pintu aula terbuka.

Mufasa masuk.

Ia membawa beberapa piring tambahan.

Begitu melihat suasana meja makan—

ia berhenti sejenak.

Fiona sedang menatap Raizen.

Raizen sedang menatap Fiona.

Mufasa menatap keduanya.

Kemudian menatap makanan di tangannya.

“…”

*Sepertinya aku datang pada waktu yang salah.*

Ia tetap berjalan.

Meletakkan piring tambahan.

Fiona menoleh.

“Mufasa.”

“Ya?”

“Bisakah kau memberitahuku jalan keluar?”

Mufasa membeku.

Raizen menatapnya.

Mufasa menelan ludah.

“…Saya rasa Yang Mulia tidak akan menyetujuinya.”

Fiona menunjuk Raizen.

“Itu sebabnya aku bertanya padamu.”

Mufasa diam.

Raizen tetap menatapnya.

Mufasa menundukkan kepala.

“Maaf.”

Fiona menghela napas.

“Ya…”

Ia mengambil buah.

“Sudah kuduga.”

Mufasa segera mundur.

“Kalau begitu saya pergi.”

Fiona mengangguk.

“Pergilah.”

Mufasa berbalik.

Namun sebelum mencapai pintu—

ia mendengar suara Fiona.

“Dan Mufasa.”

Mufasa berhenti.

“Ya?”

“Terima kasih untuk makanannya.”

Mufasa menoleh.

Kemudian tersenyum kecil.

“Sama-sama.”

Ia pergi.

***

Raizen kembali menatap Fiona.

Fiona sedang makan buah.

Ia terlihat jauh lebih tenang daripada kemarin.

Namun kedua segel hitam masih berada di pergelangan tangannya.

Raizen memperhatikannya.

Kemudian berkata,

“Fiona.”

Fiona menoleh.

“Ya?”

“Jika aku melepaskan segelmu…”

Mata Fiona langsung berbinar.

“Benarkah?”

Raizen diam beberapa detik.

“…Tidak.”

Fiona langsung membeku.

“…”

Raizen mengambil cangkirnya.

Fiona menatapnya dengan wajah tidak percaya.

“Kenapa kau mengatakan itu kalau akhirnya tidak?”

Raizen menjawab tenang.

“Aku hanya ingin melihat reaksimu.”

Fiona menatapnya.

“…”

Kemudian—

“WEIRD VAMPIRE.”

Raizen tidak menjawab.

Namun untuk sesaat—

sudut bibirnya bergerak sedikit.

Fiona langsung menunjuknya.

“Jangan senyum!”

Raizen kembali memasang wajah tenang.

“Tidak.”

Fiona mendengus.

Ia kembali memakan sarapannya.

Namun kali ini—

Raizen benar-benar tersenyum tipis.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Dan Fiona tidak menyadarinya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience