43. Pelajaran Pertama Dari Kevin

Romance Series 94

BAB 43
PELAJARAN PERTAMA DARI KEVIN

Keesokan paginya, Darrien bangun lebih awal dari biasanya.

Ia keluar rumah dan menemukan Kevin sudah berdiri di halaman.

Tidak ada senyum.

Tidak ada sapaan.

Hanya sebuah kristal kecil yang melayang di atas telapak tangannya.

“Datang terlambat tiga menit.”

Darrien melihat matahari.

“Bukankah ini masih pagi?”

“Bagi penyihir yang serius, tiga menit adalah tiga menit.”

Darrien menghela napas.

“Baiklah.”

Kevin menunjuk tanah.

“Berdiri di sana.”

Darrien menurut.

Fiona muncul dari pintu sambil menguap.

“Pagi…”

Kevin menoleh.

“Kau boleh mengamati.”

Fiona duduk di bawah pohon.

“Semoga berhasil.”

Darrien meliriknya.

Fiona tersenyum.

Darrien kembali menghadap Kevin.

“Apa pelajaran pertamanya?”

Kevin mengangkat satu jari.

“Kontrol.”

Darrien mengerutkan kening.

“Aku sudah belajar mengendalikan sihir.”

“Belum.”

Kevin meletakkan kristal di udara.

“Ciptakan es.”

Darrien mengangkat tangannya.

Hawa dingin muncul.

Es mulai terbentuk.

“Berhenti.”

Darrien menghentikan sihir.

Kevin menggeleng.

“Lambat.”

“Apa?”

“Sekali lagi.”

Darrien mencoba.

Es terbentuk lebih cepat.

“Berhenti.”

Kevin menggeleng lagi.

“Masih terlalu banyak energi.”

Darrien mulai kesal.

“Kalau begitu, bagaimana caranya?”

Kevin menunjuk kristal.

“Bekukan kristal itu.”

Darrien mengarahkan sihirnya.

Es mulai menyelimuti kristal.

Namun beberapa detik kemudian—

**Krek!**

Kristal retak.

Darrien terdiam.

Kevin mengambilnya.

“Gagal.”

Darrien mengepalkan tangan.

“Kenapa?”

“Karena kau menggunakan kekuatan untuk mengalahkan benda itu.”

Kevin menatapnya.

“Bukan untuk mengendalikannya.”

Darrien mengerutkan kening.

“Bukankah hasilnya sama?”

“Tidak.”

Kevin meletakkan kristal lain.

“Pikirkan air.”

Darrien menatapnya.

“Air?”

“Es hanyalah air yang kehilangan panas.”

Darrien terdiam.

“Jangan paksa sihirmu.”

Kevin menunjuk dadanya.

“Biarkan sihirmu memahami apa yang kau inginkan.”

Darrien mencoba lagi.

Kali ini ia menarik napas perlahan.

Hawa dingin keluar dari tubuhnya.

Tidak meledak.

Tidak menyebar.

Hanya bergerak perlahan menuju kristal.

Lapisan tipis es terbentuk.

Tidak ada retakan.

Kevin mengangguk.

“Lebih baik.”

Darrien tersenyum.

“Berhasil.”

“Belum.”

Senyumnya hilang.

Kevin menunjuk kristal kedua.

“Sekarang lakukan tanpa tangan.”

Darrien terdiam.

“Tanpa tangan?”

“Ya.”

Darrien mencoba.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba lagi.

Tetap gagal.

Fiona mulai tertawa kecil.

Darrien menoleh.

“Jangan tertawa.”

“Aku tidak tertawa.”

“Kau jelas tertawa.”

Fiona menutup mulut.

Kevin tetap serius.

“Fokus.”

Darrien kembali mencoba.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Tidak ada hasil.

Kemudian—

**Krek.**

Kristal mulai membeku.

Darrien membuka mata.

Es tipis menyelimuti permukaannya.

Fiona langsung berdiri.

“Berhasil!”

Darrien tersenyum.

Kevin mengambil kristal itu.

“Cukup.”

Darrien menghela napas lega.

“Jadi aku lulus?”

“Tidak.”

Darrien menatapnya.

“…”

Kevin menyerahkan kristal baru.

“Sekarang ulangi.”

Darrien hampir menjatuhkan kristal itu.

“Lagi?”

“Sepuluh kali.”

“Sepuluh?!”

“Jika kau gagal, ulangi dari awal.”

Darrien menatap Kevin dengan wajah tidak percaya.

Fiona berbisik,

“Semangat.”

Darrien menatapnya.

Kemudian ia menghela napas.

“Baik.”

Kevin berbalik.

Namun sebelum pergi, ia berkata,

“Darrien.”

“Hm?”

“Jika kau ingin melindungi seseorang…”

Darrien terdiam.

Kevin menatapnya serius.

“Jangan mengandalkan kekuatan besar.”

“Belajarlah mengendalikan kekuatan kecil.”

Darrien mengangguk.

Ia kembali berdiri di tengah halaman.

Fiona duduk di bawah pohon.

Dan latihan pun dimulai lagi.

Tidak ada yang menyadari bahwa di balik pepohonan, Ace sedang mengawasi.

Ia melihat Darrien gagal.

Berhasil.

Gagal lagi.

Namun tetap berdiri.

Ace tersenyum kecil.

“Bagus, Yang Mulia.”

Ia kemudian kembali menghilang ke dalam hutan.

Sementara di halaman—

Kevin berkata,

“Kesebelas.”

Darrien menatapnya.

“Bukankah tadi sepuluh?”

Kevin menjawab tenang.

“Yang pertama tidak dihitung.”

Darrien:

“…”

Fiona tertawa.

Dan untuk pertama kalinya sejak Kevin datang…

Darrien mulai memahami bahwa guru barunya mungkin jauh lebih menyebalkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience