331. Terlalu Banyak Pertanyaan

Romance Series 382

BAB 331 — TERLALU BANYAK PERTANYAAN

Crystal Hall masih sunyi.

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Cermin kecil yang tadi memperlihatkan seluruh sejarah itu telah menghilang.

Dan sosok Fiona—

juga sudah tidak ada.

Sekali lagi.

Ace adalah orang pertama yang akhirnya bersuara.

“…Dia pergi.”

Rowan menatap tempat Fiona sebelumnya berdiri.

“Ya.”

Kevin mengangguk.

“Lagi.”

Ace menghela napas panjang.

“Kenapa dia selalu melakukan itu?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena semua orang masih berusaha mencerna apa yang baru saja mereka lihat.

***

Edward berdiri perlahan.

Wajahnya masih dipenuhi keterkejutan.

“Anak itu…”

Suaranya bergetar.

“Itu Darrien.”

Gloria menggenggam tangannya.

“Aku melihatnya.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Dia benar-benar…”

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Selama bertahun-tahun—

mereka tidak pernah mengetahui apa yang terjadi kepada anak mereka.

Dan sekarang—

mereka baru saja melihat jawabannya.

Darrien tidak hilang.

Ia dibawa pergi.

***

Zeith juga masih diam.

Tatapannya tertuju kepada tempat cermin itu menghilang.

“Jika semua yang kita lihat benar…”

Seraphine melanjutkan,

“…maka sejarah yang kita kenal selama ini memang tidak lengkap.”

Elyon mengangguk.

“Bukan hanya tidak lengkap.”

Ia menatap Crystal Hall.

“Sejarah itu sengaja disembunyikan.”

Elarion menarik napas.

“Dan Fiona adalah salah satu saksi terakhirnya.”

Sylvester mengangguk perlahan.

“Bahkan mungkin…”

Ia berhenti.

“…satu-satunya.”

***

Ace berjalan mondar-mandir.

“Baik.”

Ia mengangkat satu jari.

“Kita punya beberapa masalah.”

Rowan menatapnya.

“Beberapa?”

Ace mengangguk.

“Pertama—Fiona ternyata sudah hidup lebih dari dua ribu lima ratus tahun.”

Jari kedua.

“Kedua—dia mengenal Darrien sebelum kehidupan sekarang.”

Jari ketiga.

“Ketiga—Darrien pernah menjadi Grandmaster Dark Elf.”

Jari keempat.

“Keempat—mereka saling mencintai.”

Jari kelima.

“Kelima—Darrien mati.”

Ace berhenti.

Kemudian menatap yang lain.

“Dan keenam…”

Ia menunjuk pintu Crystal Hall.

“Fiona pergi lagi.”

Rowan menghela napas.

“Kesimpulan yang sangat bagus.”

Kevin mengangguk.

“Sayangnya benar.”

Ace menggaruk kepala.

“Aku masih punya sekitar seratus pertanyaan.”

Elarion berkata datar,

“Aku punya lebih banyak.”

Ace menoleh.

“Kau menghitung?”

“Tidak.”

Elarion menatapnya.

“Namun jumlahnya terus bertambah.”

***

Elyon berdiri di tengah ruangan.

Pikirannya terus mengulang setiap bagian dari cermin tadi.

Fiona.

Saintess.

Darrien.

Pengkhianatan.

Forbidden Magic.

Ribuan tahun.

Veyth.

Akasia.

Dan—

dua anak kecil yang ditinggalkan di depan panti asuhan.

Elyon menutup matanya.

“Jadi selama ini…”

Ia menghela napas.

“Fiona sudah mengetahui semuanya.”

Elarion mengangguk.

“Dan dia tidak pernah mengatakan apa pun.”

Sylvester menatap mereka.

“Mungkin karena dia sendiri tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.”

***

Darrien masih berdiri di tempat yang sama.

Ia tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Bahkan tidak menyadari bahwa semua orang sedang berdiskusi.

Pikirannya masih berada di dalam cermin.

Ia melihat dirinya sendiri.

Bukan dirinya yang sekarang.

Pria yang jauh lebih tua.

Pria yang memiliki kekuatan luar biasa.

Pria yang berdiri bersama Fiona.

Pria yang mencintainya.

Kemudian—

ia melihat dirinya mati.

Dan Fiona menangis.

Darrien perlahan menundukkan kepala.

*Jadi…*

*aku pernah mencintainya.*

Bukan.

Lebih tepatnya—

**aku sudah mencintainya jauh sebelum aku mengenalnya di kehidupan ini.**

Darrien mengepalkan tangannya.

Lalu teringat satu hal.

Fiona tidak pergi karena membencinya.

Dia pergi karena takut.

Takut melihat reaksinya.

Takut dianggap monster.

Takut ditolak.

Darrien memejamkan mata.

*Bodoh.*

Bukan Fiona.

Dirinya sendiri.

Karena sekarang ia mengerti pertanyaan yang pernah Fiona ajukan.

> “Kalau aku menjadi monster… apakah kau masih akan berada di sisiku?”

Darrien menarik napas panjang.

Sekarang—

ia tahu dari mana pertanyaan itu berasal.

Ia tahu apa yang sebenarnya ditakuti Fiona.

Dan untuk pertama kalinya—

Darrien merasa marah.

Bukan kepada Fiona.

Melainkan kepada ribuan tahun yang telah membuat wanita itu berpikir bahwa dirinya mungkin akan meninggalkannya.

***

Darrien membuka mata.

Ia melihat pintu Crystal Hall.

Fiona sudah pergi.

Namun kali ini—

ia tidak langsung mengejarnya.

Ia hanya berdiri diam.

Karena ia tahu satu hal.

Jika ia mengejarnya sekarang—

Fiona mungkin akan semakin menjauh.

Jadi ia hanya berbisik,

“Fiona…”

Tidak ada jawaban.

Namun Darrien tersenyum tipis.

“Kalau kau takut aku akan meninggalkanmu…”

Ia mengepalkan tangan.

“…kau salah.”

***

Di sisi lain—

Edward dan Gloria masih berdiri berdekatan.

Gloria mengusap air matanya.

“Kita harus berbicara dengannya.”

Edward mengangguk.

“Ya.”

“Bukan hanya tentang Fiona.”

Tatapannya tertuju kepada Darrien.

“Tapi tentang anak kita.”

Darrien menoleh.

Edward menatap putranya.

Untuk pertama kalinya—

ia menyadari bahwa anak yang selama ini mereka cari ternyata membawa sejarah yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.

***

Elyon menghela napas.

“Besok…”

Ia melihat semua orang.

“Kita harus berbicara dengan Fiona.”

Ace mengangkat tangan.

“Kalau dia tidak kabur lagi.”

Semua langsung menatapnya.

Ace mengangkat kedua tangannya.

“Aku hanya mengatakan kemungkinan.”

Rowan tertawa kecil.

Kevin menghela napas.

Elarion tersenyum tipis.

Bahkan Darrien hampir tersenyum.

Namun kemudian—

ia kembali menatap pintu.

Karena di balik semua pertanyaan yang mereka miliki—

ada satu hal yang paling ingin ia tanyakan kepada Fiona.

Bukan tentang Saintess.

Bukan tentang Crystal Hall.

Bukan tentang masa lalu.

Hanya satu.

**Mengapa dia masih takut kepadanya?**

Dan kali ini—

Darrien berjanji kepada dirinya sendiri.

Ketika Fiona kembali—

ia akan memberinya jawaban.

Bukan sebagai Grandmaster.

Bukan sebagai manusia dari kehidupan sekarang.

Bukan sebagai seseorang dari masa lalu.

Tetapi sebagai—

**Darrien yang memilih Fiona.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience