Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 341 — SEJARAH YANG DIHAPUS
DI VEYTH
Percakapan antara Fiona, Edward, dan Gloria akhirnya mendekati akhir.
Namun meskipun sebagian besar cerita telah mereka dengar, masih ada banyak hal yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Edward duduk diam.
Gloria berada di sampingnya.
Keduanya masih memikirkan semua yang baru saja diceritakan Fiona.
Tentang masa lalu.
Tentang Darrien.
Tentang Saintess.
Tentang Light Elf dan Dark Elf.
Akhirnya, Edward menghela napas.
“Kita harus kembali ke Lunaris.”
Gloria mengangguk.
“Aku setuju.”
Fiona yang duduk di hadapan mereka memperhatikan keduanya.
“Kalian sudah siap?”
Edward dan Gloria saling memandang.
Kemudian mereka mengangguk.
“Ya.”
Fiona tersenyum kecil.
“Kalau begitu…”
Cahaya Silver Leaf muncul di sekitar tubuhnya.
Tidak ada chanting.
Tidak ada persiapan panjang.
Hanya satu gerakan kecil dari tangannya.
Sebuah lingkaran sihir terbentuk di bawah kaki mereka.
Edward masih terlihat sedikit terkejut melihat kemampuan itu.
“Masih sulit dipercaya.”
Gloria tersenyum.
“Kita mungkin harus mulai terbiasa.”
Fiona tertawa kecil.
“Jangan terlalu terbiasa.”
Kemudian—
cahaya memenuhi ruangan.
WHOOSH!
Dalam sekejap—
Fiona, Edward, dan Gloria menghilang dari Veyth.
***
DI LUNARIS
Sementara itu—
di area latihan kerajaan—
latihan Darrien dan Kevin masih berlangsung.
BOOM!
Darrien kembali mendarat.
Ia berguling sekali sebelum segera bangkit.
Kevin berdiri beberapa meter di depannya.
Tenang.
Tidak terlihat lelah sedikit pun.
“Lagi.”
Darrien mengusap bahunya.
“Baik.”
Ace yang berdiri di sisi lapangan menatap keduanya.
“Dia benar-benar tidak mau berhenti.”
Rowan mengangguk.
“Kevin juga tidak memberinya kesempatan untuk berhenti.”
Elarion tersenyum kecil.
“Darrien sendiri yang meminta latihan ini.”
Ace menghela napas.
“Benar juga.”
Kevin menoleh sedikit.
“Aku masih bisa mendengar kalian.”
Ace langsung diam.
“….”
Rowan menahan tawa.
Elarion hanya tersenyum.
***
Setelah beberapa putaran berikutnya, Elyon akhirnya berdiri.
“Aku akan pergi sebentar.”
Ace menoleh.
“Ke mana?”
“Ruang diskusi kerajaan.”
Elyon memandang Darrien yang sedang mengambil posisi kembali.
“Ada pembicaraan penting yang harus aku ikuti.”
Elarion mengangguk.
“Pergilah.”
Elyon meninggalkan area latihan.
Sementara Ace, Rowan, dan Elarion tetap di sana.
Mereka kembali memperhatikan latihan.
Kevin berdiri di depan Darrien.
“Kali ini, jangan menunggu gerakanku.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
Kevin bergerak.
WHOOSH!
Darrien langsung mengikuti.
Keduanya melesat melewati lapangan.
Ace bersiul.
“Jauh lebih cepat.”
Rowan mengangguk.
“Dia mulai terbiasa dengan perubahan arah.”
Elarion memperhatikan dengan serius.
“Bukan hanya kecepatannya.”
“Apa?”
“Kontrol tubuhnya.”
Elarion menunjuk Darrien.
“Dia mulai mengurangi gerakan yang tidak perlu.”
Ace mengangguk.
“Jadi Kevin benar-benar tahu apa yang dia lakukan.”
Kevin langsung menjawab dari kejauhan.
“Sudah jelas.”
Ace membeku.
“…Dia benar-benar mendengar semuanya.”
Rowan tertawa.
“Grandmaster of Combat.”
***
DI RUANG DISKUSI KERAJAAN
Elyon tiba beberapa saat kemudian.
Ketika pintu dibuka—
ia melihat Zeith dan Seraphine telah berada di sana.
Edward dan Gloria juga sudah tiba.
Dan di tengah ruangan—
Fiona.
Fiona menoleh ketika Elyon masuk.
“Elyon.”
Elyon mengangguk.
“Aku datang.”
Ia duduk.
Untuk beberapa saat—
tidak ada yang berbicara.
Keheningan terasa berat.
Dua kerajaan.
Empat penguasa.
Dan seorang wanita yang membawa sejarah lebih dari dua ribu lima ratus tahun.
Akhirnya—
Fiona menarik napas.
“Aku akan mulai dari awal.”
Zeith mengangguk.
“Kami mendengarkan.”
Fiona menatap mereka satu per satu.
“Sejarah Light Elf dan Dark Elf yang kalian kenal…”
Ia berhenti.
“…tidak sepenuhnya benar.”
Seraphine mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Dulu…”
Fiona berkata perlahan.
“Light Elf dan Dark Elf tidak selalu menjadi musuh.”
Semua terdiam.
Zeith menatapnya.
“Tidak?”
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
“Pada zaman dahulu, kedua ras itu hidup berdampingan.”
Mereka bertukar pengetahuan.
Saling membantu.
Melindungi wilayah yang sama.
Menjaga keseimbangan antara kekuatan cahaya dan kegelapan.
Mereka berbeda.
Namun perbedaan itu tidak selalu berarti permusuhan.
Elyon mendengarkan dengan serius.
“Lalu apa yang terjadi?”
Fiona menundukkan kepala.
“Ketakutan.”
Ia berhenti.
“Ambisi.”
“Kesalahpahaman.”
“Dan pengkhianatan.”
Hubungan kedua ras mulai retak.
Satu konflik menjadi konflik lainnya.
Konflik berubah menjadi perang.
Dan perang melahirkan kebencian.
Semakin banyak korban jatuh—
semakin sulit bagi mereka untuk kembali percaya satu sama lain.
Fiona menutup matanya.
“Sampai akhirnya…”
Ia menarik napas.
“Light Elf dan Dark Elf dianggap sebagai musuh alami.”
***
Kemudian—
Fiona mulai menceritakan dirinya dan Darrien.
“Aku adalah Saintess Light Elf.”
“Dan Darrien…”
Suaranya melembut.
“…adalah Grandmaster Dark Elf.”
Tidak ada yang menyela.
“Kami seharusnya tidak saling mendekat.”
Fiona tersenyum sedih.
“Tapi kami melakukannya.”
Ia menceritakan bagaimana mereka bertemu.
Bagaimana mereka mulai memahami satu sama lain.
Bagaimana mereka menemukan bahwa di balik nama Light Elf dan Dark Elf—
mereka tetap hanya dua orang yang ingin hidup bersama.
Namun kemudian—
pengkhianatan terjadi.
Darrien kehilangan nyawanya.
Dan Fiona kehilangan segalanya.
***
“Setelah Darrien pergi…”
Fiona menundukkan kepala.
“…aku kehilangan kepercayaanku kepada dunia.”
Suaranya bergetar.
“Aku menggunakan Forbidden Magic.”
“Aku mempertahankan jiwanya.”
“Aku menunggunya.”
“Tahun demi tahun.”
“Abad demi abad.”
“Ribuan tahun.”
Semua orang diam.
Kemudian Fiona mengucapkan sesuatu yang membuat ruangan kembali membeku.
“Aku menghapus sejarah.”
Zeith menatapnya.
“Apa?”
Fiona mengangkat wajah.
“Sejarah Light Elf.”
“Sejarah Dark Elf.”
“Nama kerajaan mereka.”
“Perang mereka.”
“Hubungan mereka.”
“Dan…”
Ia berhenti.
“…kisah tentang kami.”
Elyon menatap Fiona.
“Kau yang menghapus semuanya?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
“Kenapa?”
Fiona tersenyum pahit.
“Aku tidak ingin dunia mengingat Darrien sebagai seorang Grandmaster yang mati dalam perang.”
“Aku tidak ingin orang-orang terus mengingat kami sebagai Saintess dan Grandmaster.”
“Aku hanya ingin…”
Air mata mulai jatuh.
“…dunia melupakan semuanya.”
Gloria menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Namun kau sendiri tidak pernah melupakannya.”
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
“Aku tidak pernah bisa.”
Edward menarik napas panjang.
Ia memahami sekarang.
Fiona tidak menghapus sejarah karena membenci masa lalu.
Ia menghapusnya karena terlalu mencintai seseorang yang telah hilang dari dunia.
Ruangan kembali sunyi.
Tidak ada yang langsung memberikan jawaban.
Karena untuk pertama kalinya—
mereka memahami bahwa sejarah yang selama ini mereka cari…
bukan sekadar sejarah yang hilang.
Seseorang telah sengaja membuat dunia melupakannya.
Dan orang itu—
adalah Fiona.
