367. Mimpi Yang Terbelah

Romance Completed 594

BAB 367 — MIMPI YANG TERBELAH

Malam telah benar-benar sunyi.

Setelah makan malam—

Darrien dan Fiona kembali ke kamar.

Tidak ada banyak percakapan.

Tubuh Darrien masih terasa berat setelah latihan sepanjang hari.

Ia berbaring di tempat tidur sambil memeluk Fiona.

Fiona bersandar nyaman di dadanya.

Untuk beberapa saat—

keduanya hanya saling memandang.

Fiona tersenyum kecil.

“Hari ini melelahkan.”

Darrien mengangguk.

“Hm.”

Fiona melanjutkan.

“Besok jangan terlalu memaksakan diri.”

Tidak ada jawaban.

Fiona berkedip.

“Darrien?”

Hening.

Ia mengangkat kepala.

Darrien sudah tertidur.

Napasnya teratur.

Wajahnya terlihat benar-benar kelelahan.

Fiona menatapnya beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

“Sepertinya kau benar-benar terlalu lelah hari ini.”

Ia menghela napas kecil.

“Selamat malam.”

Fiona mendekat.

Memberikan kecupan singkat di bibir Darrien.

“Semoga mimpi indah.”

Kemudian ia kembali bersandar dalam pelukannya.

Matanya perlahan tertutup.

Dan malam membawa keduanya menuju tidur.

***

MIMPI

Darrien membuka matanya.

Namun kali ini—

ia tidak memiliki tubuh.

Ia hanya berdiri.

Tidak terlihat.

Tidak dapat disentuh.

Tidak dapat didengar.

Darrien melihat sekeliling.

Danau Lunaris.

Pohon besar.

Cahaya bulan memenuhi permukaan air.

Ia mengenal tempat ini.

Namun sesuatu terasa berbeda.

Di bawah pohon—

Grandmaster Darrien duduk bersama Fiona.

Keduanya begitu dekat.

Fiona bersandar pada bahunya.

Grandmaster Darrien memeluknya.

Tidak ada percakapan.

Hanya keheningan.

Namun dari cara mereka duduk—

Darrien mengerti.

Tempat itu adalah satu-satunya tempat mereka bisa melepaskan kerinduan yang tidak dapat mereka tunjukkan di hadapan siapa pun.

Darrien menatap mereka.

Kemudian—

ia merasakan sesuatu.

Seseorang berada di kejauhan.

Ia menoleh.

Di antara pepohonan—

Lucas.

Pria itu berdiri diam.

Tidak mendekat.

Tidak berbicara.

Hanya menatap mereka.

Wajahnya—

penuh kebencian.

Darrien membeku.

“Lucas…”

Ia mencoba bergerak mendekat.

Namun Lucas sudah berbalik.

Ia berjalan meninggalkan hutan.

Darrien mencoba mengejarnya.

Tidak bisa.

Tubuhnya seperti terikat pada tempat itu.

Ia hanya bisa menyaksikan.

***

Fiona tiba-tiba berbicara.

“Aku lelah.”

Grandmaster Darrien menoleh.

“Kenapa?”

Fiona menundukkan kepala.

“Aku tidak ingin terus seperti ini.”

Darrien terdiam.

Fiona menarik napas panjang.

“Aku ingin pergi.”

Grandmaster Darrien tidak langsung menjawab.

“Aku ingin hidup seperti elf biasa.”

Suaranya bergetar.

“Tidak ada yang memanggilku Saintess.”

“Tidak ada yang menginginkan kekuatanku.”

“Tidak ada yang memandangku sebagai sesuatu yang harus disembah.”

Air mata mulai jatuh.

“Aku hanya…”

Fiona menutup wajahnya.

“…ingin menjadi Fiona.”

Darrien yang hanya bisa mengamati merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.

Ia tahu perasaan itu.

Ia pernah melihat Fiona seperti ini.

Namun sekarang—

ia melihatnya dari masa lalu.

Grandmaster Darrien memeluk Fiona.

“Aku mengerti.”

Fiona menangis di dadanya.

“Aku ingin pergi bersamamu.”

Grandmaster Darrien mengusap rambutnya.

“Bukan sekarang.”

Fiona mengangkat wajah.

“Kenapa?”

“Karena belum aman.”

Ia menatap danau.

“Aku akan menemukan jalan.”

“Tempat yang tidak diketahui siapa pun.”

“Tempat di mana kita bisa hidup tanpa nama.”

Fiona terdiam.

Grandmaster Darrien menggenggam tangannya.

“Aku berjanji.”

Darrien memperhatikan mereka.

Kemudian—

pemandangan berubah.

***

SIANG.

Grandmaster Darrien berada di dalam istana.

Fiona berada di tempat lain.

Mereka tidak bersama.

Namun keduanya mulai mempersiapkan sesuatu.

Diam-diam.

Tidak ada yang tahu.

Beberapa dokumen dipindahkan.

Beberapa jalur diperiksa.

Beberapa tempat dicari.

Mereka sedang merencanakan pelarian.

Darrien berjalan mengikuti bayangan ingatan itu.

Ia melihat mereka bertemu diam-diam.

Berbicara singkat.

Kemudian berpisah lagi.

Malam berikutnya—

mereka bertemu kembali.

Hari berikutnya—

kembali melakukan hal yang sama.

Hari demi hari.

Malam demi malam.

Sampai akhirnya—

sebuah tanggal ditentukan.

Hari mereka akan pergi.

***

MALAM.

Danau Lunaris.

Tempat yang sama.

Fiona sudah menunggu.

Grandmaster Darrien datang.

Mereka tidak membawa banyak barang.

Hanya sesuatu yang benar-benar mereka perlukan.

Fiona menatapnya.

“Sudah waktunya?”

Grandmaster Darrien mengangguk.

“Ya.”

Ia mengulurkan tangan.

Fiona menggenggamnya.

Mereka berjalan.

Selangkah.

Dua langkah.

Kemudian—

sesuatu berubah.

Grandmaster Darrien berhenti.

Fiona juga berhenti.

Darrien melihat ke depan.

Bayangan muncul di antara pepohonan.

Bukan satu.

Bukan dua.

Banyak.

Terlalu banyak.

Grandmaster Darrien langsung mengubah posisi.

Dark magic mengalir dari tubuhnya.

Fiona mundur.

“Tidak…”

Suara Fiona bergetar.

Darrien mencoba bergerak mendekati mereka.

Namun ia masih tidak bisa menyentuh apa pun.

Grandmaster Darrien menggenggam tangan Fiona.

“Jangan takut.”

Namun—

suara dari kejauhan terdengar.

“Tidak ada tempat untuk kalian pergi.”

Fiona membeku.

Grandmaster Darrien langsung berdiri di depannya.

Dark aura meledak.

Tanah bergetar.

Pepohonan berguncang.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Serangan datang.

Grandmaster Darrien menahannya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Dark magic memenuhi udara.

Ia bergerak begitu cepat hingga mata manusia biasa tidak akan mampu mengikuti.

Namun—

sebuah serangan lain datang dari sisi yang tidak terlihat.

Fiona terlempar.

“FIONA!”

Grandmaster Darrien bergerak.

Ia berhasil menangkapnya.

Namun—

barisan lain sudah memisahkan mereka.

Fiona mencoba meraih tangannya.

“Darrien!”

“Aku di sini!”

Grandmaster Darrien mencoba mendekat.

Namun penghalang sihir muncul di antara mereka.

Fiona memukul penghalang itu.

“Darrien!”

Ia mencoba menghancurkannya.

Tidak berhasil.

Grandmaster Darrien menggunakan seluruh kekuatannya.

**BOOM!**

Penghalang retak.

Namun sebelum ia berhasil menghancurkannya—

sebuah serangan menghantam tubuhnya.

Ia terlempar jauh.

Fiona berteriak.

“DARRIEN!”

Darrien yang menjadi pengamat hanya bisa melihat.

Ia mencoba berlari.

Tidak ada gunanya.

Tidak ada yang bisa disentuh.

Tidak ada yang bisa diubah.

Grandmaster Darrien bangkit.

Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Namun ia masih berdiri.

Masih mencoba mencapai Fiona.

Fiona juga masih berusaha mendekatinya.

Tangan mereka hampir bersentuhan.

Hanya beberapa sentimeter.

Namun—

penghalang kembali menutup.

Grandmaster Darrien memukulnya.

“Fiona!”

Fiona menangis.

“Darrien!”

Mereka terpisah.

Semakin jauh.

Semakin jauh.

Kemudian—

cahaya menyilaukan memenuhi pandangan.

***

Darrien tersentak.

Ia membuka matanya.

Napasnya berat.

Tubuhnya basah oleh keringat.

Ruangan masih gelap.

Fiona masih tidur di sampingnya.

Namun Darrien tidak langsung bergerak.

Ia hanya duduk.

Menatap kosong ke depan.

Tangannya mengepal.

Ia bisa merasakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.

Bukan sekadar kesedihan.

Bukan sekadar ketakutan.

Melainkan—

rasa kehilangan yang terasa terlalu nyata.

Darrien menoleh kepada Fiona.

Ia melihat wajahnya yang masih tertidur.

Kemudian perlahan—

ia menariknya lebih dekat.

Memeluknya erat.

Seolah-olah jika ia melepaskannya—

sesuatu akan kembali memisahkan mereka.

Darrien menutup matanya.

Namun satu kalimat terus berputar di dalam pikirannya.

*Jangan sampai terulang lagi.*

Ia tidak tahu dari mana kalimat itu berasal.

Ia hanya tahu—

ia tidak ingin kehilangan Fiona.

Tidak sekarang.

Tidak pernah lagi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience