Completed
594
BAB 431 — JARINGAN PERTAHANAN SHADOWCRESENT
Menara perbatasan berdiri kokoh di antara hutan tua dan pegunungan Shadowcresent.
Dari puncaknya, Mufasa mengamati wilayah luas yang membentang di hadapannya.
Beberapa hari terakhir ia menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat ini.
Namun bukan berarti ia bekerja sendirian.
Di bawah menara, beberapa vampire penjaga dan penyihir kerajaan telah berkumpul.
Mereka semua menunggu perintah.
Mufasa turun dari balkon.
"Bagaimana keadaan jalur utara?"
Salah satu penjaga segera menjawab.
"Sudah selesai, Komandan."
"Jalur timur?"
"Masih dalam proses."
Mufasa mengangguk.
"Bagus. Jangan terlalu banyak mengubah bentuk aslinya."
Para vampire saling berpandangan.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan.
"Komandan."
Mufasa menoleh.
"Ya?"
"Kalau kita mengubah terlalu sedikit, bukankah penyusup masih bisa menemukan jalan?"
Mufasa tersenyum tipis.
"Itulah gunanya perangkap."
Ia menunjuk ke arah hutan.
"Kita tidak ingin mereka tahu bahwa hutan ini telah berubah."
Para penjaga mengangguk.
Mufasa kemudian berjalan menuju tepi hutan.
Ia mengangkat satu tangan.
Mana gelap mengalir perlahan dari tubuhnya.
Pepohonan di kejauhan mulai bergerak.
Akar-akar muncul dari tanah.
Beberapa batang pohon bergeser.
Jalur yang sebelumnya terlihat jelas perlahan tertutup oleh semak dan akar.
Namun tidak semuanya ditutup.
Sebagian jalan tetap dibiarkan terbuka.
Mufasa menunjuk ke arah salah satu jalur.
"Yang itu biarkan."
Seorang vampire penjaga mengerutkan kening.
"Jalur itu?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena kalau semuanya ditutup, mereka akan tahu bahwa ada sesuatu yang salah."
Penjaga itu mengangguk pelan.
"Oh."
Mufasa meliriknya.
"Jangan hanya mengatakan 'oh'. Pahami."
"Baik, Komandan."
Beberapa vampire lainnya mulai bekerja.
Mereka menggunakan sihir untuk mengatur akar, menggeser batu, dan mempersempit beberapa jalur.
Mufasa tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri.
Ia hanya mengawasi.
Sesekali memberikan perintah.
Sesekali memperbaiki susunan sihir.
Dan sesekali...
menghentikan bawahannya sebelum mereka membuat sesuatu terlalu berlebihan.
"Berhenti."
Dua vampire yang sedang memindahkan batu langsung membeku.
Mufasa menunjuk batu besar di antara mereka.
"Jangan letakkan di sana."
"Kenapa?"
"Karena terlalu jelas."
Keduanya saling pandang.
Mufasa menghela napas.
"Kalau aku bisa melihat perangkap itu dari sini, penyusup juga bisa."
Kedua vampire itu segera memindahkannya.
"Baik, Komandan."
***
Setelah hutan selesai diperkuat, perhatian Mufasa beralih ke pegunungan.
Gunung adalah bagian yang lebih sulit.
Terlalu banyak jalur alami.
Terlalu banyak celah.
Dan terlalu mudah bagi seseorang yang memiliki kemampuan membaca medan untuk mengingat arah.
Mufasa berdiri di depan salah satu jalur sempit.
Ia mengamati celah batu di kejauhan.
Kemudian tersenyum.
"Yang ini."
Para bawahannya berdiri di belakangnya.
Mufasa menunjuk celah tersebut.
"Jadikan itu jalur palsu."
Salah satu penyihir vampire segera maju.
"Ilusi ruang?"
"Ya."
Mufasa mengangguk.
"Gabungkan dengan sihir persepsi."
"Seberapa luas?"
"Jangan terlalu besar."
Mufasa berpikir sejenak.
"Cukup untuk membuat mereka yakin bahwa mereka sedang menuju sisi lain gunung."
Para penyihir segera mulai bekerja.
Rune-rune muncul di permukaan batu.
Sihir menyebar perlahan.
Dari kejauhan, celah batu itu mulai terlihat berbeda.
Sekarang tampak seperti sebuah jalan yang benar-benar mengarah melewati gunung.
Padahal...
tidak ada jalan keluar.
Siapa pun yang masuk akan perlahan diarahkan kembali ke wilayah yang sama.
Bukan lingkaran sederhana.
Ilusi itu akan menyesuaikan diri dengan arah perjalanan mereka.
Jika mereka berbelok—
jalurnya ikut berubah.
Jika mereka mencoba mencari jalan lain—
mereka akan menemukan jalan palsu yang berbeda.
Mufasa mengamati hasilnya.
"Bagus."
Salah satu bawahannya tersenyum bangga.
"Apakah ini cukup?"
Mufasa menatap gunung.
"Belum."
Ia menunjuk bagian lain.
"Tambahkan satu perangkap lagi di sana."
Para vampire menatapnya.
"Perangkap apa?"
Mufasa tersenyum.
"Perangkap yang tidak terlihat seperti perangkap."
***
Beberapa jam kemudian.
Pekerjaan selesai.
Di antara pepohonan, jalur-jalur palsu telah tercipta.
Di pegunungan, beberapa celah telah dimanipulasi.
Dan di dalam salah satu lorong gunung yang tampak alami...
terdapat sebuah perangkap sihir yang tidak akan aktif sampai seseorang melewati titik tertentu.
Mufasa berdiri di atas menara.
Ia melihat hasil kerja para bawahannya.
"Bagus."
Salah satu penjaga berdiri di sampingnya.
"Komandan."
"Hm?"
"Apakah kita sudah selesai?"
Mufasa menatapnya.
"Untuk hari ini."
Penjaga itu menghela napas lega.
Namun Mufasa melanjutkan.
"Besok kita mulai bagian utara."
Penjaga itu langsung terdiam.
"...Besok?"
Mufasa mengangguk.
"Kenapa?"
"Tidak."
Penjaga itu segera tersenyum kaku.
"Tidak ada apa-apa."
Mufasa menatapnya beberapa detik.
Kemudian tertawa kecil.
"Kalian bisa istirahat."
Para vampire segera pergi.
Mufasa kembali berdiri sendirian di balkon.
Angin gunung berembus melewati jubahnya.
Namun beberapa saat kemudian—
ia merasakan sesuatu.
Sangat samar.
Sebuah getaran sihir.
Jauh.
Sangat jauh.
Mufasa mengangkat kepalanya.
"...Teleportasi?"
Ia memejamkan mata sejenak, merasakan aliran mana yang tersisa di udara.
Bukan dari Shadowcresent.
Dari arah luar.
Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.
Veyth.
Mereka pasti menemukan sesuatu lagi.
***
Veyth.
Ruang penelitian kembali dipenuhi cahaya sihir.
Kevin berdiri di tengah lingkaran teleportasi.
Elarion memegang catatan kuno.
Rowan memeriksa rune satu demi satu.
Ace berdiri beberapa langkah di belakang mereka dengan ekspresi curiga.
"Kalau aku boleh bertanya..."
Tidak ada yang menjawab.
"Kenapa setiap kali kalian menemukan sihir baru, aku yang merasa akan menjadi korban?"
Kevin tetap fokus.
"Karena kau terlalu banyak bicara."
"Aku sedang memberikan dukungan moral."
"Berisik bukan dukungan moral."
Ace menghela napas.
"Baiklah."
Ia menyilangkan tangan.
"Aku diam."
Tiga detik berlalu.
"Apakah ini aman?"
Kevin memejamkan mata.
"Astaga."
Elarion akhirnya berbicara.
"Kita sudah memahami struktur dasarnya."
Ia menunjuk beberapa simbol kuno.
"Masalah teleportasi sebelumnya adalah jarak."
Rowan mengangguk.
"Semakin jauh titik tujuan, semakin besar konsumsi mana dan semakin sulit menjaga kestabilan ruang."
"Benar."
Elarion membuka halaman lain.
"Namun teknik ini memiliki cara untuk mengurangi masalah tersebut."
Darrien yang berdiri dekat jendela menoleh.
"Bagaimana?"
Elarion menunjuk simbol berbentuk spiral.
"Alih-alih memaksa ruang membawa seseorang secara langsung sejauh mungkin..."
Jarinya mengikuti pola spiral tersebut.
"...kita membuat ruang melipat sebagian jarak."
Kevin langsung memahami.
"Melipat jarak."
"Ya."
Rowan memperhatikan diagram itu.
"Jadi teleportasi tidak benar-benar menempuh seluruh jarak."
"Lebih tepatnya, jarak di antara dua titik dipersingkat sementara."
Ace mengangkat tangan.
Semua menoleh.
"Jadi..."
Ia menunjuk lingkaran.
"Kalau biasanya kita harus menempuh sepuluh kilometer..."
Kevin mengangguk.
"...sihir ini membuat sepuluh kilometer terasa seperti satu?"
"Secara sederhana."
Ace tersenyum.
"Akhirnya aku mengerti."
Ia berhenti.
"Kenapa aku masih merasa ini akan meledak?"
Kevin menatapnya.
"Karena kau belajar dari pengalaman."
***
Percobaan dimulai.
Rune menyala satu demi satu.
Udara di tengah lingkaran bergetar.
Kevin masuk ke dalam.
Elarion mulai mengucapkan mantra.
Cahaya memenuhi ruangan.
Kemudian—
WHOOM!
Ruang di depan Kevin melengkung.
Tubuhnya menghilang.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada suara keras.
Hanya satu kilatan cahaya.
Beberapa detik kemudian...
Kevin muncul di titik tujuan.
Lebih jauh daripada percobaan sebelumnya.
Rowan segera melihat alat pengukur sihir.
Matanya membesar.
"Jaraknya hampir tiga kali lipat."
Ace membuka mulut.
Kemudian menutupnya.
Membukanya lagi.
"Berhasil?"
Kevin mengangguk.
"Berhasil."
Ace menunjuk Kevin.
"Kau baru saja menghilang jauh lebih jauh."
"Ya."
"Dan kau kembali."
"Ya."
Ace menepuk dadanya.
"Syukurlah."
Darrien tidak ikut bercanda.
Tatapannya tertuju pada lingkaran sihir.
Kemudian pada peta Shadowcresent.
Jarak.
Pegunungan.
Hutan.
Pertahanan ruang.
Semuanya mulai terlihat sedikit berbeda.
Mereka masih belum menemukan jalan menuju Shadowcresent.
Namun sekarang mereka telah menemukan cara untuk memperpanjang langkah mereka.
Darrien mengepalkan tangannya perlahan.
"Berapa jauh kita bisa mengembangkannya?"
Elarion tidak langsung menjawab.
"Belum tahu."
Ia melihat kembali catatan kuno.
"Teknik ini masih memiliki batas."
"Dan jika dipaksakan?"
"Ruang bisa kehilangan kestabilan."
Kevin menambahkan,
"Jadi kita belum bisa langsung menggunakannya untuk mencapai Shadowcresent."
Darrien mengangguk.
Itu bukan jawaban yang ia inginkan.
Tetapi setidaknya...
mereka bergerak maju.
***
Jauh di perbatasan Shadowcresent...
Mufasa masih berdiri di atas menara.
Matanya menatap ke arah luar kerajaan.
Getaran sihir tadi telah menghilang.
Namun ia tahu apa artinya.
Veyth sedang belajar.
Mereka menemukan sesuatu yang baru.
Mufasa menatap hutan yang baru saja mereka ubah.
Kemudian ke arah pegunungan.
Jalur palsu.
Perangkap.
Ilusi.
Semuanya telah disiapkan.
Ia tersenyum kecil.
"Kalau begitu..."
Mufasa berbalik menuju para penjaga yang masih bekerja di bawah menara.
"Besok kita tambah lagi."
Beberapa kepala langsung terangkat.
Salah satu vampire menatap rekannya.
"Besok lagi?"
Mufasa mendengarnya.
Ia menoleh.
"Masalah?"
Penjaga itu segera berdiri tegak.
"Tidak, Komandan!"
Mufasa tersenyum puas.
"Bagus."
Ia kembali menatap pegunungan.
Veyth terus belajar.
Shadowcresent juga terus berubah.
Dan tanpa diketahui kedua pihak...
jarak di antara mereka perlahan semakin pendek.
Namun untuk setiap langkah yang berhasil ditemukan Veyth...
Shadowcresent akan menciptakan satu langkah baru untuk membuat mereka tersesat.
Share this novel