363. Jejak Yang Tak Terlihat

Romance Completed 594

BAB 363 — JEJAK YANG TIDAK TERLIHAT

Bulan semakin menurun dan hampir fajar di Danau Lunaris.

Fiona akhirnya membuka matanya.

Ia mengedip beberapa kali sebelum menyadari bahwa Darrien sudah terjaga.

Pria itu duduk diam di bawah pohon besar, menatapnya.

Fiona mengangkat kepalanya sedikit.

“Sudah selama ini?”

Darrien mengangguk.

“Sepertinya.”

Fiona melihat ke arah langit yang mulai semakin terang.

“Dan kau tidak membangunkanku?”

Darrien terdiam sesaat.

Jawaban yang keluar dari mulutnya bahkan membuat dirinya sendiri sedikit bingung.

“Aku hanya ingin waktu kita bersama sedikit lebih lama.”

Fiona membeku.

Pipinya perlahan memerah.

Namun Darrien sendiri justru terdiam setelah mengatakan kalimat itu.

Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa aneh.

Seolah-olah kalimat itu bukan hanya keinginannya sekarang.

Seolah-olah—

ia pernah mengatakannya sebelumnya.

Berkali-kali.

Dan bersama perasaan itu, muncul sesuatu yang lebih samar.

Sebuah kegelisahan.

Perasaan seperti mereka sedang bersembunyi dari sesuatu.

Sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

Sesuatu yang bahkan tidak bisa ia beri nama.

Darrien mengerutkan kening.

*Apa yang sebenarnya kami takutkan?*

Ia mencoba mengingat.

Namun tidak ada jawaban.

Fiona sudah berdiri.

Ia meregangkan tubuhnya setelah tidur cukup lama.

“Aku harus pergi.”

Darrien menatapnya.

“Kau mau pergi sekarang?”

Fiona mengangguk.

“Kau juga sebaiknya kembali.”

Ia tersenyum lembut.

“Kita bertemu lagi di sini besok.”

“Besok?”

“Tempat yang sama.”

Fiona menunjuk danau.

“Waktu yang sama.”

Darrien mengangguk.

“Baik.”

Fiona kemudian mengangkat tangannya.

Silver Leaf magic mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.

Cahaya lembut memenuhi udara.

Dalam sekejap—

**WHOOSH!**

Fiona menghilang.

Darrien secara refleks melangkah maju.

“Fiona—”

Terlambat.

Ia berhenti di tepi danau.

Hanya angin yang tersisa.

Darrien menatap tempat Fiona tadi berdiri.

Kemudian ia menyadari sesuatu.

Magicure yang ditinggalkan Fiona masih terasa di udara.

Murni.

Lembut.

Namun begitu kuat.

Darrien mengangkat tangannya.

“Magicure-nya…”

Ia tidak bisa menjelaskan kenapa.

Tapi tubuhnya seperti mengenali sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh pikirannya.

***

Darrien akhirnya berbalik.

Ia ingin pergi.

Namun sebelum sempat menentukan ke mana—

tubuhnya bergerak sendiri.

Dark magic berkumpul di sekelilingnya.

Ia bahkan tidak mengucapkan mantra.

Tidak perlu.

**WHOOSH!**

***

ISTANA DARK ELF.

Darrien muncul di sebuah ruangan yang sangat luas.

Ia langsung terdiam.

Dinding batu hitam.

Pilar-pilar tinggi.

Ukiran kuno.

Magicure gelap yang begitu pekat memenuhi udara.

Dan yang paling aneh—

tubuhnya terasa begitu nyaman di tempat ini.

Darrien tahu ada sesuatu yang tidak biasa.

Namun kali ini ia tidak melawan.

Ia hanya mengamati.

Seperti seseorang yang sedang melihat kehidupan dari balik tubuhnya sendiri.

Ia membiarkan ingatan Darrien masa lalu berjalan.

***

Tubuh itu berjalan menuju ruang pribadinya.

Ruang Grandmaster.

Darrien duduk di balik meja.

Beberapa laporan sudah menunggunya.

Tatapannya dingin.

Gerakannya tenang.

Aura dark magic yang keluar dari tubuhnya begitu kuat hingga udara di dalam ruangan terasa berat.

Dream-Darrien hanya memperhatikan.

Ia merasakan kekuatan itu.

Begitu dalam.

Begitu besar.

Dan anehnya—

terasa familiar.

Ia melihat tangannya sendiri.

*Jadi… inilah kekuatan yang pernah kumiliki.*

Namun ia tidak mencoba menggunakannya.

Ia hanya melihat.

Kemudian—

pintu terbuka.

Seorang pria masuk.

Ia mengenakan pakaian seorang sekretaris dan membawa beberapa dokumen.

Pria itu langsung membungkuk.

“Yang Mulia.”

Dream-Darrien memperhatikannya.

Grandmaster Darrien mengangkat kepala.

“Lucas.”

“Ya, Yang Mulia.”

Lucas berjalan mendekat.

“Ini laporan dari beberapa hari terakhir mengenai penyelidikan yang Anda minta.”

Grandmaster Darrien menerima laporan itu.

Ia membaca beberapa halaman.

Kemudian tatapannya menjadi dingin.

“Lucas.”

“Ya?”

“Lain kali jangan masuk ke ruang pribadiku tanpa mengetuk.”

Lucas langsung menunduk.

“Maaf, Yang Mulia.”

“Terutama tengah malam.”

Aura Grandmaster Darrien perlahan menjadi lebih berat.

“Ini peringatan terakhir.”

Lucas menunduk lebih dalam.

“Ya, Yang Mulia.”

“Saya tidak akan mengulanginya.”

Grandmaster Darrien mengangguk.

“Kau boleh pergi.”

Lucas membungkuk.

“Terima kasih, Yang Mulia.”

Ia kemudian berbalik.

Berjalan menuju pintu.

Grandmaster Darrien tidak lagi memperhatikannya.

Ia kembali membaca laporan di tangannya.

Ia tidak melihat ke belakang.

Tidak mengetahui apa pun.

***

Namun—

Dream-Darrien masih memperhatikan Lucas.

Ia bisa melihat sesuatu yang Grandmaster Darrien tidak lihat.

Lucas berjalan semakin jauh dari ruangan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Ketika ia yakin sudah cukup jauh—

wajahnya berubah.

Senyum sopan yang sebelumnya menghiasi wajahnya menghilang.

Tatapannya menjadi dingin.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terasa sangat berbeda.

Bukan senyum seorang sekretaris yang patuh.

Melainkan senyum seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

Dream-Darrien membeku.

“…”

Ia menatap Lucas.

*Siapa dia?*

Dream-Darrien ingin bergerak.

Ingin mengejar.

Ingin melihat ke mana pria itu pergi.

Namun tubuh Grandmaster Darrien tetap duduk di balik meja.

Ia tidak bergerak.

Tidak mengejar.

Tidak melihat ke arah pintu.

Karena Grandmaster Darrien—

tidak pernah melihat ekspresi itu.

Hanya Dream-Darrien yang melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya—

Darrien menyadari bahwa ada sesuatu dalam kehidupan masa lalunya yang bahkan dirinya sendiri tidak pernah ketahui.

Namun sebelum ia bisa melakukan apa pun—

pemandangan mulai berubah.

Dinding istana perlahan memudar.

Suara menjadi jauh.

Magicure di udara menghilang.

Semuanya menjadi kabur.

***

Darrien membuka matanya.

Ia langsung duduk di tempat tidur.

Napasnya sedikit berat.

Ruangan masih gelap.

Ia melihat kedua tangannya.

Kemudian melihat sekeliling.

Kamar yang dikenalnya.

Istana Lunaris.

Bukan istana Dark Elf.

Darrien mengusap wajahnya.

“Apa…”

Ia berhenti.

Potongan-potongan mimpi tadi masih berada di pikirannya.

Danau.

Fiona.

Magicure murni.

Istana Dark Elf.

Kekuatan yang begitu besar.

Dan—

Lucas.

Darrien terdiam.

Ia mengingat pria itu.

Namun yang paling mengganggunya bukan apa yang dilakukan Lucas di dalam ruangan.

Melainkan sesuatu yang hanya ia sendiri lihat.

Ekspresi pria itu setelah meninggalkan ruangan.

Darrien perlahan mengerutkan kening.

*Grandmaster Darrien tidak melihatnya.*

*Tapi aku melihatnya.*

Ia duduk diam cukup lama.

Tidak mencoba mencari jawaban.

Tidak mencoba memaksa ingatannya terbuka.

Hanya memikirkan satu hal.

“Siapa sebenarnya Lucas…?”

Namun tidak ada jawaban.

Dan malam kembali menjadi sunyi.

Untuk sekarang—

Darrien hanya bisa menunggu mimpi berikutnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience