442. Waktu Yang Ingin Dipertahankan

Romance Completed 594

BAB 442 — WAKTU YANG INGIN DIPERTAHANKAN

Malam telah turun di Shadowcresent.

Bulan merah menggantung di langit.

Di dalam istana, Fiona sudah tertidur.

Raizen duduk di sisi tempat tidur.

Tatapannya tenang.

Namun pikirannya tidak.

Ia bisa merasakan keberadaan Veyth di pegunungan.

Mereka masih di sana.

Masih mencoba.

Masih belajar.

Raizen mengetukkan jarinya perlahan pada sandaran kursi.

Mereka semakin memahami sistem pertahanan Shadowcresent.

Tidak cukup untuk memasuki istana.

Belum.

Namun mereka berkembang.

Dan itu mengganggunya.

Bukan karena Raizen takut kepada mereka.

Melainkan karena ia mulai merasa waktu yang dimilikinya bersama Fiona tidak akan berlangsung selamanya jika Veyth terus datang.

Ia menoleh.

Fiona tidur dengan tenang.

Wajahnya terlihat damai.

Raizen memperhatikannya beberapa saat.

Kemudian ia bangkit.

"Mufasa."

Tidak lama kemudian, Mufasa muncul di dalam ruangan.

Ia membungkuk.

"Yang Mulia."

Raizen tidak langsung berbicara.

Ia berjalan menuju jendela.

"Berapa lama mereka bisa bertahan di pegunungan?"

Mufasa memahami maksudnya.

"Kalau mereka terus belajar dengan kecepatan seperti sekarang..."

Ia berhenti sebentar.

"Mereka akan semakin dekat."

Raizen menatap bulan merah.

"Aku tahu."

Mufasa menunggu.

Raizen akhirnya berkata,

"Aku tidak ingin mereka datang lagi dalam waktu dekat."

Mufasa sedikit mengangkat alis.

"Anda ingin kami mengusir mereka?"

"Tidak."

Raizen menggeleng.

"Aku tidak ingin mereka terluka."

Mufasa diam.

Raizen melanjutkan,

"Aku hanya ingin mereka berhenti datang untuk sementara."

"Untuk berapa lama?"

Raizen tidak menjawab langsung.

Tatapannya kembali kepada Fiona.

"Selama mungkin."

Mufasa memahami sesuatu.

Bukan tentang pertahanan.

Bukan tentang perang.

Raizen hanya ingin waktu.

Waktu tanpa gangguan.

Waktu bersama Fiona.

"Kalau begitu..." Mufasa berkata perlahan, "kita tidak perlu menghancurkan mereka."

Raizen menoleh.

"Kita membuat mereka percaya bahwa melanjutkan perjalanan sekarang tidak akan memberi hasil."

Mufasa mulai berpikir.

"Kita bisa mengubah pola jalur."

"Bukan hanya mengubah jalur."

Raizen mendekat ke meja.

"Gunakan jaringan ruang yang sudah ada."

Mufasa terdiam.

Raizen menunjuk peta pegunungan.

"Jangan kirim mereka kembali ke tempat yang sama."

Ia menggeser jarinya ke bagian lain peta.

"Alihkan mereka keluar dari jaringan aktif."

Mufasa mulai memahami.

"Mereka akan tetap mengingat apa yang sudah mereka pelajari."

"Biarkan."

Raizen menatapnya.

"Aku tidak ingin menghapus kemajuan mereka."

Mufasa sedikit tersenyum.

"Jadi kita hanya membeli waktu."

"Ya."

Raizen kembali melihat Fiona.

"Dan membuat mereka cukup lelah sehingga mereka memilih berhenti untuk sementara."

Mufasa membungkuk.

"Saya mengerti."

Raizen menambahkan,

"Jangan serang mereka kecuali benar-benar diperlukan."

"Baik."

"Dan jangan gunakan pola yang sama."

Mufasa tersenyum.

"Kalau begitu mereka akan mendapat gunung yang berbeda besok."

Raizen mengangguk.

Mufasa berbalik hendak pergi.

Namun sebelum keluar, ia berhenti.

"Yang Mulia."

"Hm?"

"Anda tampaknya sangat ingin mempertahankan waktu ini."

Raizen terdiam.

Ia menatap Fiona.

Lalu berkata pelan,

"Aku hanya ingin menikmati beberapa hari lagi tanpa harus memikirkan apakah seseorang akan datang mengambilnya."

Mufasa tidak menjawab.

Ia hanya membungkuk dan meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup.

Raizen kembali duduk di sisi tempat tidur.

Fiona bergerak sedikit dalam tidurnya.

Tangannya mencari sesuatu.

Raizen segera menggenggamnya.

Fiona kembali tenang.

Raizen menatap tangan mereka.

Tidak ada senyum besar.

Tidak ada kata-kata panjang.

Hanya ketenangan.

"Aku ingin waktu."

Bisikannya hampir tidak terdengar.

Ia kemudian berbaring di sisi Fiona dan menarik selimut sedikit lebih tinggi.

Di luar sana...

Veyth masih berada di pegunungan.

Masih mencari.

Masih belajar.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Raizen tidak hanya mengandalkan pertahanan Shadowcresent.

Ia sudah membuat keputusan.

Ia akan memberi Veyth alasan untuk berhenti.

Setidaknya...

untuk sementara.

Dan sementara mereka berhenti mencari jalan menuju istana—

Raizen akan menggunakan waktu itu untuk tetap bersama Fiona.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience