288. Umpan Untuk Sang Pemilik Aura

Romance Series 382

BAB 288 — UMPAN UNTUK SANG PEMILIK AURA

Hutan terasa semakin dingin.

Fiona masih berada di dalam kandang sihir.

Ia duduk diam dengan kedua tangan menggenggam jeruji, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari tiga vampire yang berdiri di hadapannya.

Salah satu dari dua vampire tampan itu akhirnya berbicara.

Kaguya menatap Giselle.

“Giselle…”

Tatapannya kemudian berpindah kepada Fiona.

“Kenapa kau membawa gadis ini?”

Kaguya mengamati Fiona beberapa saat.

“Dia terlihat tidak berbahaya.”

Giselle tersenyum tipis.

“Memang.”

Fiona terdiam.

Ia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

Namun telinganya menangkap setiap kata.

Mufasa akhirnya ikut berbicara.

“Jadi kau membawanya sebagai umpan?”

Giselle mengangguk.

“Ya.”

Mufasa melihat Fiona sekali lagi.

“Dan kau yakin dia akan datang?”

Giselle tertawa kecil.

“Tidak perlu khawatir.”

Ia menyilangkan tangan.

“Tatapan pria itu selalu tertuju kepadanya.”

Giselle kemudian melihat Fiona.

“Dia tidak akan membiarkannya sendirian.”

Mufasa terdiam.

Kemudian sebuah senyum tipis muncul.

“Kalau begitu…”

Ia menoleh kepada Kaguya.

“Kita hanya perlu menunggu.”

Kaguya mengangguk perlahan.

“Benar.”

Tatapannya menjadi dingin.

“Untuk membalas kematian adik kita.”

Fiona membeku.

Adik?

Ia menelan ludah.

Kemudian perlahan bertanya,

“Siapa kalian…?”

Tidak ada jawaban langsung.

Fiona menatap wanita yang sejak awal ia kenal sebagai pemilik kios dessert.

Wajah wanita itu masih sama.

Wajah yang Fiona lihat di Pasar Cahaya.

Wajah yang membuatnya percaya bahwa ia hanya seorang penjual dessert biasa.

Fiona akhirnya bertanya,

“Siapa sebenarnya kau?”

Giselle tersenyum.

“Kau ingin tahu?”

Fiona mengangguk kecil.

Giselle melangkah mendekati kandang.

“Aku Giselle.”

Fiona menatapnya.

“Giselle…”

“Ya.”

Giselle kemudian melanjutkan,

“Akulah yang membawamu ke sini.”

Fiona menunduk sedikit.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

“Untuk apa?”

Giselle menjawab tanpa ragu.

“Untuk membuat pria yang kau cintai datang kepada kami.”

Fiona membeku.

“Darrien…?”

Giselle mengangguk.

“Benar.”

Ia tersenyum.

“Kami telah mencari pemilik aura itu selama berbulan-bulan.”

Fiona tidak mengatakan apa-apa.

Giselle melanjutkan.

“Dan ternyata…”

Ia melirik Fiona.

“…cara termudah untuk memancingnya adalah melalui dirimu.”

Fiona menggenggam jeruji lebih erat.

“Kenapa Darrien?”

Giselle tidak langsung menjawab.

Sebaliknya—

ia perlahan mengubah penampilannya.

Aura yang selama ini ia sembunyikan mulai terbuka.

Wajahnya berubah.

Rambutnya berubah.

Mata manusianya berubah menjadi merah.

Tekanan vampire memenuhi udara.

Fiona menahan napas.

Wanita yang berada di hadapannya sekarang—

sama sekali berbeda dari sosok yang ia kenal di pasar.

“Seperti yang kukatakan…”

Giselle tersenyum.

“Aku adalah Giselle.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Yang menipumu dan membawamu ke sini.”

Kemudian ia menunjuk Kaguya.

“Dan dia adalah Kaguya.”

Fiona menatap vampire tersebut.

Giselle kemudian menunjuk sosok di sebelahnya.

“Yang di sana adalah Mufasa.”

Fiona masih diam.

Kemudian Kaguya berkata,

“Kau belum memahami alasan sebenarnya.”

Fiona perlahan mengangkat wajah.

Kaguya menatapnya.

“Kami kehilangan seseorang.”

Fiona merasa dadanya semakin sesak.

“Siapa?”

Kaguya menjawab satu nama.

“Koga.”

Fiona membeku.

Seluruh tubuhnya terasa kaku.

“…Koga?”

Matanya melebar.

Ingatan tentang peristiwa sebelumnya muncul samar-samar.

Cahaya.

Pertempuran.

Tubuhnya yang tidak sadar.

Dan kekuatan yang bahkan tidak ia pahami.

Fiona tidak mampu berkata apa-apa.

Giselle memperhatikan reaksinya.

“Kau mengenalnya.”

Fiona menunduk.

“Aku…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Karena bahkan dirinya sendiri tidak benar-benar mengingat apa yang terjadi.

Kaguya memperhatikan wajah Fiona.

“Kami tidak membawamu ke sini untuk membunuhmu.”

Fiona mengangkat kepala.

“Lalu…?”

“Kami menunggu.”

Fiona langsung tahu jawabannya.

“Darrien…”

Kaguya tersenyum tipis.

“Ya.”

***

Sementara itu—

jauh dari tempat Fiona berada—

rombongan Darrien terus bergerak melewati hutan.

Jejak sihir yang mereka temukan sangat tipis.

Hampir menghilang.

Namun masih cukup untuk diikuti.

Elyon beberapa kali berhenti untuk memeriksa arah.

“Ke sini.”

Darrien langsung bergerak.

Tidak banyak bicara.

Langkahnya cepat.

Namun tetap terkendali.

Ia tidak berlari tanpa arah.

Ia mengikuti jejak.

Mengamati tanah.

Pepohonan.

Sisa energi.

Setiap perubahan kecil.

Kevin berjalan tidak jauh darinya.

Ia memperhatikan Darrien dalam diam.

Darrien memang cemas.

Sangat cemas.

Namun napasnya tetap teratur.

Tarik.

Buang.

Tarik.

Buang.

Latihan berbulan-bulan itu akhirnya menunjukkan hasilnya.

Ace dan Rowan mengikuti dari belakang.

Elarion juga ikut.

Bahkan beberapa penjaga kerajaan bergerak bersama mereka.

Tidak ada yang berbicara terlalu banyak.

Mereka hanya terus mengikuti jejak yang semakin samar.

***

Hutan semakin dalam.

Jalan semakin sulit.

Pepohonan semakin rapat.

Darrien berhenti.

Elyon mendekat.

“Masih ada?”

Darrien memejamkan mata.

Ia merasakan udara di sekitarnya.

Beberapa detik.

Kemudian membuka mata.

“Masih.”

Elyon mengangguk.

“Kita hampir sampai.”

Darrien kembali berjalan.

Namun kali ini—

langkahnya sedikit lebih cepat.

Ia merasakan sesuatu.

Bukan hanya jejak sihir.

Ada sesuatu yang lain.

Sangat samar.

Seperti keberadaan seseorang yang berada jauh di depan.

“Fiona…”

Suaranya hampir seperti bisikan.

***

Beberapa menit kemudian—

pepohonan di depan mulai terbuka.

Cahaya bulan terlihat di antara ranting.

Darrien mengangkat tangan.

Semua orang berhenti.

Tidak ada suara.

Elyon perlahan melihat ke depan.

Kemudian—

matanya membesar.

Di sebuah area terbuka—

sebuah kandang sihir berdiri di tengah hutan.

Dan di dalamnya—

Fiona.

Wajahnya pucat.

Matanya berkaca-kaca.

Ia menatap mereka dari kejauhan.

Untuk sesaat—

Fiona hampir menangis karena lega.

“Darrien…”

Suaranya sangat kecil.

Namun Darrien mendengarnya.

Tubuhnya menegang.

Tatapannya langsung tertuju kepada Fiona.

Ia menemukannya.

Benar-benar menemukannya.

Namun di antara mereka—

berdiri tiga vampire.

Kaguya.

Mufasa.

Dan Giselle.

Giselle perlahan menoleh.

Tatapannya bertemu dengan Darrien.

Senyumnya muncul.

“Seperti yang kukatakan…”

Ia tersenyum tipis.

“Dia akan datang.”

Darrien tidak menjawab.

Ia hanya menatap Fiona.

Fiona menatap balik.

Air mata akhirnya mengalir di sudut matanya.

Namun tidak ada yang bergerak.

Belum.

Malam itu—

dua kelompok akhirnya berdiri saling berhadapan.

Dan untuk beberapa detik—

hutan menjadi benar-benar sunyi.

Tidak ada serangan.

Tidak ada mantra.

Tidak ada senjata yang diayunkan.

Hanya tatapan.

Dan sebuah pertemuan yang selama berbulan-bulan telah ditunggu oleh pihak vampire—

akhirnya terjadi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience