Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 437 — PESTA DI PEGUNUNGAN
Pegunungan di luar wilayah Shadowcresent kembali sunyi.
Setidaknya...
begitulah seharusnya.
Di antara pepohonan tua dan tebing batu yang diselimuti kabut tipis, beberapa sosok bergerak perlahan.
Darrien berada di paling depan.
Di belakangnya, Elyon, Elarion, Kevin, Rowan, dan Ace mengikuti dengan hati-hati.
Mereka telah mempersiapkan perjalanan ini jauh lebih matang daripada sebelumnya.
Tidak ada lagi teleportasi sembarangan.
Tidak ada lagi mengandalkan satu titik.
Mereka membawa rune penanda, ramuan pemulih, alat pendeteksi sihir, dan beberapa formula teleportasi yang telah diuji berulang kali.
Ace menatap gunung di depan mereka.
"Jadi..."
Ia menarik napas.
"Kita benar-benar kembali ke tempat yang terakhir kali mengirim kita pulang seperti sampah?"
Kevin meliriknya.
"Secara teknis, ya."
Ace mengangguk pelan.
"Bagus."
Ia mengangkat ibu jarinya.
"Setidaknya kita konsisten."
Elarion menghela napas.
"Jangan bercanda."
"Aku sedang menjaga moral kelompok."
"Kau justru menurunkannya."
"Berarti berhasil."
Rowan menahan tawa.
Darrien hanya terus menatap ke depan.
Tidak seperti yang lain, pikirannya hanya memiliki satu tujuan.
Fiona.
Ia mengepalkan tangannya perlahan.
"Ayo."
Mereka mulai bergerak.
Beberapa menit pertama berjalan terlalu lancar.
Tidak ada serangan.
Tidak ada perubahan medan.
Tidak ada gangguan sihir.
Bahkan rune pendeteksi Elyon menunjukkan jalur yang relatif stabil.
Elyon menyipitkan mata.
"Terlalu mudah."
Darrien berhenti.
"Apa?"
"Tempat ini."
Elyon menunjuk ke depan.
"Sejak kita memasuki area ini, aku belum menemukan satu pun anomali besar."
Ace langsung menoleh ke kiri dan kanan.
"Jangan bilang begitu."
"Kenapa?"
"Biasanya setelah seseorang mengatakan 'terlalu mudah'..."
Ace menunjuk ke depan.
"...sesuatu yang sangat menyebalkan muncul."
Hening.
Lalu—
*klik.*
Ace membeku.
"...Aku benci diriku sendiri."
Tanah di bawah kaki mereka menyala.
Rune kuno muncul satu demi satu di antara pepohonan.
Kevin langsung berteriak.
"JANGAN BERGERAK!"
Terlambat.
*WHOOSH!*
Kabut putih meledak dari tanah.
Dalam sekejap, jalur yang mereka lalui berubah.
Pohon-pohon bergeser.
Batu-batu besar bergerak.
Jalur gunung yang sebelumnya lurus berubah menjadi tiga percabangan.
Darrien menatap sekeliling.
"Ini bukan teleportasi."
Elyon mengangguk cepat.
"Manipulasi medan."
Rowan melihat rune yang muncul di batu.
"Dan bukan hanya ilusi."
Tiba-tiba—
*BOOM!*
Sebuah batu besar jatuh dari atas.
Mereka semua melompat ke samping.
Ace berguling dua kali sebelum berdiri.
"OKE!"
Ia menunjuk ke gunung.
"INI SUDAH PERSONAL!"
Dari kejauhan...
di atas menara pengawasan kecil yang tersembunyi di antara tebing—
Mufasa berdiri dengan tenang.
Di sekelilingnya terdapat beberapa vampire penjaga dan penyihir vampire.
Salah satu penjaga melihat melalui alat pendeteksi sihir.
"Mereka masuk ke jalur kedua."
Mufasa mengangguk.
"Bagus."
Penyihir di sampingnya tersenyum kecil.
"Perangkap pertama aktif."
"Perangkap kedua?"
"Siap."
"Ketiga?"
"Siap."
Mufasa melihat peta.
"Bagaimana dengan jalur gunung bagian timur?"
"Sudah dipindahkan."
"Dan jalur keluar?"
"Sudah ditutup."
Mufasa tersenyum tipis.
"Bagus."
Salah satu vampire muda terlihat sedikit ragu.
"Apakah kita harus menyerang mereka?"
Mufasa menggeleng.
"Tidak."
Ia menunjuk peta.
"Kita hanya perlu membuat mereka tidak pernah tahu apakah mereka sedang bergerak maju..."
Ia memindahkan sebuah penanda.
"...atau sebenarnya berjalan berputar."
---
Sementara itu...
jauh di dalam Shadowcresent...
suasana yang terjadi benar-benar berbeda.
Di aula makan kerajaan, lilin-lilin hitam menyala lembut.
Fiona duduk di sisi meja panjang.
Di depannya terdapat berbagai hidangan yang disiapkan khusus untuknya.
Raizen duduk di sebelahnya.
Fiona mengambil sepotong makanan.
Ia mencicipinya.
Kemudian matanya langsung berbinar.
"Ini enak."
Raizen tersenyum.
"Aku tahu."
Fiona menatapnya.
"Kau bahkan belum mencobanya."
"Aku tidak perlu."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah melihat wajahmu."
Fiona terdiam.
Kemudian tertawa kecil.
"Jadi sekarang kau menilai makanan dari ekspresiku?"
"Kadang."
"Kadang?"
"Sering."
Fiona menggeleng sambil tersenyum.
Raizen mengambil piring kecil di dekatnya dan mendorongnya perlahan ke arah Fiona.
"Yang ini juga."
Fiona melihatnya.
"Apakah ini dessert?"
"Ya."
"Setelah makan malam?"
"Ya."
"Kau benar-benar ingin membuatku tidak bisa bergerak setelah makan."
Raizen menatapnya tenang.
"Aku bisa membawamu."
Fiona langsung menatapnya.
"...Aku bisa berjalan sendiri."
"Aku tahu."
"Jadi jangan biasakan."
Raizen hanya tersenyum kecil.
Fiona kembali makan.
Suasana di antara mereka begitu tenang.
Tidak ada pembicaraan tentang Veyth.
Tidak ada pembicaraan tentang pertempuran.
Tidak ada pembicaraan tentang pertahanan Shadowcresent.
Hanya makan malam.
Hanya dua orang yang menikmati malam mereka.
---
Kembali ke gunung.
"JALAN INI SUDAH KITA LEWATI!"
Ace berteriak.
Kevin melihat tanda yang mereka buat sebelumnya.
"Benar."
Rowan menatap peta.
"Secara logika kita seharusnya berada di sisi utara."
Elyon menutup matanya.
Ia merasakan aliran sihir di udara.
"Tidak."
Semua menoleh.
"Kita berada di tempat yang sama."
Darrien menatap pepohonan.
"Mustahil."
Elyon membuka matanya.
"Itulah masalahnya."
Dari atas pohon terdengar suara burung.
Ace mendongak.
"Setidaknya burungnya nyata."
Seekor burung hitam menatapnya.
Kemudian terbang pergi.
Ace menunjuknya.
"...Aku mulai curiga pada semua makhluk hidup di sini."
Di menara pengawasan—
salah satu vampire penjaga menahan tawa.
"Dia melihat burung kita."
Mufasa mengangkat alis.
"Biarkan."
"Burungnya juga bagian dari perangkap?"
"Yang itu tidak."
"Oh."
Mufasa kembali melihat peta.
"Burung itu memang tinggal di sana."
Hening.
Salah satu penyihir vampire tertawa kecil.
Mufasa menghela napas.
"Fokus."
---
Di aula makan...
Fiona sudah menghabiskan hampir seluruh makan malamnya.
Ia bersandar sedikit ke kursinya.
"Kenapa makanan di sini selalu enak?"
Raizen menatapnya.
"Karena kau selalu lapar."
Fiona langsung memukul lengannya pelan.
"Hei!"
Raizen tertawa kecil.
Fiona akhirnya ikut tertawa.
Untuk beberapa saat...
tidak ada kerajaan.
Tidak ada perang.
Tidak ada masa lalu.
Tidak ada Veyth.
Hanya malam yang tenang.
---
Di gunung...
*BOOM!*
Darrien, Elyon, Elarion, Kevin, Rowan, dan Ace kembali terlempar ke jalur berbeda.
Ace jatuh tepat di semak-semak.
"AKU BAIK-BAIK SAJA!"
Kevin menatapnya.
"Kami belum bertanya."
"Aku hanya ingin memberi informasi."
Elarion membantu Rowan berdiri.
"Berapa banyak perangkap yang sudah aktif?"
Elyon menghitung cepat.
"Enam."
Ace keluar dari semak dengan daun menempel di rambut.
"ENAM?!"
Darrien menatap gunung.
Mata merahnya menyipit.
Mereka tidak sedang melawan pasukan.
Mereka sedang melawan...
gunung.
Dan gunung itu tampaknya memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri.
Di atas menara, Mufasa menatap mereka.
"Perangkap berikutnya."
Para penyihir vampire mengangguk.
Rune baru mulai menyala.
Mufasa tersenyum.
"Mulai."
Di bawah...
Ace melihat cahaya merah muncul di tanah.
Ia menelan ludah.
"Teman-teman..."
Semua menoleh.
"Kenapa aku merasa..."
Ace menunjuk rune tersebut.
"...gunung ini sedang menertawakan kita?"
Darrien menghela napas.
"Karena mungkin memang begitu."
Dan tepat saat mereka bersiap menghadapi perangkap berikutnya—
jauh di dalam istana Shadowcresent...
Fiona mengambil dessert terakhir dari piringnya.
Raizen hanya memperhatikannya dengan senyum kecil.
Malam mereka tetap damai.
Sementara di luar...
Veyth sedang menjalani—
pesta jebakan gunung terbesar yang pernah disiapkan Shadowcresent.
