258. Ketakutan Kehilanganmu

Romance Series 382

BAB 258 — KETAKUTAN KEHILANGANMU

Latihan akhirnya berakhir.

Sisa-sisa energi magis perlahan menghilang dari arena.

Penghalang yang sebelumnya menutup seluruh area akhirnya runtuh, membiarkan cahaya pagi kembali menyinari lapangan yang telah berubah menjadi hampir seperti medan perang.

Beberapa magical dummy telah hancur.

Tanah dipenuhi retakan.

Dan di tengah semua itu—

Darrien hanya berdiri diam.

Tatapannya tertuju pada satu orang.

Fiona.

Ia sudah berada di sana.

Benar-benar di sana.

Tidak terluka.

Tidak terjatuh.

Tidak menghilang.

Namun Darrien masih belum bergerak.

Fiona berjalan mendekatinya.

“Darrien?”

Tidak ada jawaban.

Fiona berhenti di hadapannya.

Ia memperhatikan wajah Darrien.

Ekspresinya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa saat sebelumnya.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Tangannya.

Kedua tangannya masih sedikit gemetar.

Fiona langsung menyadarinya.

“Kau terluka?”

Darrien menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu kenapa tanganmu gemetar?”

Darrien menunduk.

Ia melihat tangannya sendiri.

Ia mencoba mengepalkannya.

Getaran itu tidak berhenti.

Bayangan tadi masih tertinggal di pikirannya.

Fiona.

Terjatuh.

Tidak bergerak.

Dan dirinya yang hampir kembali kehilangan kendali.

Padahal—

itu hanya ilusi.

Ia tahu itu.

Namun rasa takut yang muncul saat melihatnya tetap terasa nyata.

Fiona menyentuh lengannya.

“Darrien.”

Darrien mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

“Aku di sini.”

Dua kata sederhana itu membuat Darrien terdiam lebih lama.

Ia memandang wajah Fiona.

Seolah-olah untuk kedua kalinya hari itu—

ia sedang memastikan bahwa orang di hadapannya benar-benar nyata.

Fiona tersenyum kecil.

“Aku baik-baik saja.”

Darrien masih tidak menjawab.

Kemudian—

tanpa peringatan—

ia bergerak.

Fiona terkejut ketika Darrien langsung menariknya ke dalam pelukan.

Erat.

Sangat erat.

Kedua lengannya melingkari tubuh Fiona seolah-olah ia takut jika melepaskannya, Fiona akan kembali menghilang di depan matanya.

Fiona terdiam beberapa detik.

Kemudian perlahan membalas pelukannya.

“Darrien…”

“Aku tahu.”

Suaranya rendah.

Sedikit bergetar.

“Aku tahu itu hanya ilusi.”

Fiona mengusap punggungnya.

“Tapi kau tetap takut.”

Darrien memejamkan mata.

“Ya.”

Ia menarik napas panjang.

“Terlalu takut.”

Fiona tidak menjawab.

Ia hanya membiarkannya memeluknya.

Beberapa detik kemudian—

Darrien tiba-tiba mengangkatnya.

Fiona terkejut.

“Darrien?”

“Maaf.”

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku ingin kembali ke kamar.”

“Dengan menggendongku?”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Fiona hampir tertawa.

Namun melihat ekspresinya—

ia akhirnya tidak berkata apa-apa.

“Baiklah.”

Dalam sekejap—

Darrien menggunakan kecepatannya.

Tubuh mereka menghilang dari lapangan.

***

Ace yang melihat kejadian itu mengangkat alis.

“Dia membawanya pergi.”

Rowan menahan tawa.

“Dengan sangat cepat.”

Ace tersenyum.

“Sepertinya ada seseorang yang sangat membutuhkan waktu berdua.”

Rowan terkekeh.

Elarion hanya menghela napas.

“Biarkan mereka.”

Ace menoleh.

“Kau tidak ikut?”

Elarion meliriknya datar.

“Untuk apa?”

Rowan tertawa.

“Benar juga.”

Mereka bertiga tidak mengatakan apa-apa lagi.

Tidak ada yang mengikuti.

Untuk kali ini—

mereka tahu Darrien dan Fiona membutuhkan ruang mereka sendiri.

***

Pintu kamar Darrien tertutup.

Sunyi.

Begitu berada di dalam—

Darrien menurunkan Fiona dengan hati-hati.

Namun tangannya masih belum benar-benar melepaskannya.

Fiona berdiri di hadapannya.

Darrien masih memegang kedua lengannya.

Ia menatap Fiona.

Lama.

Fiona membiarkannya.

“Darrien…”

“Hm?”

“Sekarang kita sendirian.”

Darrien mengangguk.

“Aku tahu.”

“Jadi…”

Fiona menyentuh salah satu tangannya.

“…kau bisa bicara.”

Darrien terdiam.

Ia menarik napas.

Kemudian perlahan duduk di tepi tempat tidur.

Fiona duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Akhirnya Darrien berkata,

“Ketika aku melihatmu jatuh…”

Ia berhenti.

Tangannya kembali mengepal.

“Aku tahu ada sesuatu yang salah.”

Fiona menoleh.

“Tapi saat itu…”

Darrien menatap lantai.

“Aku tidak peduli.”

Fiona diam.

“Aku hanya ingin menghancurkan apa pun yang menyakitimu.”

Ia menghela napas.

“Dan aku hampir kehilangan diriku sendiri lagi.”

Fiona menggenggam tangannya.

“Tapi kau berhenti.”

Darrien menoleh.

“Aku hampir tidak bisa.”

“Tapi kau tetap melakukannya.”

Darrien terdiam.

Fiona tersenyum lembut.

“Itu yang penting.”

Darrien menatap tangan mereka.

“Aku tidak ingin terus seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Setiap kali sesuatu terjadi padamu…”

Ia menghela napas.

“…aku kehilangan kendali.”

Fiona mengusap punggung tangannya.

“Kalau begitu, jangan kehilangan dirimu.”

Darrien tersenyum tipis.

“Kevin mengatakan hal yang sama.”

Fiona tertawa kecil.

“Tentu saja.”

Darrien ikut tertawa pelan.

Namun tawanya segera menghilang.

Ia kembali menatap Fiona.

“Aku benar-benar takut kehilanganmu.”

Fiona tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap matanya.

Kemudian berkata,

“Aku masih di sini.”

Darrien mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku tidak terluka.”

“Aku tahu.”

“Dan kau berhasil mengendalikan dirimu.”

Darrien tersenyum kecil.

“Ya.”

Fiona mendekat sedikit.

“Jadi jangan terus menyalahkan dirimu.”

Darrien menatapnya.

Kemudian—

perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Fiona.

Fiona tidak menjauh.

Jari Darrien menyentuh wajahnya dengan sangat lembut.

Seolah-olah ia masih ingin memastikan bahwa Fiona benar-benar nyata.

Fiona tersenyum kecil.

“Masih memeriksaku?”

Darrien mengangguk.

“Sedikit.”

Fiona tertawa pelan.

“Kau bisa berhenti.”

“Aku belum mau.”

Fiona menatapnya.

“Kenapa?”

Darrien tidak menjawab.

Tatapannya turun sejenak.

Kemudian kembali ke mata Fiona.

Ada sesuatu dalam tatapan itu.

Kerinduan.

Kelegaan.

Dan sisa ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.

Darrien mendekat perlahan.

Fiona tidak mundur.

Jarak di antara mereka semakin dekat.

Kemudian—

bibir mereka bertemu.

Awalnya lembut.

Hampir seperti sebuah pertanyaan.

Namun ketika Fiona membalasnya—

Darrien menutup matanya.

Kiss itu menjadi lebih dalam.

Bukan karena terburu-buru.

Bukan karena nafsu.

Tetapi karena terlalu banyak perasaan yang sejak tadi tidak mampu ia ucapkan.

Kerinduan yang tertahan.

Ketakutan yang baru saja ia rasakan.

Dan rasa lega karena Fiona masih berada di dalam pelukannya.

Tangannya kembali melingkari pinggang Fiona.

Fiona meletakkan kedua tangannya di bahunya.

Mereka berpisah sebentar.

Darrien menarik napas.

Namun tatapan mereka masih bertemu.

Tidak ada kata-kata.

Kemudian Darrien kembali mendekat.

Kali ini—

ciuman itu terasa lebih tenang.

Lebih lama.

Seolah-olah mereka tidak ingin terburu-buru kembali ke dunia luar.

Ketika akhirnya mereka berpisah—

dahi Darrien bersandar pada dahi Fiona.

Keduanya terdiam.

Darrien mengembuskan napas perlahan.

“Sekarang…”

Fiona menatapnya.

“Apa?”

“Aku benar-benar yakin kau ada di sini.”

Fiona tersenyum.

“Aku sudah bilang.”

Darrien tersenyum kecil.

“Kalau begitu…”

Ia menarik Fiona kembali ke dalam pelukannya.

“…biarkan aku seperti ini sebentar.”

Fiona membalas pelukannya.

“Baik.”

Mereka tetap seperti itu.

Tidak ada suara.

Tidak ada latihan.

Tidak ada Kevin.

Tidak ada kerajaan.

Hanya mereka berdua.

Dan untuk beberapa saat—

Darrien akhirnya membiarkan dirinya merasa aman.

***

Di luar kamar—

Ace dan Rowan berjalan melewati lorong.

Mereka berhenti ketika melihat pintu kamar Darrien.

Rowan tersenyum.

“Masih belum keluar.”

Ace mengangguk.

“Sepertinya tidak akan keluar dalam waktu dekat.”

Dari belakang—

Elarion menghela napas.

“Kalian berdua.”

Ace menoleh.

“Apa?”

“Berhenti mengganggu.”

Rowan tersenyum lebar.

“Kami tidak melakukan apa-apa.”

Elarion menatap mereka.

“Kalian sedang membicarakan mereka.”

Ace dan Rowan saling berpandangan.

Kemudian tertawa kecil.

“Baiklah.”

Mereka pun melanjutkan langkah.

***

Di dalam kamar—

Darrien masih memeluk Fiona.

Untuk pertama kalinya sejak latihan dimulai—

kedua tangannya tidak lagi gemetar.

Ia telah melihat ketakutannya.

Menghadapinya.

Dan akhirnya—

belajar untuk mengendalikannya.

Bukan dengan berhenti mencintai.

Bukan dengan berhenti takut.

Tetapi dengan memahami bahwa—

melindungi seseorang bukan berarti harus kehilangan dirinya sendiri.

Dan selama Fiona masih berada di sisinya—

Darrien tahu bahwa ia akan terus belajar.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience