179. Setelah Cahaya

Romance Series 382

BAB 179
SETELAH CAHAYA

Cahaya akhirnya benar-benar menghilang.

Lembah kembali terlihat.

Namun—

tidak ada lagi suara pertempuran.

Tidak ada suara para vampire.

Tidak ada Musaka.

Tidak ada Koga.

Hanya tanah yang rusak dan sisa-sisa energi sihir yang masih terasa di udara.

***

Edward, Gloria, Kevin, Rowan, dan Ace akhirnya berhasil mendekati area tersebut.

Para penjaga Veyth mengikuti dari belakang.

Gloria langsung mencari dengan matanya.

“Darrien…”

Kemudian ia melihatnya.

Darrien sedang berlutut di tanah.

Fiona berada di dalam pelukannya.

Darrien memegang tubuh Fiona dengan hati-hati.

Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

“Fiona…”

Ia menyentuh pipinya.

Tidak ada jawaban.

Fiona masih tertidur.

Benar-benar tertidur.

Seolah-olah apa yang baru saja terjadi tidak pernah ada.

Darrien menghela napas lega ketika merasakan napasnya.

“Dia masih bernapas.”

Gloria menutup mulutnya.

Air mata hampir kembali jatuh.

Bukan hanya karena melihat Darrien masih hidup—

tetapi karena ia melihat bagaimana putranya memegang gadis itu.

Edward berdiri di sampingnya.

Untuk sementara—

tidak ada yang mengganggu.

***

Kevin berjalan mendekat.

“Bagaimana keadaannya?”

Darrien menggeleng.

“Dia belum bangun.”

Kevin melihat Fiona.

Kemudian melihat Darrien.

“Setelah semua itu…”

Ia menghela napas.

“…dia masih bisa tidur.”

Darrien menatap Fiona.

“Sepertinya begitu.”

Elarion berjalan mendekat.

Namun langkahnya berhenti.

Ia masih memikirkan apa yang terjadi.

Cahaya tadi.

Bukan sekadar Light Magic.

Bahkan setelah semuanya berakhir—

sisa energinya masih terasa.

Elyon berdiri di dekatnya.

Tatapannya tidak pernah lepas dari Fiona.

“Aku belum pernah merasakan sesuatu seperti itu.”

Elarion mengangguk.

“Aku juga.”

Elyon mengerutkan kening.

“Bahkan sebagai Light Elf…”

Ia berhenti.

“Tidak ada sihir yang pernah kurasakan sebersih itu.”

Elarion menatap Fiona.

“Dan dia bahkan tidak sadar.”

Elyon mengangguk.

“Itu yang paling menggangguku.”

***

Edward memperhatikan mereka berdua.

Kemudian berkata,

“Kalian semua sudah bertarung cukup lama.”

Ia melihat keadaan lembah.

“Dan jelas kalian membutuhkan tempat untuk beristirahat.”

Elarion menoleh.

“Yang Mulia?”

“Datanglah ke Veyth.”

Edward berkata tenang.

“Gunakan istana untuk beristirahat.”

Elyon sedikit terkejut.

“Di istana?”

Edward mengangguk.

“Kalian baru saja menghadapi serangan yang cukup serius.”

Ia menatap Darrien.

“Dan putraku juga membutuhkan tempat untuk memulihkan diri.”

Darrien terdiam.

Kata itu—

masih terasa asing.

**Putraku.**

Namun kali ini ia tidak membantah.

Ia hanya menatap Fiona yang masih berada dalam pelukannya.

Gloria berjalan mendekat.

“Bawa dia juga.”

Darrien mengangguk.

“Tentu.”

***

Darrien kemudian berdiri.

Ia mengangkat Fiona lebih baik dalam pelukannya.

Fiona bergerak sedikit.

Namun tidak bangun.

Kepalanya justru bersandar lebih nyaman di dada Darrien.

Kevin tertawa kecil.

“Dia benar-benar tidur.”

Darrien menghela napas.

“Biarkan.”

Elarion melihat mereka.

Kemudian menatap Elyon.

“Kita sebaiknya pergi.”

Elyon masih melihat Fiona.

Ada terlalu banyak pertanyaan di kepalanya.

Namun ia tahu—

sekarang bukan waktunya bertanya.

Ia hanya mengangguk.

***

Rombongan akhirnya meninggalkan lembah.

Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi pada Musaka dan Koga.

Tidak ada jejak yang cukup jelas untuk menjelaskan ke mana mereka pergi.

Namun satu hal sudah pasti.

Pertempuran telah berakhir.

Dan gadis yang menyebabkan seluruh lembah dipenuhi cahaya—

sekarang hanya sedang tidur dengan tenang di dalam pelukan Darrien.

Seolah-olah—

dia hanya kelelahan setelah latihan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience