Series
94
BAB 64
KEKUATAN DAN SESEORANG YANG INGIN KUBAWA PULANG
Malam itu, Darrien tidak bisa tidur.
Api unggun di belakangnya telah mengecil.
Elarion sudah tertidur.
Kevin juga tidak lagi berbicara.
Ace masih berjaga di dekat kereta.
Namun Darrien tetap duduk sendirian.
Ia menatap langit.
Bintang-bintang terlihat jelas.
Dulu…
ia tidak pernah memikirkan tentang kekuatan.
Baginya, hidup hanya tentang perjalanan.
Tentang hutan.
Tentang latihan sederhana bersama Fiona.
Tentang makanan.
Tentang siapa yang paling cepat sampai ke danau.
Tentang hal-hal kecil.
Namun semuanya berubah ketika Fiona dibawa pergi.
Darrien menatap kedua tangannya.
Tiga minggu.
Hanya tiga minggu.
Tetapi ia merasa telah hidup jauh lebih lama dari itu.
Ia telah belajar bagaimana menghancurkan penghalang.
Bagaimana mengendalikan sihir.
Bagaimana bertahan.
Bagaimana menyerang.
Bagaimana menggunakan kekuatan tanpa membiarkan kekuatan itu menguasainya.
Namun semakin banyak yang ia pelajari…
semakin ia menginginkan lebih.
Bukan karena ia ingin menjadi yang terkuat.
Bukan karena ia ingin dihormati.
Ia ingin menjadi cukup kuat…
agar tidak pernah lagi berdiri tanpa daya ketika seseorang mengambil orang yang penting baginya.
Darrien mengepalkan tangannya.
“Kalau aku lebih kuat…”
Ia menunduk.
“Mungkin aku bisa menghentikan mereka.”
Ia teringat hari ketika Fiona dibawa pergi.
Ia masih bisa melihat wajah gadis itu.
Masih bisa mendengar suaranya.
Masih bisa merasakan tangannya yang sempat menggenggam lengannya.
Darrien memejamkan mata.
“Aku tidak ingin mengalaminya lagi.”
Angin malam bertiup.
Ia menarik napas panjang.
Namun kemudian sebuah pertanyaan muncul dalam pikirannya.
Mengapa?
Mengapa kehilangan Fiona terasa jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah ia alami?
Darrien mencoba mencari jawabannya.
Mereka telah bersama begitu lama.
Fiona adalah orang pertama yang selalu ada ketika ia bangun.
Orang yang selalu menunggunya setelah latihan.
Orang yang akan tertawa ketika ia gagal.
Orang yang akan memberinya semangat ketika ia ingin menyerah.
Orang yang bahkan memberikan bunga kecil hanya karena ingin membuatnya tersenyum.
Darrien menyentuh sakunya.
Bunga itu masih ada.
Sudah sedikit layu.
Namun ia tidak pernah membuangnya.
Ia tersenyum kecil.
“Bodoh…”
Ia tidak tahu apakah ia sedang menyebut dirinya sendiri atau Fiona.
Mungkin keduanya.
Darrien menatap bunga itu.
“Aku ingin kau kembali.”
Suaranya sangat pelan.
“Bukan karena aku tidak suka sendirian.”
Ia terdiam.
“Karena…”
Darrien tidak menemukan kata yang tepat.
Ia akhirnya hanya menghela napas.
“Karena aku ingin kau ada di sisiku.”
Itulah satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan.
Ia ingin Fiona pulang.
Ingin mendengar suaranya lagi.
Ingin melihat senyumnya.
Ingin duduk bersamanya di tepi danau.
Ingin bertengkar tentang hal-hal kecil.
Ingin melihatnya memberikan bunga lain yang tidak berguna.
Darrien tersenyum.
Kemudian senyum itu perlahan menghilang.
“Dan aku ingin menjadi cukup kuat untuk memastikan tidak ada yang bisa mengambilmu dariku lagi.”
Ia menatap langit.
Untuk pertama kalinya, Darrien menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
Kekuatan bukan lagi sekadar sesuatu yang ia pelajari.
Kekuatan telah menjadi keinginannya.
Namun bukan untuk dirinya sendiri.
Untuk Fiona.
Untuk orang yang ingin ia lindungi.
Untuk seseorang yang bahkan mungkin belum memahami betapa pentingnya dirinya bagi Darrien.
Darrien menutup mata.
“Fiona…”
Ia berbisik.
“Aku akan datang.”
Bukan sebagai seorang pahlawan.
Bukan sebagai seorang bangsawan.
Bukan sebagai pewaris kerajaan yang bahkan belum ia ketahui.
Hanya sebagai Darrien.
Anak laki-laki yang pernah berjanji bahwa ia tidak akan pergi.
Dan kali ini…
ia berniat menepati janji itu.
***
Beberapa langkah dari sana, Ace berdiri dalam diam.
Ia tidak sengaja mendengar sebagian kata-kata Darrien.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun ketika melihat anak itu akhirnya berbaring untuk tidur…
Ace menatap langit.
“Yang Mulia…”
Suaranya sangat pelan.
“Semoga suatu hari nanti Anda memahami siapa diri Anda sebenarnya.”
Kemudian ia kembali berjaga.
Sementara api unggun perlahan padam.
Dan perjalanan menuju Ardika terus berlanjut.
Share this novel