41. Dua Bayangan Baru

Romance Series 94

BAB 41
DUA BAYANGAN BARU

Beberapa minggu setelah percakapan di Istana Veyth, kehidupan di rumah kecil Elarion tetap berjalan seperti biasa.

Darrien dan Fiona tidak mengetahui bahwa dua orang baru telah tiba di wilayah sekitar mereka.

Ace tetap menjaga jarak.

Kevin juga.

Mereka tidak mendekati rumah secara langsung.

Belum.

Dari sebuah bukit kecil di balik pepohonan, Kevin memperhatikan latihan Darrien.

Anak itu sedang berdiri di tengah lapangan.

Hawa dingin mengelilingi tubuhnya.

Namun kali ini, kabut gelap tersebut jauh lebih stabil.

Kevin memperhatikan dengan serius.

“Dia berkembang cepat.”

Ace berdiri di sampingnya.

“Elarion yang mengajarinya.”

Kevin mengangguk.

“Dia guru yang bagus.”

Kemudian Kevin menyipitkan mata.

“Tapi ada sesuatu yang belum diajarkan.”

“Apa?”

“Pengendalian tingkat tinggi.”

Ace menoleh.

“Seberapa berbahaya?”

“Kalau kekuatannya terus berkembang tanpa pengendalian…”

Kevin berhenti.

“…cukup untuk melukai dirinya sendiri.”

Ace terdiam.

“Karena itu kau dikirim.”

“Ya.”

Kevin kembali melihat Darrien.

Anak itu mengangkat tangannya.

Kabut hitam muncul.

Kemudian menghilang.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada kehilangan kendali.

Kevin tersenyum tipis.

“Setidaknya dia memiliki dasar yang baik.”

Di bawah bukit, Fiona sedang berlatih membuat penghalang.

Cahaya keemasan muncul di depannya.

Darrien menatapnya.

“Lebih kuat.”

“Aku sudah mencoba.”

“Coba lagi.”

Fiona mengerutkan kening.

“Kau selalu menyuruhku mencoba lagi.”

“Karena kau bisa.”

Fiona menatapnya beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

“Baik.”

Ia kembali berkonsentrasi.

Cahayanya menjadi lebih stabil.

Elarion memperhatikan mereka dari dekat.

Namun tiba-tiba ia berhenti.

Tatapannya beralih ke arah bukit.

Darrien menyadarinya.

“Ada apa?”

“Tidak ada.”

Elarion kembali melihat mereka.

Namun sebenarnya ia merasakan sesuatu.

Dua aura asing.

Sangat kuat.

Dan keduanya sengaja menyembunyikan keberadaan mereka.

Elarion tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menyimpan informasi itu dalam pikirannya.

***

Malamnya, Kevin dan Ace berpindah tempat.

Mereka tidak tinggal terlalu dekat dengan rumah.

Kevin menyiapkan lingkaran sihir kecil di tanah.

Ace memperhatikan.

“Untuk apa?”

“Pengawasan.”

Kevin menyentuh kristal kecil di tengah lingkaran.

Permukaannya menampilkan bayangan samar rumah Elarion.

Ace mengangguk.

“Efisien.”

“Dan tidak terlihat.”

Ace tersenyum.

“Bagus.”

Namun tiba-tiba—

Kristal itu bergetar.

Kevin langsung mengangkat kepalanya.

“Apa?”

“Dia.”

“Apa yang terjadi?”

Kevin menatap bayangan Darrien yang terlihat samar di dalam kristal.

Energi gelap muncul sesaat.

Kemudian menghilang.

Kevin mengerutkan kening.

“Pangeran baru saja menggunakan sihir tanpa sadar.”

Ace menatapnya.

“Berbahaya?”

“Belum.”

Kevin mematikan lingkaran sihir.

“Tapi kekuatannya mulai berkembang.”

Ace menghela napas.

“Berarti waktu kita semakin sedikit.”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

Namun di dalam rumah, Darrien sendiri hanya mengira dirinya terlalu lelah.

Ia duduk di dekat jendela.

Fiona datang membawa dua cangkir minuman hangat.

“Ini.”

Darrien menerimanya.

“Terima kasih.”

Fiona duduk di sampingnya.

“Kau kelihatan lelah.”

“Sedikit.”

“Kau harus istirahat.”

Darrien tersenyum.

“Kau juga.”

Mereka duduk berdampingan dalam keheningan.

Tidak mengetahui bahwa dua orang dari kerajaan mereka sendiri sedang mengawasi dari kejauhan.

Tidak mengetahui bahwa sebuah keluarga kerajaan telah mulai mencari jawaban tentang masa lalu mereka.

Dan tidak mengetahui bahwa, perlahan…

kekuatan Darrien sedang mulai mencapai tingkat yang bahkan Elarion sendiri belum pernah lihat.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience